
Dalam kesepakatan antara pejuang Palestina & rezim Zionis (diumumkan 22 Nov 2023), akan dilakukan tukar-menukar tawanan: 50 wanita & anak di bawah usia 19 tahun Israel akan ditukar dengan 150 perempuan dan anak di bawah usia 19 tahun Palestina.
Mengapa perempuan? Saya jadi ingat, dalam sebuah webinar tentang Palestina, seorang feminis berkata, “Kalau Palestina merdeka, kaum perempuan di sana belum akan meraih kemerdekaannya, sekarang pun mereka menderita!” Dia berkata demikian, merujuk pada “Hamas” (di benaknya, karena Hamas “Islam radikal” maka pasti menindas perempuan).
Saya pikir, dia ini memang kurang info (tapi sok tau, dan agak Islamofobic). Dalam perjanjian tukar-menukar tawanan ini, justru terlihat bahwa para pejuang Palestina mendahulukan penyelamatan PEREMPUAN.
Ada 2 poin yang ingin saya sampaikan:
1. kondisi perempuan Palestina (di Gaza dan Tepi Barat) SANGAT menderita, bukan karena Hamas, Jihad Islam, atau gerakan perlawanan lain; tapi karena penjajahan ISRAEL. Saat ini ada 300 perempuan & anak-anak Palestina yang ditawan dalam penjara Zionis.
2. kondisi de facto di Gaza, dimana Hamas menjadi kekuatan politik dominan di sana, tidak menindas perempuan [ini akan saya ceritakan di bagian 2]
Saya ingin menceritakan kisah 3 perempuan Palestina ini.
[Foto 1-kiri] Anhar Al Deek adalah seorang ibu muda (25 tahun), cantik, punya dua anak kecil. Pada bulan Maret 2021, dalam kondisi hamil 4 bulan, dan punya bayi usia setahunan, dia pergi ke perkebunan milik keluarganya di Ramallah. Di atas tanah itu, ada lebih dari selusin pemukim ilegal Israel sedang membangun rumah (inilah yang dihadapi warga Palestina di Tepi Barat, tanah mereka bisa dirampas semaunya orang-orang Israel yang sengaja didatangkan berbagai dari penjuru dunia).
Israel menuduh Anhar mau menyerang para pemukim ilegal itu dengan pisau. Bayangkan: Anhar perempuan, dituduh mau menyerang lusinan lelaki perampas tanah keluarganya dengan pisau, dan dia yang dipenjara.
Kondisi di penjara sangat buruk; begitu pula perlakuan yang dialami Anhar, antara lain diborgol, dipukul, dan tidur di alas yang keras. Penahanan, pemenjaraan, dan perlakuan buruk terhadap wanita hamil merupakan pelanggaran hukum humaniter internasional, khususnya Pasal 76 Protokol Tambahan Konvensi Jenewa 12 Agustus 1949, yang mensyaratkan bahwa wanita hamil yang ditahan dan ibu yang memiliki bayi seharusnya mendapatkan pertimbangan khusus.
Aktivis perdamaian dan netizen bersama-sama melakukan kampanye di medsos, menekan Israel agar membebaskan Anhar. Sebagian warga Palestina dan warga Israel pro-Palestina juga berdemo di Gaza, Haifa, dan Tepi Barat, menuntut pembebasan Anhar.
Besarnya tekanan membuat Israel mau melepas Anhar, tapi dengan status tahanan rumah dan membayar uang 12.000 USD. Anhar sudah melahirkan bayinya, dengan didampingi keluarganya. Dia masih terancam dipenajarakan kembali.
[Foto 2-tengah]. Pada tahun 2015, Israa Ja’abis (saat itu 29 tahun) sedang membawa barang-barangnya, karena dia mau pindah rumah dari Jericho ke Jerusalem. Dia menyupir mobilnya sendiri, dan harus lewat posko militer pemeriksaan.
Orang-orang Palestina sangat dihambat mobilitasnya, dicegat di sana-sini oleh posko militer Israel. Di mobil Israa ada tabung gas dan tanpa disengaja, tabung itu meledak. Yang jadi korban tentu saja Israa sendiri, ia mengalami luka bakar 60%, sangat parah.
Posisi Israa saat itu tidak jauh dari posko militer. Dalam keadaan terluka parah itu, justru dia yang ditangkap, dituduh mau menyerang tentara Israel. Dia dijatuhi hukuman penjara 11 tahun, dengan perawatan yang sangat minim atas luka-lukanya.
Foto yang saya pasang ini, foto sebelum Israa terluka parah. Kini, wajahnya rusak, telinganya tidak ada lagi, delapan jarinya diamputasi. Saat ini Israa MASIH berada di penjara Zionis.
Putra Israa, Mo’tasem [kini 12 tahun], awalnya tidak bisa mengunjungi ibunya karena “masalah administrasi.” Palang Merah Internasional membantu, sampai akhirnya Israel mengizinkan Mo’tasem mengunjungi ibunya.
Mo’tasem mengatakan, awalnya ibunya berusaha menutupi sebagian wajah dengan jilbabnya, tapi Mo’tasem meminta ibu membuka wajahnya. Dia bilang ke ibunya, “Sampai kapanpun, engkau tetap ibuku, dan engkau tetap perempuan tercantik di dunia.”
[Foto 3-kanan]. Muna el Kurd (25 tahun) adalah gadis muda Palestina. Bersama saudara kembarnya, Muhammad el Kurd, Muna sangat aktif menggunakan medsos, memberitakan apa yang mereka alami. Selama puluhan tahun, warga Jerusalem timur mengalami pengusiran, perampasan rumah, oleh Israel. Muna dan keluarganya tinggal di Sheikh Jarrah (salah satu kawasan di Jerusalem timur) yang juga mengalami pengusiran itu, tapi mereka melawan.
Melalui berbagai kontennya di medsos, Muna dkk membuka mata dunia, mengenai nasib bangsa Palestina yang dijajah oleh para pemukim (settler colonialism). Anak-anak muda Palestina kemudian melakukan aksi-aksi demo memprotes pengusiran di Sheikh Jarrah.
Peristiwa penyerangan masjidil Aqsa bulan Ramadan 2021, oleh tentara Israel, adalah salah satu respon bengis Israel atas aksi-aksi demo anak-anak muda ini. Israel juga menangkapi dan memenjarakan para demonstran itu.
Muna sempat ditangkap polisi Israel, tapi para demonstran segera mengepung kantor polisi. Para netizen juga melakukan tekanan melalui medsos. Polisi pun terpaksa membebaskan Muna.
—
Sebagian rujukan:
https://aljazeera.com/…/palestinian-prisoner-admitted…
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.