Kemarin, saat saya sarapan di sebuah hotel, tersedia zaitun dua warna, hijau dan hitam. Saya memakannya dengan perasaan campur aduk. Sejak 7 Oktober, memang pikiran dan energi saya terkooptasi oleh Palestina. Tapi saya bandingkan dengan banyak orang lain, sebenarnya saya tidak seberapa. Saya masih bisa tidur nyenyak. Ada blogger, orang bule, ahli IT, yang menulis betapa desperate-nya ia mengikuti kisah genosida di Gaza. Judul tulisannya “I can’t sleep.”

Tulisannya sangat menyentuh, tetapi juga memberdayakan, dia menyarankan sejumlah hal yang bisa dilakukan publik. Bisa dibaca di sini: https://blog.paulbiggar.com/i-cant-sleep/

Pagi ini menatap zaitun di piring saya (foto 1), saya teringat pada kisah para petani zaitun di Palestina. Saya pemerhati Timur Tengah & juga pertanian. Salah satu mata kuliah yang saya ampu adalah “Keamanan&Kedaulatan Pangan.” Kisah para petani di Palestina sering mengusik pikiran saya. Kisah cinta pada tanah dan pohon zaitun.

Saya copas tweet saya April 2022.

Foto-2 adlh prp Palestina yg m’meluk pohon zaitun yg dibuldoser Israel. K’jahatan itu srg dlakukan Israel. Petani brnama Nassar, b’kata sedih,“Mngapa mrk m’hancurkannya? Sy m’besarkan pohon2 itu spt sy m’besarkan anak2 sy sdiri.”

Foto 3: terlihat petani Palestina b’usaha m’nanamkan lagi pohon zaitun yg dicabut tentara Israel. Ini kejadian Januari 2021. Ketika itu, buldoser militer Israel m’hancurkan 2 hektar lahan pertanian&puluhan pohon zaitun di Hebron, Tepi Barat.

Sepanjang tahun 2020, lebih dari 8.400 pohon zaitun dicabut atau dibakar Israel. Data Okt-Nov 2021, ada 794 pohon zaitun dicabut, 1040 pohon ditebang atau dirusak, 201 pohon dibakar, dan panen dari 1821 pohon dicuri oleh pemukim Israel

Israel memberlakukan aturan: petani Palestina harus minta izin dulu sebelum ke kebun mereka. Izin hanya diberikan dua kali setahun (di musim semi dan musim gugur), itupun cuma beberapa hari, shingga tdk ckp wkt utk m’nyelesaikan pekerjaan mrk.

Foto 4: petani zaitun sedang memanen zaitunnya, tak jauh dari tembok pemisah yang dibangun Zionis, tembok itu mencaplok tanah para petani, memisahkan sebagian petani dengan tanah mereka di balik tembok.

Kisah petani zaitun Palestina adalah kisah cinta pd tanah air; kisah perlawanan yg tak pernah surut. Mrk tegar menjaga pohon2, memanen, dan mengolahnya, meski buldoser terus m’ancam. Dari mrk kita bs belajar soal resistensi&sikap pantang menyerah.

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh