
Pelaku di lapangan memang Israel, tapi jika kita lihat siapa yang sesungguhnya mendanai, menyediakan senjata, dan meraup untung, maka pelaku utamanya adalah rezim AS.
Maj. General Yitzhak Brick, pensiunan tentara Zionis, tapi kini menjadi penasehat militer dalam perang Gaza, mengatakan:
“Semua rudal kita, amunisi, bom berpemandu presisi, semua pesawat terbang dan bom, semuanya berasal dari AS. Begitu mereka mematikan keran, kita tidak bisa lagi berperang. Kita tidak memiliki kemampuan. … Semua orang memahami bahwa kita tidak dapat berperang tanpa AS. Titik.”
Apa saja bom/senjata2 yang dikirim AS ke Israel? antara lain, seri Mark 80 dan BLU-109, buatan General Dynamics. Ketika seri Mark 80 dilengkapi dengan peralatan presisi, bom ini mendapat nama baru. Misal, Mk 84 yang beratnya 900 kg, dikasih nama GBU-31
BLU-109 juga bom dengan berat nyaris 1 ton. Mk 84 adalah bom “serba guna” sedang BLU-109 adalah penghancur bunker; dirancang untuk menghancurkan struktur bawah tanah.
Israel juga menggunakan bom berdiameter kecil. Ini dibuat oleh Boeing, yaitu GBU-39, beratnya 113 kg.
Harga Mk 84 per unit $16.000; BLU-109 $20.000. Pikirkan dikali berapa unit selama perang 2 bulan ini. Yang jelas dalam 2 bulan ini, perusahaan2 produsen bom dan amunisi tank di AS sudah meraup $740 juta.
Jadi, 24.142 warga Palestina yang telah gugur + 48.901 yang cacat/luka2 (data 11 Des), telah memberi untung besar pada industri senjata AS.
Rincian soal senjata/bom AS yang dipakai Israel bisa dibaca di utas ini: https://twitter.com/propandco/status/1734690503516455246
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.