
Kaum perempuan pembaca tulisan ini, hampir pasti bukan orang Palestina. Hampir pasti, kaum perempuan pembaca tulisan ini, tidak mengalami apa yang sedang dialami oleh perempuan di Gaza sejak 76 hari terakhir (dihitung dari 8 Oktober-22 Desember).
Tetapi sebagai sesama perempuan, pastilah bisa memahami apa yang terjadi dalam tubuh perempuan secara biologis, yaitu apa yang terjadi saat menstruasi, Jika pernah melahirkan, bisa memahami, apa yang terjadi di masa hamil dan melahirkan.
Video ini sudah beredar sejak sekitar 7 November (48 hari yll, sehingga kondisi Gaza hari ini JAUH LEBIH BURUK) dijelaskan bagaimana kaum perempuan Gaza kesulitan menjalani masa menstruasi. Tidak ada toilet yang cukup, air sangat minim.
NGO ActionAid melaporkan, hanya ada sedikit air untuk mencuci dan beberapa tempat penampungan hanya memiliki satu pancuran untuk setiap 700 orang dan satu toilet untuk setiap 150 orang.
Pembalut juga sulit didapat. Mereka terpaksa menggunting baju atau kain untuk dijadikan pembalut. Sebagian mereka terpaksa minum pil KB untuk menghambat datangnya menstruasi.
Laporan PBB tanggal 25 Oktober (ingat, sekarang 22 Desember, RS yang berfungsi di Gaza tinggal 9, itupun “berfungsi secara parsial):
“…Jika Israel terus memblokir bantuan kemanusiaan termasuk peralatan melahirkan yang aman untuk memasuki Gaza, banyak dari sekitar 50.000 wanita hamil di Gaza tidak akan memiliki tempat yang aman untuk melahirkan, dan setidaknya 15% kemungkinan akan mengalami komplikasi… Jika ibu hamil cukup beruntung untuk mencapai pusat kesehatan atau rumah sakit, mereka hanya diterima ketika dilatasinya sudah lengkap. Dan mereka harus meninggalkan rumah sakit dalam waktu tiga jam setelah melahirkan, karena terlalu padatnya fasilitas rumah sakit, kurangnya ruang dan sumber daya.” [1]
Saatnya kaum perempuan (apapun agama, ras, bangsanya) melakukan sesuatu untuk sesama perempuan. Ada 4 cara: pertama, terus bersuara di media sosial agar isu Palestina tidak terlupakan; yang diinginkan oleh AS & Israel adalah publik segera melupakan nasib Palestina. Sekedar sharing postingan pun cukup berguna (“sharing increases ranking”).
Kedua, kita memilih produk yang kita beli, jangan membeli produk yang terbukti memberikan sebagian profitnya untuk Israel. Boikot ekonomi pernah berhasil di tahun 1990-an dalam menumbangkan rezim apartheid di Afrika Selatan sehingga di sana bisa berdiri pemerintahan demokratis yang menegakkan hak-hak kaum kulit hitam.
Ketiga, kita juga bisa berdonasi karena faktanya, ada 2,3 juta orang di Gaza yang butuh bantuan logistik dan hitungan harinya pun tak bisa diprediksi (tentu, musti hati-hati pilih lembaganya, jangan sampai ketipu.)
Dan yang keempat, yang termudah: kita BERDOA. Doa adalah senjata kaum tertindas. Semoga Allah SWT menolong kaum perempuan (dan semua warga) Gaza.
Selamat hari Ibu.
—
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.