Melawan Upaya Israel “Memutihkan” Sejarah

https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/688651692635080

Sejarah Israel sebenarnya sangat jelas: perampasan, pembunuhan, penjajahan. Sejarah ini sudah ditulis oleh sebagian sejarawan Israel sendiri (misalnya, Prof Ilan Pappe yang menulis buku ‘Sepuluh Mitos tentang Israel’ dan ‘Pembersihan Etnis Palestina’). Juga diakui oleh sangat banyak pengamat/pemikir/akademisi Timur Tengah, termasuk orang-orang Israel sendiri, seperti Miko Peled, Gilad Atzmon, Rabi Cohen, dll.

Tapi, upaya propaganda Israel tak pernah putus. Selain lewat tulisan, berita, konten medsos (dilakukan para buzzer pro-Israel dari seluruh dunia, termasuk Indonesia), juga lewat film. Film terbaru yang dibuat oleh sineas pro Israel adalah “Golda.” Silakan tonton video berikut ini, membahas soal film ini.

Yang ingin saya tambahkan adalah bahwa sebenarnya orang Indonesia, jika tidak sanggup berpikir rumit dan menelaah secara mendalam, cukuplah pakai akal sehat dan nurani. Sejak era Bung Karno, bahkan, jauh sebelumnya, sejak tahun 1934, ulama Nahdlatul Ulama dulu sudah menyuarakan pembelaan kepada Palestina. Padahal, tahun 1934 kan Indonesia juga belum merdeka. Tapi solidaritas sesama bangsa terjajah telah memunculkan kesamaan semangat perlawanan.

Hari ini, Indonesia dan semua bangsa-bangsa terjajah sudah merdeka. Tinggal Palestina, yang dijajah oleh entitas ‘negara’ yang sengaja dibentuk oleh kekuatan eks-penjajah (Inggris) dan kini mendapatkan dukungan penuh dari kekuatan neo-kolonialis terkuat saat ini, AS.

Kebijakan luar negeri Indonesia, sejak era Bung Karno sampai sekarang, selalu konsisten membela Palestina. Ya, memang ada saja hal-hal yang diam-diam dilakukan oknum, misalnya diam-diam beli senjata, diam-diam berkunjung ke Israel, diam-diam menjalin kerja sama ini itu dll; tapi secara resmi pemerintah Indonesia tetap konsisten: menolak mengakui Israel dan menolak membuka hubungan diplomatik dengan Israel. Kita harus terus dukung kebijakan luar negeri pemerintah kita ini.

Menolak hubungan diplomatik adalah satu-satunya ‘senjata’ yang kita punya dalam membantu Palestina. Bantuan dana memang kita berikan juga, tapi mau dikasih berapa banyak dan berapa lama? Di Palestina kita bangun ini itu, lalu dibom lagi dan lagi oleh Zionis. Jadi, seharusnya selesaikan akar masalahnya. Bantuan dana hanya semacam panadol, yang meringankan penderitaan sementara.

Mengapa saya bilang “hubungan diplomatik adalah satu-satunya ‘senjata’ yang kita punya”? Karena, sedemikian pentingnya pembukaan hubungan diplomatik itu bagi Israel, untuk “memutihkan sejarah” mereka; untuk menutupi fakta bahwa mereka adalah penjajah, kolonial pemukim (settler colonial).

Itulah mengapa Israel (dibantu AS) selama ini sedemikian ngotot ingin membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara Muslim. Mereka membujuk dengan berbagai cara. Untuk negara-negara Teluk, salah satu cara yang dipakai adalah “ancaman Iran” (kalian sedang dalam bahaya lho, tuh Iran punya nuklir, ayo buka hubungan diplimatik dengan Israel, nanti kami lindungi”).

Tapi, perubahan geopolitik besar-besaran sedang terjadi. Iran dan Saudi justru berbaikan, dimediasi China. Keduanya bahkan bergabung dalam BRICS. Negara-negara Afrika yang sangat dimiskinkan dan dilemahkan, justru kini satu persatu bangkit melawan bekas penjajah mereka. Semangat perlawanan muncul di negara-negara Dunia Ketiga. Dukungan kepada Palestina juga semakin kuat.

Jadi, sangat janggal bila bangsa Indonesia malah melempem. Siapapun yang nanti jadi Presiden, harap perhatikan masalah ini. Narasi “kalau buka hubungan diplomatik dengan Israel, kan kita bisa lebih banyak bantu Palestina” jelas omong kosong.

AS saja yang kasih dana hibah miliaran dollar per tahun tidak didengar oleh Israel kok, apalagi Indonesia. Turki, yang dipuja-puja oleh sebagian kalangan, juga tidak bisa apa-apa kan dalam menghalangi kejahatan Israel? Padahal Turki sejak dulu kala sudah berhubungan diplomatik dengan Israel.

Mengatakan “tidak” pada segala bentuk penjajahan, pada dominasi neokolonial dalam berbagai versi modern, sebenarnya bermanfaat buat bangsa Indonesia sendiri. Kalau kita mau maju, ya memang harus berani melawan pihak-pihak yang inginnya menghalangi kemajuan; yang maunya terus mengeruk sumber daya dan segala potensi di negeri ini.

[ini tulisan terakhir #30DaysWriting saya. Selama sebulan ini alhamdulillah berhasil banyak menulis meski tidak full 30 hari. Semoga yang saya tuliskan bermanfaat bagi pembaca.]

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh