Ada artikel di thecradle.co yang memberikan penjelasan mengenai persiapan perang yang sedang dilakukan AS dan Iran. Berikut ini ringkasannya, dibuat dengan bahasa yang disederhanakan. Jika ingin baca versi asli yang lebih detil, linknya ada di bawah.

—-

Sementara media sibuk menampilkan potongan-potongan berita yang cepat berganti, militer justru sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih serius. Radar-radar militer di kawasan Asia Barat menunjukkan bahwa wilayah ini sedang bergerak menuju konfrontasi udara dan laut yang hampir tak terelakkan.

Jika diperhatikan lebih dalam, yang sedang terjadi bukan sekadar manuver biasa, melainkan penyempurnaan sistem perang modern yang sangat kompleks. Dari satu sisi, Amerika Serikat membangun “jembatan udara” dari arah barat. Dari sisi lain, Iran menyelesaikan “perisai udara”-nya di wilayah utara dan tengah. Dua kekuatan ini kini saling berhadapan.

(1) Amerika: menyerang tanpa terlihat

Amerika memperkuat kehadiran militernya dengan mendatangkan jet tempur F-15E yang dilengkapi sistem elektronik canggih bernama EPAWSS. Sistem ini memungkinkan pesawat menipu radar musuh, sehingga bisa masuk jauh ke wilayah Iran tanpa mudah terdeteksi.

Dengan teknologi ini, pesawat Amerika dapat membuat radar Iran “melihat bayangan palsu”, menembakkan rudal ke arah yang salah, dan tanpa sadar menghabiskan persediaan pertahanan mereka sendiri. Tujuan akhirnya adalah membuka jalan untuk serangan cepat dan presisi ke target penting di dalam wilayah Iran.

(2) Iran: menutup semua celah

Iran menyadari ancaman ini dan bergerak cepat. Melalui pembatasan wilayah udara dan peningkatan status siaga militer, Iran menutup jalur-jalur masuk potensial, terutama dari arah utara.

Pangkalan udara penting seperti di Tabriz dan Hamedan kini dijaga ketat. Pangkalan Hamedan, yang menjadi tempat pesawat pembom jarak jauh Iran, diposisikan sebagai pusat serangan balasan jika perang benar-benar pecah.

(3) Pertarungan di udara: bahan bakar vs radar

Amerika menggunakan pesawat pengisi bahan bakar di udara agar jet tempurnya bisa terus terbang berjam-jam tanpa harus mendarat. Dengan cara ini, pesawat tempur AS bisa selalu siap menyerang kapan saja.

Sebagai balasan, Iran membatasi penerbangan sipil di sekitar Teheran dan kota-kota penting lainnya. Langit dibuat “bersih” agar radar militer bisa fokus penuh mendeteksi pesawat asing yang mencoba masuk secara diam-diam.

Foto: rudal Khaibar Shekan yang memiliki jangkauan 1.450 km (artinya, bisa mencapai Israel). Khaibar Shekan artinya “Penghancur Khaibar” – Khaibar adalah nama benteng Yahudi yang ditaklukkan dalam Pertempuran Khaibar pada masa Nabi Muhammad SAW.

(4) Iran menyiapkan skenario terburuk

Iran tidak hanya melindungi ibu kota, tetapi juga menyiapkan rencana cadangan jika Teheran diserang.

-Mashhad disiapkan sebagai pusat cadangan pemerintahan dan simbol politik-religius.

-Yazd dan Kerman dijaga ketat karena menyimpan gudang rudal balistik di pegunungan.

-Pulau Kish diperkuat radarnya untuk memantau pergerakan armada laut Amerika di Teluk.

-Laut Kaspia diamankan sebagai jalur pasokan terakhir jika Teluk Persia dan Selat Hormuz ditutup.

-Wilayah utara seperti Gorgan dan Babolsar diawasi ketat untuk mencegah serangan dari negara tetangga utara.

-Pangkalan Dasht-e Naz disiapkan sebagai pusat komando alternatif jika bandara Teheran lumpuh.

Singkatnya, Iran sedang membangun pertahanan berlapis untuk perang panjang.

(5) Laut ikut memanas

Amerika tidak hanya bergerak di udara. Sebuah kapal perang besar dengan sistem pertahanan canggih dikerahkan ke kawasan. Kapal ini mampu melacak dan mencegat rudal, sekaligus memantau pergerakan militer Iran dari laut.

Di saat yang sama, pesawat serang A-10 disiagakan untuk melindungi pangkalan Amerika dari serangan drone.

(6) Analisis teknis mendalam: perang spektrum

Iran mengunci wilayah Tabriz dan Karaj dengan sistem Bavar-373 dan S-300PMU2, sementara AS masuk membawa “kunci digital” bernama EPAWSS.

a. Rekayasa penipuan vs radar deteksi

EPAWSS bekerja seperti dirigen spektrum elektromagnetik. Ia menangkap gelombang radar Iran lalu memantulkannya kembali dalam bentuk terdistorsi atau tertunda, menciptakan target hantu di layar pertahanan udara.

b. Sensor senyap dan “target bercahaya”

Sementara radar Iran mengandalkan pelacakan aktif, jet AS bertaruh pada sensor pasif—“mendengar napas” radar musuh tanpa memancarkan sinyal.

c. Dua logika yang bertabrakan

Iran mengandalkan kepadatan geografis radar berlapis, sementara CENTCOM bertaruh pada kedaulatan digital EPAWSS yang memberi perlindungan 360 derajat.

(7) Penilaian situasi: distribusi bidak terakhir

Dari jalur penerbangan pesawat angkut C-17 yang membongkar muatan di Yordania dan Qatar, terlihat pusat gravitasi konflik:

-Yordania dan Siprus: basis peluncuran operasi penetrasi elektronik dan misi penyelamatan tempur.

-Hamedan dan Tabriz: benteng penangkal Iran dan titik awal kemungkinan balasan.

Ini bukan lagi perang senjata biasa. Yang sedang terjadi sekarang bukan sekadar adu pesawat dan rudal, tetapi perang elektronik: perang radar, sinyal, frekuensi, dan algoritma.

[8) Kesimpulan sederhana

Semua tanda menunjukkan satu hal: ini bukan lagi sekadar gertakan politik atau latihan militer. AS dan Iran sama-sama sudah berada dalam posisi siap tempur penuh. Langit dan laut dipenuhi pesawat, radar, dan kapal perang. Kawasan ini berada dalam kondisi menunggu satu percikan kecil yang bisa memicu konflik besar.

Ke depan, hanya ada dua kemungkinan:

-Serangan terbatas dan senyap, yang bisa tiba-tiba berubah menjadi perang terbuka.

-Ketegangan panjang, di mana kedua pihak saling mengunci dan melelahkan tanpa tembakan besar, tetapi selalu siap meledak.

Asia Barat kini berada di titik genting. Panggung sudah siap. Tinggal menunggu apakah tirai perang benar-benar akan dibuka.

[Disarikan dari artikel karya Abutalib Albohaya https://thecradle.co/articles-id/35305]

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh

Categories: ,