Banyak aktivis feminis liberal “prihatin” bahkan nulis menye-menye soal perempuan Iran, hanya gara-gara ada anjuran berjilbab di ruang publik. Soal perempuan Gaza yang mengalami genosida, mereka cenderung diam atau mungkin komen seadanya. Bagaimana dengan banyaknya perempuan di AS dan Eropa yang dipukuli polisi karena berdemonstrasi menentang genosida Gaza? “Oh, itu oknum, ga perlu ada penggulingan rezim.”
Padahal, ketertindasan perempuan seharusnya diukur bukan dari sisi pakaian, tapi pakai ukuran/indikator yang jelas: kesehatan, tingkat pendidikan, usia menikah, kesempatan bekerja, kesempatan berpolitik, dll. Di PBB ada indeks-indeks yang bisa dipakai, HDI, GII, dll.
Analogi untuk foto ini:

Di Indonesia banyak juga kan aksi demo, ga puas sama kinerja pemerintah, atau, misalnya, tahun 2020 ada unjuk rasa di depan Gedung DPR/MPR RI, Jakarta Pusat, mendesak agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) disahkan. Tapi, apakah demonstran ini maunya presiden digulingkan, mau Pancasila diganti? Enggak kan? Protes ya protes aja, ini hak demokrasi.
Demikianlah situasinya. Memang banyak ketidakpuasan di Iran terhadap pemerintah, harga-harga bahan pokok tambah mahal, sewa rumah, apalagi beli rumah, mahal, cari kerja tambah susah, [mirip ya, dengan di Indonesia?], yang Gen Z juga ogah-ogahan pakai jilbab… dst. Tapi bukan berarti mereka mau pemerintah mereka digulingkan dan diganti dengan rezim boneka-nya AS & Israel ala Shah Pahlevi.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.