
Tanggal 22 Desember adalah “Hari Ibu” di Indonesia; kalau “Hari Perempuan Internasional” itu tanggal 8 Maret. Tapi spiritnya sama: empowering perempuan; perempuan perlu berjuang untuk menjadi manusia yang tangguh dan berdaya. Dalam perjuangan ini, ada solidaritas dan upaya saling membantu.
Namun sayangnya, gerakan feminis-liberal seolah diam dalam menghadapi genosida di Gaza dimana korban terbesarnya adalah perempuan dan anak. Kalaupun ada yang bersuara -yang saya dapati- adalah menyurakan sentimen/ketidaksukaan pada pejuang Palestina yang seolah “Islam” (dan menurut mereka identik dengan “penindasan perempuan”). Bahkan ada feminis yang berkata, “Kalau Palestina merdeka pun, perempuannya belum akan merdeka.”
Perjuangan di Palestina melibatkan banyak ideologi (ada Islam, Kristen, nasionalis, sosialis) tapi dengan tujuan yang sama, yaitu kemerdekaan. Kaum perempuan pun terlibat aktif.
Pernah saya mengutip artikel jurnal akademik, yang meneliti bahwa peran perempuan di Palestina adalah “menyiapkan syuhada (martyr)”, ada tuh the so called feminist yang ga suka. Padahal, ini kan konsekuensi logis dari penjajahan. Karena bangsa Palestina terjajah, pastilah muncul perlawanan. Mereka yang jadi pejuang, pastilah terlahir dari ibu-ibu tangguh yang menyiapkan ketangguhan anak-anaknya. Kenapa musti alergi dengan kondisi ini?
Di foto ini, pejuang perempuan Palestina, yang selain berjuang lewat edukasi, ketika diperlukan, ya ikut angkat senjata juga. Namanya Shadia Abu Ghazaleh. Ia lahir di Nablus (Tepi Barat) pada tanggal 8 Januari 1948 (5 bulan sebelum “Israel” dideklarasikan).
Di usia 16 tahun (tahun 1964) ia sudah bergabung dengan gerakan perjuangan,yaitu Gerakan Nasionalis Arab pimpinan George Habash (seorang dokter, Kristen).
Shadia sempat kuliah di Universitas Ein Shams di Kairo lalu kembali ke Nablus setelah Perang Enam Hari tahun 1967. Perang tersebut membuat Tepi Barat diduduki oleh Israel (sampai hari ini, status Tepi Barat adalah “wilayah Palestina yang diduduki” – occupied Palestine territory).
Shadia kemudian bergabung dengan Front Populer untuk Pembebasan Palestina (PFLP – didirikan pada 11 Desember 1967 oleh Gerakan Nasionalis Arab).
Ia ditugasi mengorganisir dan memimpin unit militer perempuan dan merupakan salah satu perempuan Palestina pertama yang berpartisipasi dalam perlawanan militer pasca 1967. Dia juga mendidik kaum perempuan Palestina mengenai politik dan revousi.
Namun sayang, usianya amat singkat. Tahun 1968 (usia 20 tahun), Shadia gugur dalam ledakan bom, saat ia sedang bersiap melakukan serangan kepada militer Zionis.
Di Gaza, ada dua sekolah yang melekatkan namanya, yaitu Sekolah Putri Shadia Abu Ghazaleh dan Sekolah Menengah Putra Shadia Abu Ghazaleh di Jabalia.
Pada 13 Desember 2023, serdadu Israel menyerang masuk ke sekolah Shadia Abu Ghazaleh di Jabalia; mereka menembaki orang-orang yang sedang berlindung (mengungsi) di sekolah itu. Minimalnya, 9 orang gugur, termasuk anak-anak. [1]
—
[1] https://www.trtworld.com/…/gaza-grandfather-describes…
[2] CATATAN: tidak ada yang salah dengan perjuangan bersenjata melawan penjajah. RESOLUSI MAJELIS UMUM PBB no. 3314 tahun 1974 & tahun no 37/43 tahun 1982 (BANGSA TERJAJAH BERHAK UNTUK MELAWAN DENGAN CARA APAPUN TERMASUK DENGAN PERJUANGAN BERSENJATA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.