Ya, ISIS mengklaim bahwa merekalah yang melakukan aksi teror yang membunuh puluhan orang peziarah yang sedang berjalan menuju makam Jend. Qassem Soleimani, pahlawan Iran yang gugur 3 Januari 2020, dibunuh AS.

Tapi, pernyataan itu dirilis 30 jam setelah kejadian dan dimuat di media “resmi” ISIS, dengan memuat dua foto teroris ISIS dengan wajah diblur (padahal mereka juga pakai topeng).

Ada beberapa keanehan dari pernyataan ISIS ini (saya copy dari media Iran, @Tasnimnews_Fa ):

1. Selama ini, ISIS tidak pernah menggunakan istilah “Iran” dalam pernyataannya, biasanya menyebut Iran dengan “provinsi Persia” atau “provinsi Khorasan” (ini berkonotasi kebencian, biasa dipakai kaum takfiri – yang suka mengkafirkan pihak lain yang tak seideologi dengannya)

2. Foto teroris itu diblur, biasanya tidak demikian.

[Kan sudah “syahid” – menurut mereka, kenapa pula diblur? Biasanya foto teroris bahkan disebar lalu dielu-elukan para fansya ‘tersenyum’ atau ‘wangi’.. ya kan..? Orang Indonesia pasti hafal dengan kelakuan para fans teroris.]

3. Pernyataan ISIS bertanggung jawab atas suatu operasi teror biasanya langsung dipublikasikan segera setelah aksi, tapi kali ini dirilis setelah 30 jam berlalu.

Biasanya, ISIS melakukan operasi adalah dengan mengancam terlebih dahulu, kemudian mengeluarkan “fatwa,” kemudian melakukan operasi dan segera mengeluarkan pernyataan menerima tanggung jawab atas operasi tersebut.

Kali ini: aksi teroris dilakukan terlebih dahulu, kemudian fatwa, ancaman, dan pernyataan bertanggung jawab menyusul 30 jam kemudian.

4. Gaya bahasa politik dari pernyataan ini, sangat berbeda dengan gaya bahasa ISIS sebelumnya. Ini memnuculkan dugaan kuat bahwa pembuat statemen itu bukan orang ISIS.

Kesimpulan (dari Tasnim News): aksi teroris di Kerman dilakukan oleh agen Mossad sedangkan ISIS hanya ditugaskan membuat statemen.

Komen saya:

Kejanggalan yang disebutkan di atas, menurut saya cocok dengan apa yang saya tuliskan sebelumnya.

1. Pernyataan Jubir Dewan Keamanan Nasional AS yang berusaha menekankan bahwa AS dan Israel tidak ada kaitan dengan aksi-aksi teror di Beirut dan Laebanon, Ini mengindikasikan kekhawatiran AS bahwa perang akan meluas.

2. Poin (1) itu muncul karena AS sudah tahu tujuan Israel melakukan aksi teror yang membunuh tokoh Hamas dan Iran adalah untuk menyeret AS dalam perang regional (dan AS tidak mau).

Intinya: Israel mau cuci tangan dan meminta anak buahnya, yaitu ISIS, untuk membuat statemen “bertanggung jawab”. Darimana kita tahu bahwa ISIS adalah pelayan Israel? Lihat gambar.

Untuk jelasnya, poin (1) dan (2) , silakan baca tulisan saya sebelumnya:

(1) https://twitter.com/dina_sulaeman/status/1742876444244820059

(2) https://twitter.com/dina_sulaeman/status/1742757812688798121

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh