Dokumen Epstein tidak cuma soal pedofilia & pesta seks, tapi banyak yang terkait dengan keterlibatan Israel dalam pergolakan Timur Tengah.
(1) Dokumen Epstein tentang Qatar
Ada yang menunjukkan bukti konklusif bahwa Zionis bertanggung jawab atas blokade terhadap Qatar pada tahun 2017-2021, bekerja melalui tangan Saudi & Uni Emirat Arab.
Emir Qatar rupanya sejauh ini menolak tunduk sepenuhnya pada Israel. Akibatnya, Qatar diblokade Saudi, UAE, dkk. Qatar hampir dua kali diserbu dalam tiga tahun oleh pasukan Emirat yang datang dari perbatasan Saudi. Qatar juga mengalami pemerasan uang tunai — Pax Judaica adalah pemerasan perlindungan.

Untungnya bagi Qatar, ada beberapa faktor yang bisa melindungi negara tersebut: 1. Emir Qatar dan timnya masih berani dan menyadari bahwa tunduk pada tuntutan Zionis dan Emirat akan menjadi akhir dari Qatar selamanya.
2. Bantuan kuat dari Iran dan Turki. Atas desakan pribadi Jend. Qassem Suleimani (yang kemudian th 2020 gugur dibom AS di Irak), Iran membuka wilayah udaranya, mulai mengirimkan semua makanan, produk susu, dan barang-barang lain yang dibutuhkan, sementara Turki menawarkan perlindungan militer dari upaya invasi UEA.
3. Jalur komunikasi rahasia PM Qatar dengan Menlu AS saat itu, Rex Tillerson. Epstein menggambarkan PM Qatar sebagai sosok yang tidak berpengalaman dan lemah, tetapi ia mampu membuat Tillerson dengan sabar menjelaskan kepada Trump mengapa invasi dan kolonisasi Uni Emirat Arab akan menjadi ide yang buruk. Tahun 2021, blokade berakhir dg perjanjian Saudi-Qatar.
[Bagian di atas diadaptasi dari status Prof Miller @Tracking_Power]
Tapi.. tetap saja, menurut saya Qatar tidak sepenuhnya bersih. Jejak berdarah rezim Qatar mendukung “jihadis” di Suriah, tidak bisa dihapus (dan ini diakui terbuka oleh ex Menlu Qatar, mengaku ikut proyek penggulingan Assad karena dibujuk Saudi) Tapi, lumayan, minimalnya, rezim Qatar sedikit berani melawan, dan saling bantu dengan Iran. Itulah sebabnya, di saat sulit, Iran juga mau bantu.
(2) Dokumen Epstein terkait Suriah.
Sebuah email menunjukkan percakapan antara Jeffrey Epstein (JE) dan Perdana Menteri Israel Ehud Barak (EB) tahun 2013. EB mengirim draft pernyataan/statemen ke Epstein, minta dicek isinya. Lalu jawab JE: “perlu diedit, saya akan telpon dua jam lagi.” Intinya: membahas perlunya dan bagaimana mempercepat kejatuhan Assad.

