Aksi-Aksi Demo Terjadi Lagi di Suriah

[Ini lanjutan tulisan sebelumnya]. Sejak lima hari terakhir, provinsi Sweida, yang berbatasan dengan Jordania, muncul aksi-aksi demo antipemerintah.
Penduduk Swedia mayoritasnya beragama Druze, ini agama yang menggabungkan banyak aliran dan filsafat, lalu membentuk ajaran tersendiri, sehingga tidak dikategorikan sebagai Muslim. Banyak penganut Druze di Dataran Tinggi Golan, wilayah Suriah yang diduduki Israel. Sebagian warga Druze di Golan sudah pindah jadi warga negara Israel, sebagiannya masih menyatakan diri sebagai orang Suriah. Ada sekitar 150 ribu orang Druze di Israel, baik itu di Israel-nya maupun di kawasan pendudukan Golan.
Di foto, terlihat demonstran di Swedia mengibarkan 3 bendera: bendera FSA (hijau-putih-hitam dengan 3 bintang) dan bendera 5 warna, yaitu bendera orang Druze. Bendera satu lagi, ada tulisan Arab, saya tidak mengenalinya.
Artinya: orang-orang Druze yang antipemerintah Suriah ini bergandengan tangan dengan orang-orang pro “mujahidin” FSA (Free Syrian Army).
FSA, yang kini membentuk koalisi bernama SNA (Syrian National Army), berisikan faksi-faksi teroris, termasuk Hay’at Tahrir Al Sham yang sebenarnya Al Qaida (hanya beda nama). SNA didanai oleh Turki; militer Turki dan SNA bersama-sama melakukan serangan-serangan kepada warga sipil Suriah. Turki memiliki ambisi untuk menguasai sebagian wilayah Suriah, termasuk di antaranya untuk menjadikan wilayah Suriah sebagai tempat tinggal permanen para teroris (karena Turki juga tidak mau para teroris ini tinggal di wilayahnya). Karena itulah, logistik untuk kelompok-kelompok teroris ini tetap lancar, masuk ke Suriah lewat Turki.
(lanjut baca: “Teroris Masih Merajalela di Suriah https://www.facebook.com/photo/?fbid=856386212716469&set=a.599827751705651 )
Problem untuk orang-orang Druze ini adalah: mereka tidak sadar bahwa FSA ini satu ideologi dengan ISIS: takfiri dan menghalalkan pembunuhan kepada lawan politik. Druze ini, di mata para teroris kan kafir juga. Bahkan orang Druze di Swedia sudah pernah jadi korban pembantaian ISIS.
Pada tanggal 25 Juli 2018, ISIS mulai menyerang Swedia, lalu melakukan pembantaian yang sangat brutal. Menurut jurnalis Vanessa Beeley, kejadian di Swedia nyaris tidak dilaporkan oleh media Barat.
Pada pukul 4 pagi, pasukan ISIS teroris masuk ke Swedia, mengepung setiap desa, menempatkan penembak jitu di sepanjang jalan penghubung antardesa sehingga warga sipil tidak bisa meninggalkan desa. Teroris kemudian memasuki rumah-rumah dan membunuh warga sipil, bahkan anak-anak saat mereka tidur. Di desa Shbeki, seorang anak cacat dipenggal kepalanya saat dia tidur. Banyak lagi kisah ngeri lainnya dari Swedia, silakan baca sendiri, link di bawah.
Singkat cerita, pria-pria Swedia kemudian angkat senjata demi membela keluarga mereka, sampai kemudian datang bantuan dari tentara Suriah, dan ISIS bisa diusir dari Swedia.
Padahal, kejadian ini belum lama. Kini, mereka sudah demo lagi. Awalnya demo memprotes naiknya harga-harga, tapi berujung pada seruan agar Assad mundur. Harga naik, salah Assad. Padahal, situasi negara masih dalam kondisi perang (ISIS, Al Qaida masih bercokol dimana-mana, simpatisannya juga terbukti ada di Swedia), dan diembargo ekonomi oleh Barat. Lalu saat harga barang naik dan subsidi dikurangi, Assad yang disuruh mundur.
Ada demonstran yang juga menuduh Assad “menjual sumber daya alam ke Rusia dan membiarkan Iran berpengaruh di Suriah.” Apa mereka lupa, siapa yang membantu militer Suriah untuk melawan ISIS? Kalau tidak ada Rusia dan Iran yang datang membantu (dan mengorbankan tentara mereka), mungkin ISIS hari ini sudah bikin “khilafah” di Suriah. Dan orang-orang Druze yang “kafir” (bagi ISIS dkk) pasti jadi korban (dan pernah jadi korban).
Itulah yang dikomentari Vanessa Beeley berikut ini:
“Kebodohan dan keserakahan manusia merupakan alat mematikan di tangan Poros Kejahatan. Ini adalah Swedia, Suriah selatan. Tidak ada bendera Suriah kecuali bendera penjajah Perancis yang ditentang Swedia seabad yang lalu. Betapa cepatnya orang-orang melupakan masa lalu mereka yang mulia ketika imbalan ditawarkan untuk mengkhianati masa lalu itu oleh kekuatan kolonialis yang sama yang mereka lawan.”
“Kebodohan dan keserakahan” membuat manusia tidak bisa mengenali mana lawan, mana kawan. Sekali lagi, ini bukan tentang orang Suriah saja. Kejadian di Suriah, kita ambil hikmahnya sebagai orang Indonesia. Kejadiannya mirip kan: “masalah apapun, presiden yang musti mundur” tanpa mau peduli apa yang sebenarnya terjadi. Organisasi-organisasi teroris di Suriah juga punya cabang kan di Indonesia: ada ISIS Indonesia, ada Al Qaida Indonesia (dengan berbagai nama), ada Ikhwanul Muslimin (ideologi FSA). Untungnya mereka ini belum dapat “order” untuk angkat senjata di Indonesia. Sementara di Suriah, dana dan senjata sudah mengalir deras sejak 2011 sehingga mereka bisa memerangi pemerintah.
—
Sumber foto demo: akun https://www.facebook.com/vanessa.beeley
Liputan Vanessa tentang serangan ISIS di Swedia: https://www.mintpressnews.com/isis-massacre…/252909/
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.