Pada 20 Maret 2003, Presiden Bush memulai operasi militernya di Irak, dinamai “Operasi Kebebasan Irak,” dan menggulingkan Presiden Saddam Husein. Pada 3 Januari 2026, Presiden Trump menyerbu Venezuela dan menggulingkan Presiden Maduro. Operasinya diberi nama “Operation Southern Spear” (Operasi Tombak Selatan).
Ada kesamaan narasi yang dipakai dalam kedua invasi ilegal itu:
“Saddam Husein ancaman buat AS, dia harus pergi!“
“Maduro ancaman buat AS, dia harus pergi!“
“Kita beri mereka jalan mudah; tapi kalau tidak patuh, kita pakai jalan keras.”
“Ada Al Al Qaida!” [Saddam dituduh pro Al Qaida, padahal tidak; sementara itu, Venezuela memang menjalin hubungan baik dengan pejuang Palestina, Hizbullah, dan Iran, dan inilah yang dituduh sebagai “terorisme” oleh AS]
“KALAU KITA SINGKIRKAN SADDAM – MADURO, ada kesempatan mengubah kawasan.”
“KAMI MEMBAWA DEMOKRASI DAN KEBEBASAN“
(Kalimat-kalimat di atas disampaikan para elit AS, cek di VIDEO ini )
KESAMAAN MOTIF: MINYAK
Berikut ini saya kutip dari tulisan Antonia Juhasz tahun 2013:
Sebelum invasi tahun 2003, industri minyak domestik Irak sepenuhnya dinasionalisasi dan tertutup bagi perusahaan minyak Barat. Satu dekade perang kemudian, sebagian besar telah diprivatisasi dan sepenuhnya didominasi oleh perusahaan asing.
Mulai dari ExxonMobil dan Chevron hingga BP dan Shell, perusahaan minyak terbesar Barat telah mendirikan kantor di Irak. Begitu pula sejumlah perusahaan jasa minyak Amerika, termasuk Halliburton, perusahaan yang berbasis di Texas yang dipimpin Dick Cheney sebelum menjadi calon wakil presiden George W. Bush pada tahun 2000.
Minyak bukanlah satu-satunya tujuan Perang Irak, tetapi tentu saja merupakan tujuan utama, seperti yang telah dibuktikan oleh tokoh-tokoh militer dan politik AS terkemuka di tahun-tahun setelah invasi.
“Tentu saja ini tentang minyak; kita tidak bisa menyangkalnya,” kata Jenderal John Abizaid, mantan kepala Komando Pusat dan Operasi Militer AS di Irak, pada tahun 2007.
Mantan Ketua Federal Reserve Alan Greenspan menulis dalam memoarnya, “Saya sedih karena secara politis tidak nyaman untuk mengakui apa yang semua orang tahu: perang Irak sebagian besar tentang minyak.”
Senator saat itu dan sekarang Menteri Pertahanan Chuck Hagel mengatakan hal yang sama pada tahun 2007: “Orang-orang mengatakan kita tidak berperang untuk minyak. [Padahal], tentu saja kita berperang untuk minyak.”
Untuk pertama kalinya dalam sekitar 30 tahun, perusahaan minyak Barat melakukan eksplorasi dan produksi minyak di Irak dari beberapa ladang minyak terbesar di dunia dan menuai keuntungan yang sangat besar. Dan sementara AS juga mempertahankan tingkat impor minyak Irak yang cukup konsisten sejak invasi, manfaatnya tidak sampai ke ekonomi atau masyarakat Irak.
Hasil ini memang disengaja, hasil dari tekanan pemerintah AS dan perusahaan minyak selama satu dekade. Pada tahun 1998, Kenneth Derr, yang saat itu menjabat sebagai CEO Chevron, mengatakan, “Irak memiliki cadangan minyak dan gas yang sangat besar—cadangan yang saya ingin Chevron dapat akses.” Kini, hal itu memang terjadi.
Pada tahun 2000, perusahaan minyak besar, termasuk Exxon, Chevron, BP, dan Shell, menghabiskan lebih banyak uang untuk membantu sesama pengusaha minyak, Bush dan Cheney, menduduki jabatan presiden daripada yang mereka habiskan untuk pemilihan umum sebelumnya. Hanya lebih dari seminggu setelah masa jabatan pertama Bush dimulai, upaya mereka membuahkan hasil ketika Kelompok Pengembangan Kebijakan Energi Nasional, yang diketuai oleh Cheney, dibentuk, menyatukan pemerintah dan perusahaan minyak untuk merencanakan masa depan energi kolektif AS. Pada bulan Maret, gugus tugas tersebut meninjau daftar dan peta yang menggambarkan seluruh kapasitas produksi minyak Irak.
Perencanaan invasi militer segera dimulai. Menteri Keuangan pertama Bush, Paul O’Neill, mengatakan pada tahun 2004, “Pada bulan Februari (2001), pembicaraan sebagian besar tentang logistik. Bukan tentang mengapa (untuk menginvasi Irak), tetapi tentang bagaimana dan seberapa cepat.”[]
Sementara itu di Venezuela, setelah membombardir kota-kota; dan menculik Presiden Maduro, Trump mengadakan konferensi pers dan berkata:
“Kami akan mendatangkan perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, yang terbesar di dunia, untuk masuk, menghabiskan miliaran dolar, memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, infrastruktur minyak, dan mulai menghasilkan uang bagi negara ini.”
Perusahaan-perusahaan minyak asing (AS/Barat) telah beroperasi di Venezuela selama lebih dari satu abad. Kedekatannya dengan Amerika Serikat menjadikan Venezuela sebagai mitra strategis utama bagi kepentingan AS.
Tetapi setelah Hugo Chavez menjabat pada tahun 1998, ia menasionalisasi semua aset minyak dan menyita aset milik asing. Akibatnya, AS membalasnya dengan embargo ekonomi; investasi asing berkurang; dan juga mismanajemen, produksi perusahaan-perusahaan minyak Venezuela pun turun drastis. Produksi yang ada pun sulit dijual karena embargo AS [AS melarang negara-negara lain membeli minyak Venezuela]. Meskipun negara ini memiliki cadangan minyak terbesar di dunia – diperkirakan mencapai 303 miliar barel (Bbbl) pada tahun 2023 – negara ini hanya memperoleh sebagian kecil pendapatan dari ekspor minyak mentah dibandingkan sebelumnya. sumber.
