Tahun 2020, menyusul dibunuhnya Jend Qassem Soleimani oleh militer AS di Irak [saat itu QS dtg ke Irak atas undangan resmi pemerintah Irak, jadi statusnya diplomat/utusan Iran, mnrt hukum internasional, wajib dilindungi], parlemen Irak memutuskan agar militer AS diusir dari Irak.

Militer AS datang ke Irak th 2014 dg alasan mau melawan ISIS, tp buktinya, yg bnr2 perang lawan ISIS adalah milisi2 sukarelawan Irak sendiri (orang Muslim Sunni&Syiah) yang tergabung dalam “Popular Mobilization Forces” (PMF).

Setelah ISIS kalah, gantian tentara AS mengebomi markas milisi2 Irak. Puncaknya, Jenderal QS, tokoh yg membentuk & melatih milisi2 tsb, malah dibunuh oleh AS atas perintah Trump (ini diakui terbuka oleh Trump).

[Thn 2018, PMF resmi bergabung dg militer Irak]

Tapi, knp sampai th. 2024 AS belum angkat kaki juga dari Irak? Karena, Irak sendiri ga solid, masih ada elit yg diuntungkan oleh kehadiran AS. Contohnya, elit Kurdistan Irak yg memfasilitasi Mossad bikin markas di wilayahnya (untuk pusat operasi teror terhadap Iran). Konsulat AS juga ada di Erbil.

Januari 2024, pasca aksi teror di kota Kerman Iran, Iran pun mengebom markas Mossad di Erbil itu sbg serangan balasan.

Elit Kurdistan Irak ini pernah menyatakan bikin negara sendiri, tp yg mengakui cuma Israel. Akhirnya, mrk balik lg gabung dg Irak, tp tetap jadi proksi AS & Israel.

Sejak Oktober 2023, milisi2 yang sama (dinamai Islamic Resistance in Iraq) menyerang pangkalan AS di Irak, Suriah, Jordan, juga wilayah Israel (dg rudal & drone tempur) dalam rangka membantu perjuangan resistensi (muqawamah) Palestina.

#AxisOfResistance

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh