https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1198138708214069

Video ini mirip dengan bom Zionis di Gaza, tapi itu terjadi di Yaman (video lama, bukan baru-baru ini). Sejak Maret 2015, Yaman dibombardir oleh Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan sejumlah anggota koalisi. Bom dan pesawat tempur, disuplai AS dan Inggris.

Kemarin, bangsa Yaman memperingati 9 tahun agresi Saudi itu. Menurut pemimpin gerakan perlawanan Ansarullah Yaman, agresi Saudi itu adalah bagian dari strategi geopolitik yang dilakukan AS dan Inggris untuk “membentuk kembali” (reshaping) peta regional demi kepentingan Israel. Menlu Saudi dulu di 2015 mengaku bahwa ada penasehat-penasehat militer AS di ruang komando perang Saudi.

Tahun 2015, Presiden interim Yaman, Mansour Hadi, mundur lalu kabur ke Saudi (sehingga ada vacuum of power), berbagai faksi di Yaman bersama-sama membentuk pemerintahan baru, yang disebut National Salvation Government (NSG)

Faksi terkuat di NSG adalah Ansharullah yang dipimpin Abdul Malik Al Houthi. Houthi adalah nama fam/klan, jadi, menyebut pemerintahan Yaman saat ini sebagai “Houthi” tidak tepat. NSG terdiri dari berbagai faksi dan lintas mazhab. Cek saja nama presiden & menteri-menterinya, kebanyakan bukan “Al Houthi.”

Akibat serangan Saudi cs, kematian atau cedera lebih dari 50.000 warga sipil, sebagian besar perempuan dan anak-anak; Yaman juga mengalami wabah kelaparan dan kolera. Sekitar 4,5 juta orang (14% dari populasi) menjadi pengungsi internal. Yaman juga menjadi negara termiskin di Dunia Arab.

Namun, ketahanan bangsa Yaman sangat luar biasa. Mereka mampu bertahan dan tidak bisa ditundukkan meski diperangi negara-negara kaya raya Arab (plus AS dan Inggris).

Agresi Saudi ke Yaman berlangsung dari 2015-2023 (berhenti seiring perubahan geopolitik global, dimulai dari perang Rus-Ukr, berbaikannya Liga Arab dengan Suriah, normalisasi Iran-Saudi). Tapi, meski PBB teriak-teriak bahwa yang terjadi di Yaman adalah “krisis kemanusiaan terburuk di dunia”, tak banyak yang peduli.

Apalagi sesama Muslim. Alasannya mudah ditebak: karena agresornya Arab Saudi, sementara korbannya karena sebagiannya Syiah, mereka dianggap “wajar saja” dibantai. Orang sesat, miskin, pemberontak, ya biarin ajalah mati, begitu pikiran banyak orang yang terpesona oleh ke-glowing-an monarki Saudi.

Tapi kini, dunia melihat, mereka yang diabaikan itu justru maju dengan gagah berani menghalangi kapal-kapal yang mau melewati Laut Merah untuk menuju Israel. Tujuannya, menghalangi logistik Israel. Yaman menyatakan, blokade akan berlanjut sampai genosida di Gaza dihentikan Israel. Mereka pun menerima resikonya: Yaman kembali dibombardir, kini oleh AS dan Inggris (Saudi menolak bergabung dengan AS).

Sementara itu, negara-negara monarkhi Arab yang kaya raya, cuma berani memberi bantuan kemanusiaan (pangan, rekonstruksi). Bahkan, jalur distribusi logistik yang macet di Laut Merah, kini dialihkan ke jalur darat UAE-Saudi-Jordan-Israel. [1]

Ketika bangsa pemberani Yaman sudah berkorban sedemikian besar, eh, para fans monarkhi Arab tetap saja berkata “ah itu cuma gimmick” atau “Houthi cari panggung aja” [contoh: narsum-nya podcast Arie Untung].

Pelajaran: menganalisis geopolitik kalau didasari kebencian mazhab memang selalu bikin otak konsleting.

[1]https://www.youtube.com/watch?v=yVblxgaGmVw

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh