Analisis Wacana Kritis atas Pernyataan Trump 29 Desember 2025

Critical Discourse Analysis (Analisis Wacana Kritis – AWK) melihat bahwa bahasa bukan alat yang netral, melainkan sebagai praktik sosial yang mereproduksi, melegitimasi, atau menantang relasi kekuasaan. Menurut Norman Fairclough (1992), wacana adalah “adalah bentuk praktik sosial yang mencerminkan dan membentuk struktur sosial.”

Penjelasan lainnya: wacana bukan sekadar penggunaan bahasa, tetapi merupakan bentuk praktik sosial yang secara aktif berkontribusi pada pembentukan dunia sosial, termasuk identitas sosial, hubungan, sistem pengetahuan, serta kepercayaan.

Dengan kata lain, bahasa tidak hanya mencerminkan realitas, tetapi juga menciptakan realitas politik, keamanan, dan legitimasi. Dalam konteks hubungan internasional, AWK bisa dipakai untuk membongkar klaim moral palsu, menunjukkan kepentingan tersembunyi di balik narasi resmi dan mengungkap siapa berbicara untuk siapa.

AWK terhadap pernyataan-pernyataan TRUMP 29 Des 2025

(1) Iran dikonstruksikan sebagai “awan gelap” (dark cloud) penghalang perdamaian di Timur Tengah.

… jika kita tidak melakukan apa yang kita lakukan terhadap Iran, … Anda tidak akan memiliki perdamaian di Timur Tengah … Anda tidak akan memiliki kesepakatan yang ditandatangani di Timur Tengah. … kita tidak bisa membiarkan mereka [Iran] membangun karena jika mereka membangun, tidak akan ada perdamaian di Timur Tengah

(2) Trump [dalam konteks rencana perdamaian Gaza] mengatakan “We made the plan possible by taking out Iran.”

Ini adalah pengakuan bahwa upaya menundukkan Hamas [adanya gencatan senjata; dilanjutkan dengan pendudukan Israel atas 60% wilayah Gaza] tidak mungkin terjadi jika AS tidak mengebom Iran.

(3) Trump mengakui bahwa Irak dihancurkan demi Israel

And then our country came out and blew up one of those two countries, namely Iraq.

And all of a sudden, Iran had the whole Middle East all to itself

Di sini, Trump secara terbuka mengakui bahwa AS memang menghancurkan Irak dan alasannya sama sekali bukan demokrasi, HAM, atau senjata pemusnah massal, melainkan karena kalkulasi keseimbangan kekuatan regional antara Irak dan Iran. Dan semua itu, demi Israel. Ini sudah ditulis/disampaikan banyak analisis (termasuk Prof Mearsheimer) tapi kini DIAKUI TERBUKA oleh Presiden AS.

(4) Trump mengungkap hal yang sudah banyak diketahui publik: Saudi Arabia sebenarnya menolong AS dalam melindungi Israel. Trump menyebut Abraham Accords sebagai “great achievement” (pencapaian tinggi) lalu menambahkan bahwa Saudi Arabia “has done everything that we can ask for” (Saudi sudah melakukan semua yang kita minta)

(5) Trump memuji Netanyahu, “Without him, Israel wouldn’t exist,” artinya, ia sedang menormalisasi kejahatan yang dilakukan rezim Netanyahu selama ini. Dengan kata lain, Trump seolah berkata, “Kalau Natanyahu tidak melakukan genosida di Gaza, dan pembantaian-pembantaian sebelumnya, Israel sudah bubar.”

Bahkan, lebih lanjut Trump membuka realitas: awal mula Netanyahu ‘naik daun’ adalah sejak Jend. Qasem Soleimani dibunuh oleh AS (atas perintah Trump, Januari tahun 2020).

Saya pikir itu mungkin dimulai dengan Soleimani. Di situlah Anda menyebutkan bahwa hari ini, itu dimulai dengan Soleimani …

Dengan menyebut Soleimani sebagai “starting point” (awal mula kejayaan Netanyahu), Trump mengakui eskalasi perang di Timur Tengah dimulai dari aksi AS membunuh Soleimani.

Dengan demikian, klaim Iran selama ini terbukti bahwa AS secara sadar memicu konfrontasi dengan Iran (dengan membunuh Soleimani) adalah demi melindungi Israel.

(6) Trump memuji eks gembong Al Qaida, Ahmed Al Sharaa, dan Presiden Erdogan

Sekarang dengan Suriah, presiden baru Anda. Saya menghormatinya. Dia pria yang sangat kuat, dan itulah yang Anda butuhkan di Suriah

“Presiden Erdogan-lah yang sangat membantu menyingkirkan penguasa Suriah yang sangat buruk.”

Trump juga berkata, “Jadi, saya berharap Israel – saya yakin bahwa Israel dan dia akan akur. Saya akan mencoba dan membuatnya agar mereka akur, saya pikir mereka akan melakukannya, Bibi, apakah Anda mau menyampaikan sesuatu soal ini?

NETANYAHU menjawab, “Ya, kepentingan kami adalah memiliki perbatasan damai dengan Suriah. Kepentingan kami adalah memiliki, dan kami secara terbuka mengatakannya, kami ingin memastikan bahwa daerah perbatasan tepat di sebelah perbatasan kami aman…

Ini adalah pengakuan terbuka bahwa upaya menggulingkan Bashar al-Assad dilakukan AS melalui tangan Al Qaida, dan dengan bantuan Presiden Erdoğan. Narasi “revolusi rakyat Suriah” runtuh total di sini. Fakta: penggulingan rezim Assad adalah proyek AS untuk mengamankan Israel.

Tentu saja, para pengamat geopolitik anti-Barat & anti Israel sudah lama mengungkap fakta ini, tapi mereka selalu dituduh “propagandist Assad” atau diberi label-label takfiri (kafir, sesat). Kini, Trump mengakui fakta tersebut.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, pernyataan Trump adalah mengungkap realitas bahwa Israel adalah referent object utama kebijakan luar negeri AS. Dengan kata lain: dalam pandangan AS, pihak yang paling penting dijaga keamanannya adalah Israel.

Sebaliknya, Iran selalu diposisikan sebagai ancaman bagi “kestabilan regional” (bukan sekedar musuh Israel) untuk membenarkan intervensi berkepanjangan AS di Timur Tengah. “Perdamaian” dalam kaca mata AS adalah stabilitas kolonial yang bisa dicapai setelah mengeliminasi musuh-musuh Israel. Agenda regime change AS (sudah berhasil di Irak dan Suriah; masih terus diupayakan di Iran dan Yaman) adalah demi keamanan Israel, bukan demokrasi atau HAM.

Dengan demikian, realitasnya sama [sudah disampaikan belasan tahun oleh para pengamat geopolitik maupun pemerintah Iran], tetapi status wacananya berubah:

Dulu: diucapkan oleh Iran / pengamat geopolitik anti-AS-Israel → disebut konspirasi

Sekarang: diucapkan Presiden AS → menjadi pengakuan sejarah

Transcript pernyataan Trump & Netanyahu bisa cek di sini

Yang mau tahu lebih dalam soal konflik Suriah (bagaimana peran AS, Israel, Al Qaida, ISIS) bisa baca e-book saya (gratis) di www.ic-mes.org/e-book

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh