Ada tulisan menarik dari Shivan Mahendrarajah berjudul Khamenei’s Choice [Pilihan Khamenei]. Intinya, dia memetakan apa saja kemungkinan “solusi” konflik Iran-AS.
Pilihan yang dihadapi Ayatollah Khamenei, menurut Shivan, adalah pilihan yang dipaksakan, antara perang atau menyerah, bukan antara perang dan damai.
(1) Menyerah, kata Shivan, tidak akan membawa perdamaian, karena konflik dengan AS dan Israel justru akan berlanjut dan memperburuk kondisi sosial-ekonomi Iran, sebagaimana yang terjadi di Libya dan Suriah.
(2)Negosiasi pun sia-sia karena tuntutan AS bersifat maksimalis dan tidak realistis [antara lain: meminta Iran menghentikan pembuatan rudal.. ya sama saja dengan menyerah dong]. Apalagi, AS selama ini juga seenaknya melanggar kesepakatan [contoh, JCPOA ditandatangani tahun 2015, lalu ditinggalkan begitu saja oleh Trump pada 2018].
Kata Shivan, buat Iran, saat ini bukan lagi masanya “mengelola konflik” melainkan benar-benar maju perang. Karena, kalau situasi sekarang berlanjut, blokade dan sanksi berkepanjangan akan menggerogoti Iran dari dalam. Bagi Iran, AS dan Israel adalah ancaman eksistensial [kalau mereka tidak dilawan habis, Iran yang akan habis].
Menurut Shivan, senjata utama Iran adalah keunggulan strategis dalam perang jangka panjang [posisi geopolitik, cadangan senjata, dll] dan dan keunggulan dalam perang ekonomi, melalui kemampuannya mengguncang pasar energi global dan stabilitas finansial Barat.
Tulis Shivan: jika, secara hipotetis, Iran menghancurkan infrastruktur minyak dan gas Azerbaijan, pasar global akan bergejolak, harga emas dan perak akan melonjak, dan dolar akan jatuh lebih jauh (sudah turun 10%). Lalu.. Teheran akan mencuit, “Hai Donald, Azerbaijan hanyalah hidangan pembuka kami. Selanjutnya dalam menu adalah UEA, lalu Qatar… kecuali Anda mengajukan perdamaian.”
Yang paling menarik dari tulisan Shivan ini, buat saya, adalah bagian ini:
AS-Israel mengemukakan gagasan tentang “serangan terbatas” atau “serangan presisi,” kemungkinan besar maksudnya adalah membunuh para petinggi politik dan militer Iran. Nah, Ayatullah Khamenei berusia 87 tahun; dia pasti telah berdamai dengan Allah dan menunjuk penggantinya. Jenderal-jenderal Iran terbiasa menderita kerugian [penderitaan] besar dalam pertempuran. Sepah [IRGC] & Artesh [tentara nasional] memiliki protokol suksesi yang akan diterapkan—seperti yang terjadi pada 13 Juni 2025. [maksudnya, kalau satu jenderal dibunuh, dengan segera akan ditunjuk penggantinya, dengan kapasitas yang sama atau bahkan lebih mumpuni]
Apa artinya “berdamai dengan Allah”? Saya mendapatkan video rekaman ceramah mendiang Imam Khomeini (menariknya, saya dapat dari channel Telegram Vanessa Beeley, jurnalis asal Inggris yang anti-imperialis AS-Israel, dia bukan Muslim), Imam Khomeini berkata:
“Kalau pun mereka membunuh kita semua, kita mati, apa yang kita takutkan? Kita punya logika sejak awal munculnya Islam: jika kita membunuh para penindas, kita akan masuk surga; tapi jika kita dibunuh oleh para penindas, kita pun akan akan masuk surga, sama sekali tidak ada kerugian buat kita, inilah logika orang yang beriman kepada Allah. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan.” Tapi, di akhir video, Imam Khomeini berkata, “Tapi, tenang saja, hal itu [pembunuhan massal yang diancamkan oleh AS itu] tidak akan terjadi.“
Lalu, saya menemukan video lain, kejadian saat Ayatullah Khamenei (pemimpin tertinggi Iran yang sekarang) diserang bom oleh teroris. Saat itu, beliau menjabat sebagai presiden (artinya: dipilih melalui pemilu) dan sedang memberikan ceramah dalam sholat Jumat di Universitas Tehran, tahun 1985. Terlihat di video, beliau tenang saja, tiga menit kemudian diumumkan (terdengar teriakan di video): “Perhatian.. perhatian..! Presiden Republik Islam Iran akan melanjutkan khutbah!”
Sebelumnya, di tahun 1981, beliau juga diserang bom saat sedang ceramah di Masjid Abuzar Tehran (bom disimpan di mesin perekam yang ditaruh di dekatnya), tangan kanannya terluka dan cacat (makanya kalau lihat di berbagai video, terlihat Ayatullah Khamenei bersalaman, menulis, melambaikan tangan, selalu dengan tangan kiri.
Kayaknya, yang begini ini yang disebut “berdamai dengan Allah.”
