
Di tulisan sebelumnya, saya mengutip “kekhawatiran” seorang feminis, yang menuduh perempuan di Palestina tertindas karena dipimpin oleh “organisasi Islam.”
Hari ini, saya cek, sedang trending di twitte tagar “Indonistan” … ternyata akun-akun Zionis lokal sedang memainkan tuduhan bahwa pembela Palestina adalah pendukung ekstremisme ala ISIS atau Taliban. Ini senada dengan PM Israel Netanyahu yang menyebut Hamas itu sama dengan ISIS. Rupanya kaum zionis lokal itu pemuja penjahat perang Netanyahu. Sama sekali tidak peduli pada amanah UUD 1945 dan pesan Bapak Bangsa kita, Sukarno, soal Palestina.
Kalau kita baca data, jelas, situasi di Gaza jauh beda dengan wilayah di Irak atau Suriah yang dulu pernah diduduki ISIS, atau Afghanistan. Di Gaza, kaum perempuan mendapatkan pendidikan yang baik. Di tengah kehidupan yang sulit dan bombardir Israel yang dilakukan secara berkala, tingkat literasi perempuan Gaza 93%, laki-laki 98%.
Anak-anak muda (perempuan & laki-laki) di Gaza beraktivitas bebas seperti anak muda lain di dunia: kuliah, bermusik, membuat film, jadi dokter, ahli IT, youtuber, dll. Ada sebuah novel berbasis riset yang menceritakan kehidupan sehari-hari para pemuda Gaza, judulnya “Sketsa Gaza,” baca deh.
Di berbagai video dari Gaza sejak 7 Oktober, kita juga melihat bahwa di Gaza ada dokter dan paramedis perempuan; artinya, tidak ada halangan bagi perempuan Gaza untuk kuliah dan menjadi dokter.
Di video ini, saya kompilasi jurnalis-jurnalis perempuan di Gaza. Ada yang berjilbab, ada yang tidak. Mereka berinteraksi biasa saja dengan rekan pria mereka.
Jadi, BUAT YANG MAU MIKIR: jelas beda antara situasi di Gaza dengan wilayah yang dikuasai ISIS. Dan pejuang Palestina (ada banyak: Hamas, PIJ, PFLP, PRC, dll), BUKANLAH teroris. Perlawanan bersenjata bangsa yang sedang DIJAJAH itu SAH dan diakui hukum internasional (cek Res PBB no 37/43 tahun 1982).
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.