Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, tiga hari sebelum AS menginvasi dan menculik Maduro, membuat pernyataan: menuduh Iran telah “mengekspor terorisme” ke Venezuela dan “bersekongkol” dengan Maduro. Berikut cuplikan transkripnya:
Netanyahu: Mereka [Iran] ..mengekspor terorisme tidak hanya ke setiap bagian Timur Tengah, tetapi ke Venezuela. Mereka bersekongkol dengan rezim Maduro … mereka ingin Hizbullah dan Hamas membawa orang-orang mereka ke Amerika Serikat, jadi Hamas dan Iran dan proksinya adalah ancaman tidak hanya bagi Israel tapi juga semua sekutu AS di Timur Tengah, dan AS sendiri.
Van Susteren (wartawan) menjawab, “Menlu Marco Rubio telah membicarakan hal ini sejak lama. Hizbullah memang memiliki pijakannya di Venezuela, sudah lama. Ada perdagangan narkoba. Mereka mungkin menggunakan senjata terhadap Israel, tetapi mereka menggunakan narkoba melawan Amerika Serikat.”
Netanyahu menjawab, “Tepat. Yah, saya tidak akan menghilangkan kemungkinan pengiriman senjata dari Iran ke Venezuela, jadi ini harus berubah.”
Pada 5 Januari, politisi AS yang rekam jejaknya sangat dikenal sebagai “makelar perang” (aktif mendorong AS terjun dalam berbagai perang, antara lain Irak dan Ukraina), Lindsey Graham memposting foto ini dan menulis “Semoga Tuhan memberkati dan melindungi rakyat Iran yang pemberani yang sedang melawan tirani.”

Tertulis di topi: MAKE IRAN GREAT AGAIN, mengadaptasi motto Trump “Make America Great Again”, tampaknya merupakan isyarat untuk perubahan rezim di Iran. Foto tersebut muncul di saat Trump terus mengeluarkan ancaman kepada Iran pasca penculikan Maduro.
Benarkah Iran dan Hez terlibat dalam dagang narkoba?
Isu narkoba selama ini sering diproduksi dan diulang-ulang oleh pejabat AS dan sekutunya, untuk menjustifikasi intervensi dan agresi. Kita sudah melihat pola yang sama digunakan terhadap Kolombia, Panama di era Noriega, Afghanistan, dan sekarang Venezuela. Narkoba dijadikan alasan moral universal agar publik membiarkan AS memberi sanksi, melakukan operasi intelijen dan kekerasan lintas batas, kepada siapapun tanpa perlu pembuktian hukum yang jelas.
Iran dan Hez, yang memang berhubungan baik dengan pemerintah Venezuela yang sangat pro-Palestina, juga jadi target: dituduh dagang narkoba. Tapi, sampai hari ini TIDAK PERNAH ADA BUKTI hukum yang terbuka dan bisa diuji publik bahwa Hezsebagai organisasi, atau Iran sebagai negara, menjalankan perdagangan narkoba terorganisir.
Yang ada hanya klaim intelijen sepihak, laporan think tank AS–Israel, dan tuduhan yang sekedar mencocok-cocokkan (asosiasi longgar) berbagai peristiwa. Tidak ada putusan pengadilan internasional, tidak ada dakwaan pidana yang sah, bahkan tidak ada laporan PBB yang secara tegas membuktikan hal itu.
Secara logika pun tuduhan ini terasa dipaksakan. Hezbollah dan Iran adalah aktor yang sangat kuat secara ideologis dan religius. Keduanya berakar pada ajaran Islam Syiah yang secara tegas mengharamkan narkoba dan menjadikan moralitas publik sebagai sumber legitimasi politik.
Sulit diterima secara akal sehat bahwa mereka justru membangun pendanaan sistemik dari perdagangan narkoba, sebuah aktivitas yang bukan hanya haram menurut keyakinan mereka, tetapi juga sangat mudah disusupi, dibongkar, dan dipakai musuh untuk menjatuhkan mereka secara politik. Iran dan Hez punya jalur pendanaan sendiri yang resmi dan formal; buat apa mereka memilih jalur pendanaan paling berisiko dan paling mudah dikriminalisasi seperti dagang narkoba? Dan ingat sekali lagi, tidak ada bukti dari tuduhan tsb.
Atas dasar ini, tuduhan narkoba justru lebih masuk akal jika dibaca sebagai alat propaganda dan fitnah.
Yang sedang terjadi sebenarnya:
– Ada hubungan baik Iran – Hez – Pemerintah Venezuela era Chavez & Maduro
– Ada komunitas diaspora Timur Tengah di Amerika Latin.
– Ada kejahatan narkotika di kawasan itu.
– Ada individu-individu yang kebetulan punya latar belakang Timur Tengah yang terlibat narkoba.
TIDAK LOGIS (falasi) jika fakta-fakta ini disambungkan jadi satu: perdagangan narkoba dilakukan Hezbollah, Iran, dan Venezuela. Ini falasi jenis “guilt by association” (dituduh bersalah karena diasosiasikan / dihubung-hubungan dengan kesalahan pihak lain; fakta-fakta dicocok-cocokkan saja semaunya).
Dalam konteks ini bisa kita lihat bahwa “perang melawan narkoba” dan “perang melawan teror” menjadi bahasa AS dan Israel untuk menormalisasi intervensi, bahkan invasi dan genosida.
Apakah Iran Bisa Di-venezuela-kan?
Kalau merujuk analisis Prof Sami Al Arian (dan saya setuju), “Operasi ala Venezuela jika diterapkan di Teheran hampir pasti akan gagal.”
Iran sudah menunjukkan kemampuannya membalas serangan Israel dan AS dalam 12 hari (13-24 June 2025). Dengan kemampuan militer yang dibangunnya sendiri (tidak bergantung pada suplai dari negara lain), Iran mampu menimbulkan kerusakan serius pada Israel.
Selain itu, posisi Iran sangat menentukan bagi ekonomi global. Selat Hormuz adalah jalur vital perdagangan energi dunia, dimana lebih dari seperempat perdagangan minyak dunia melewati selat ini, dan sekitar seperlima konsumsi minyak serta produk petroleum global bergantung padanya. Gangguan di kawasan ini akan langsung berdampak ke seluruh dunia.
Dari sisi demografi dan geografis, Iran juga tidak mudah ditekan atau diduduki. Iran punya penduduk sekitar 92 juta jiwa dan wilayah seluas kurang lebih 1,6 juta km2 (dua kali lipat Venezuela). Rakyat Iran sudah terbukti sejak 1979 gigih membela sistem pemerintahan (Wilayatul Faqih) mereka. Mereka memang kadang demo memrotes pemerintah, mengeluhkan kesulitan ekonomi, tapi itu aksi wajar di negara demokratis. Justru kalau ada pihak-pihak asing yang menunggangi demo dan melakukan kekerasan, muncul aksi demo balasan yang jauh lebih besar, menyatakan tetap setia pada pemerintahan Islam. Dengan kata lain, mereka teguh mendukung sistem; tapi tetap kritis pada pemerintah (pelaksana/lembaga eksekutif).
Perang 12 Hari di bulan Juni justru membuat mereka semakin nasionalis dan semakin teguh melawan AS dan Israel.
(foto header: kapal perang Iran, buatan dalam negeri)

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.