Poin-poin terpenting di dalamnya:
- Ehud Barak menganggap Rusia sebagai pemain kunci yang tidak dapat diabaikan dalam upaya apa pun untuk mengakhiri perang di Suriah, karena Rusia adalah kekuatan global dengan kepentingan strategis di Timur Tengah, dan memiliki pengaruh langsung terhadap rezim Suriah. Oleh karena itu, ia percaya solusi realistis dimulai dengan meyakinkan Moskow untuk meninggalkan dukungannya kepada Assad sebagai imbalan atas jaminan khusus bagi Rusia di Suriah pasca-rezim, dan kemungkinan mempertahankan kehadiran militernya di pesisir.
- Barak menunjuk pada bahaya jika Rusia menyerahkan sistem pertahanan pantai Bastion kepada tentara Suriah, dan upaya Assad untuk mendapatkan baterai S-300, serta pengawasan Israel terhadap upaya Rusia untuk melindungi asetnya di pangkalan Tartus.
- Barak menekankan bahwa mengakhiri perang harus menjadi tujuan utama, tetapi bukan mengakhiri konflik tanpa Assad meninggalkan kekuasaan [Assad harus jatuh].
- Ehud Barak percaya bahwa Suriah setelah jatuhnya rezim akan menjadi negara gagal, dan mungkin berubah menjadi “Lebanon baru” dalam kondisi terbaik atau “Somalia baru” dalam kondisi terburuk, karena perpecahan internal dan penyebaran kelompok teroris.
- Ehud Barak mengakui bahwa “pemberontak” itu haus darah dan kriminal, namun ia ingin memastikan kejatuhan Assad.
- Daalam konteks mengeksplorasi opsi yang diusulkan untuk menghentikan tragedi tersebut, Barak merujuk pada serangkaian langkah militer dan kemanusiaan yang dapat digunakan jika mencapai solusi diplomatik terbukti sulit, termasuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Suriah, dan membangun “koridor aman” bagi pengungsi di perbatasan Turki dan Yordania.
- Barak menegaskan dalam pesan ini bahwa Israel siap menggunakan kekuatan militer jika perlu, menunjukkan perlunya menghancurkan angkatan udara Suriah dan sistem pertahanan udara rezim sebagai langkah penting dalam mengakhiri konflik.
(3) Dokumen Epstein yang Menunjukkan Al Qaida dan ISIS memang jaringan Mossad Israel
Eks kepala staf CIA di Tel Aviv, Susan Miller mengakui:
– CIA bekerja sama dengan Mossad, dan Al Qaida, dan ISIS untuk menggulingkan Assad. -Itulah sebabnya, media2 AS bergembira saat memberitakan pembunuhan terhadap Qassem Soleimani (komandan IRGC yang berperang melawan ISIS dan Al Qaida di Irak dan Suriah)
-Kini CIA dan Mossad menggunakan ISIS dan Al Qaida melawan Iran (proyek penggulingan rezim di Iran). [video: https://x.com/dina_sulaeman/status/2018522859505860767/video/1]
Dan.. dokumen Epstein mengkonfirmasi bahwa ISIS dan Al Qaida memang bentukan Mossad; atau minimalnya, berjejaring dengan Mossad. Komunikasi email itu terjadi tahun 2016 antara Jeffrey Epstein dan Tom Pritzker (anggota klan Pritzker, keluarga miliarder Yahudi terkemuka di AS; di antaranya menguasai jaringan hotel Hyatt).
[Nama Pritzker disebutkan dalam pernyataan yang diajukan di bawah sumpah oleh Virginia Giuffre – korban perdagangan seks jaringan Jeffrey Epstein. Dia bersaksi dalam pernyataan tersebut bahwa dia pernah dilecehkan secara seksual oleh Pritzker.]
Poin-poin penting dalam email JE dan TP yang menunjukkan -minimalnya- ada koordinasi dan info ‘orang dalam’ antara Al Nusra (Al Qaida) dan ISIS dengan AS & Mossad [karena Epstein sendiri sudah terindikasi kuat sebagai agen Mossad .. ini banyak sekali dibahas di berbagai laporan investigasi].
-JE menulis bahwa Turki memberikan peringatan dini kepada Al Nusra mengenai adalah “rekrutmen Irak.” Kemungkinan besar yang dimaksud rekrutmen pejuang “jihadis” Irak [alumni AQI/ISIS] yang berpindah ke Suriah.
-AS mengizinkan ISIS untuk maju menuju Palmyra di Suriah. Email tsb September 2016, dan pada bulan Desember 2016, ISIS kembali menguasai Palmyra (sebuah kota kuno di Suriah).
TP menyebut bahwa “contoh baik kebijakan AS” adalah penarikan penuh AS dari Irak yang diikuti oleh dukungan pasif terhadap Nouri al-Maliki, dengan alasan hal itu menyebabkan kekerasan sektarian dan membuat ISIS tampak sebagai “alternatif yang rasional.”

Tapi.. jangan lupa, anggota ISIS dan Al Qaida, adalah muslim yang mengira sedang berjihad. Jadi jangan sepenuhnya menyalahkan pihak luar. Kebodohan internal juga musti disembuhkan.
(4) Dokumen Epstein Membahas Uang Libya Pasca Qaddafi Tumbang
Email antara JE dengan seseorang bernama Greg Brown itu tertanggal Juli 2011 (beberapa bulan setelah NATO menyerang Libya, untuk menggulingkan Presiden Libya saat itu, Muammar Gaddafi. Lalu, Okt 2011, Gaddafi dibunuh oleh pemberontak Libya).
Menurut email tersebut, sekitar $80 miliar dana Libya diyakini dibekukan secara internasional, termasuk sekitar $32,4 miliar di AS. Intinya, JE membahas rencana upaya menguasai uang itu. Baca di sini.
CATATAN. Ada yang menyebut bahwa “dokumen Epstein menunjukkan Iran beli senjata dari Israel.” Nah ini hoaks ya. Penjelasannya sudah ada yang menulis, silakan klik ini.

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.