Lagi-lagi, media sedunia (termasuk Indonesia) ramai memberitakan soal aksi demonstrasi massa di Iran. Situasi digambarkan sedemikian chaos. “Rezim” digambarkan melakukan kekerasan brutal. Trump bahkan sampai menulis di medsosnya pada 2 Januari 2025,

“Jika Iran menembak dan membunuh pengunjuk rasa damai dengan kekerasan, yang merupakan kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menyelamatkan mereka. Kami terkunci dan dimuat dan siap untuk pergi. Terima kasih atas perhatianmu terhadap masalah ini!”

Mike Pompeo eks-direktur Badan Intelijen Pusat (CIA) tahun 2017-2018, dan eks-Menlu AS era Trump tahun 2018-2021, menulis: rezim Iran dalam kesulitan; membawa pasukan bayaran adalah harapan terakhirnya. Kerusuhan terjadi di berbagai kota.. Selamat tahun baru kepada semua orang Iran di jalanan, juga kepada semua agen Mossad yang berjalan bersama mereka.

Jerusalem Post (media Israel) merilis berita berisi Mossad telah membuat pesan yang tidak biasa, dalam bahasa Farsi, yang menyatakan bahwa mereka (Mossad) bersama dengan para demonstran di jalanan.


Sebenarnya ini entah kejadian yang keberapa kalinya, sudah sangat sering, puluhan tahun pola yang sama terulang-ulang: ada aksi demo, lalu AS dan Israel berisik, media sedunia ikut mengompori: “rezim Iran akan tumbang.”

Karena berulang, penjelasannya juga berulang ya:

-Masalah ekonomi memang ada, harga-harga bahan pokok naik, bensin naik, dll. Sebagian besar kesulitan ini akibat embargo (Iran tidak leluasa menjual gas, minyak, dan produk-produk industrinya di pasar internasional; karena negara-negara lain takut membeli, takut di-sanksi oleh AS). Tapi.. pemerintah Iran juga punya andil kesalahan.

Ini yang dikatakan oleh Pemimpin Spiritual Iran, Ayatullah Khamenei, “Kalau tidak ada luka di tubuh tentu tidak ada lalat yang mendekat.” Artinya, musuh memanfaatkan situasi yang memang riil ada; sehingga seharusnya pemerintah Iran mencari solusi dan menganangi pengelolaan negara dengan lebih baik.

Nahid Poureisa (pengamat, penulis analisis geopolitik Iran) di akun X-nya menjelaskan bahwa memang ada aksi-aksi demo memprotes kesulitan ekonomi; memprotes pemerintah yang gagal menyelesaikan masalah ekonomi (Nahid juga ikut demo); tapi mereka berdemo di bawah bendera Iran dan sedang menjalankan hak kebebasan bersuara di Iran.

Tapi.. ada kelompok lain yang juga turun ke jalan dengan melakukan kekerasan, membakar, menghancurkan properti warga. Menurut Nahid, mereka sedang berusaha membuka jalan untuk musuh. Konteksnya adalah kekalahan Israel dalam 12 hari; Israel sangat ingin menyerang Iran lagi, dan saat ini berusaha memanfaatkan kesulitan ekonomi (yang disebabkan oleh embargo dari AS) untuk melemahkan Iran dari dalam.

Ini penjelasan udah “basi” memang.. tapi pola AS dan Israel juga sudah sangat basi, sudah sejak tahun 1980-an. Kalau mau baca paper akademik, ada paper dari Brooking Institution yang memang merekomendasikan memicu aksi-aksi demo di dalam negeri supaya terjadi penggulingan rezim di Iran.

Sebenarnya sederhana: aksi demo protes ekonomi dan memprotes pemerintah terjadi di mana-mana, bahkan termasuk di AS dan Eropa. Bahkan di AS dan Eropa polisi-polisinya sangat galak, merepresi para demonstran.

Tapi mengapa di Iran solusinya seolah harus “penggulingan rezim”?


Foto di header bukan demo, tapi masyarakat Iran ramai-ramai turun ke jalan mengenang syahidnya Jend Qasem Soleimani, 2 Januari 2026 (sumber: ABNA)

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh