Damascus University

Saat saya ke Suriah, saya beruntung bisa bertemu dengan Dr. Taufiq Al Buthy, Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus. Beliau putra dari alm. Dr. Ramadhan Al Buthy yang gugur syahid pada 21 Maret 2013, akibat bom bunuh diri teroris. Seorang pria bod*h-tapi_mengira-berjihad mengikatkan bom di badannya, lalu mendekati Dr. Ramadhan yang sedang memberikan ceramah di masjid, dan meledakkan diri.
Perbincangan saya dengan Dr. Taufiq, nanti saja saya ceritakan di buku (semoga bisa segera selesai ditulis). Yang ingin saya ceritakan adalah situasi kampusnya. Sayang saya ga sempat blusukan ya, cuma melihat sekilas saja di mobil, dari gerbang menuju kantor Dr. Taufiq. Seperti kampus pada umumnya, ada mahasiswa yang duduk-duduk di taman.
Di kesempatan lain, saya diajak datang ke kampus swasta, nah di sana sempat lama ngobrol-ngobrol dengan dosen-dosen dan mahasiswa. Antara lain, saya tanya ke seorang dosen -yang ternyata juga mengajar di Damaskus Univ- tentang apa yang ia lakukan selama perang.
Dosen itu menjawab, “Saya tetap di sini, tetap mengajar, inilah perjuangan saya. Demikian juga perjuangan bangsa Suriah lainnya, tetap bertahan melakukan pekerjaan-pekerjaan kami, sehingga negara ini tetap tegak. Sebagian dari kami berjuang dengan senjata melawan teroris, sebagian lain berjuang dengan cara tetap bekerja.”
Damascus University adalah universitas tertua dan terbesar di Suriah, berdiri tahun 1923. Presiden Suriah, Bashar Assad, adalah lulusan fakultas kedokteran Universitas Damaskus pada tahun 1988 lalu bekerja sebagai dokter di Angkatan Darat Suriah. Empat tahun kemudian, ia mengambil spesialis kedokteran mata di London.
Meskipun didera perang (melawan milisi-milisi teroris yang didukung negara-negara besar dan kaya, mulai dari AS, Inggris, Prancis, Turki, Arab-Teluk, dll), Suriah tetap berupaya keras menjalankan proses belajar-mengajar. Bahkan, para pelajar yang berada di kawasan yang diduduki teroris pun, tetap diupayakan supaya bisa ikut ujian umum yang dilaksanakan di kawasan yang diadakan pemerintah.
Kalau ada gedung sekolah yang dihancurkan teroris, pihak pemerintah menyewa gedung lain supaya anak-anak tetap belajar. Demikian info yang saya dapatkan langsung dalam percakapan saya dengan orang-orang di Suriah.
Ketika sekolah bisa tetap jalan, artinya kan ada guru-guru yang tetap bertahan mengajar, meskipun dalam kondisi sulit. Inilah yang disebut ‘resilien’ (kemampuan untuk beradaptasi dan tetap teguh dalam situasi sulit).
Suriah bisa bertahan meskipun 11 tahun (sejak 2012) diperangi milisi-milisi teror berkat resistensi (perlawanan) dan resiliensi rakyatnya. Tapi, sayangnya, ada saja sebagian kecil rakyat Suriah yang berkeras memegang ideologi teror, sudah 11 tahun ga nyadar juga siapa lawan siapa kawan. Padahal, ulama-ulama Suriah (termasuk alm. Dr. Ramadhan Al Buthy dan Dr. Taufiq) sudah sering menasehati.
Baru-baru ini, di Swedia, muncul lagi aksi-aksi demo antipemerintah dengan mengibarkan bendera FSA. Padahal Swedia dulu pernah jadi korban ISIS (dan akhirnya dibebaskan dari ISIS oleh tentara Suriah), nanti saya ceritakan di tulisan berikutnya. Intinya, mereka ini kok ya ga nyadar kalau ISIS dan FSA itu sama aja, hanya beda nama. Ideologinya sama saja, sumber logistiknya juga sama saja.
Itulah pentingnya edukasi dan kesadaran geopolitik. Dan ini bukan cuma untuk orang Suriah, tapi kita juga, orang Indonesia.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.