(hari 8&9 skip, tidak menulis tapi membaca buku)

“Tragedi di Pelabuhan Beirut”

Saat saya di Beirut, saya diajak jalan-jalan keliling kota. Salah satu tempat yang kami lewati adalah pelabuhan lokasi ledakan raksasa yang terjadi 4 Agustus 2020 (tepat 3 tahun yll). Menurut laporan Human Right Watch, ledakan itu adalah salah satu “ledakan non-nuklir terbesar dalam sejarah.”

Ledakan diakibatkan oleh berton-ton amonium nitrat yang disimpan di salah satu gudang pelabuhan tanpa adanya pengamanan yang memadai. Amonium nitrat adalah senyawa kimia yang mudah terbakar yang biasa dipakai untuk membuat pupuk nitrat, juga bisa dipakai untuk membuat bahan peledak.

Ledakan itu menghancurkan pelabuhan dan merusak lebih dari separuh kota. Sebanyak 218 orang tewas dari berbagai negara; selain orang Lebanon, ada orang Suriah, Mesir, Ethiopia, Bangladesh, Filipina, Pakistan, Palestina, Belanda, Kanada, Jerman, Prancis, Australia, dan Amerika Serikat. Sebanyak 7.000 orang terluka, 77.000 apartemen rusak.

Saya menyaksikan apartemen-apartemen yang hancur di sekitar pelabuhan, masih dibiarkan begitu saja. Para penghuninya, jika masih hidup, tentu sudah mengungsi entah kemana. Diperkirakan, lebih dari 300.000 orang terpaksa mengungsi

Mengapa ledakan ini bisa terjadi? Sebab utama, menurut HRW, adalah kelalaian pejabat pelabuhan, sampai ke level yang lebih tinggi (kementerian terkait).

Kargo amonium nitrat masuk ke pelabuhan Beirut dengan kapal berbendera Moldova, pada November 2013, lalu disimpan ke hanggar 12 di pelabuhan Beirut pada 23 dan 24 Oktober 2014. Terbengkalai begitu saja, sampai akhirnya meledak 4 Agustus 2023.

Menurut HRW, melalui penelaahan berbagai dokumen dan wawancara, ditemukan bahwa sebenarnya para pejabat pemerintah yang terkait tahu tentang simpanan amonium nitrat yang amat berbahaya itu, tapi gagal mengambil tindakan yang seharusnya.

PM Lebanon sendiri akhirnya mengakui bahwa ledakan itu adalah “hasil dari korupsi politik yang mewabah.” Ketua Parlemen Lebanon juga mengakui, “Hal paling berbahaya yang terungkap dari bencana ini adalah runtuhnya total struktur sistem politik dan ekonomi… harus ada perubahan pada pengakuan [sektarian] ini. Sistem ini merupakan penyebab dari semua penyakit.”

Seperti apa sih sistem di Lebanon?

Sistem politik di Lebanon disebut “konfesionalisme,” yaitu membagi kekuatan politik berdasarkan kelompok agama dan sekte. Jatah presiden untuk Kristen, jatah PM untuk Muslim-Sunni, dan jatah Jubir/ketua Parlemen untuk Muslim-Syiah.

Secara sekilas saja kita bisa memperkirakan bahwa sistem ini sangat rentan dan berpotensi besar menimbulkan perpecahan sosial-politik. Dan itulah yang terjadi di Lebanon hingga kini, konflik politik berlarut-larut, fungsi pemerintahan tidak berjalan dengan baik.

Situasi internal ini diperburuk pula oleh keinginan kekuatan-kekuatan eks-kolonial (Barat) untuk menguasai Lebanon. Apalagi, di Lebanon ada kekuatan anti-Israel yang sangat kuat, yaitu Hez. Israel punya ambisi untuk memperluas wilayahnya hingga ke Lebanon.

Israel sejak 1970-an sudah melakukan serangan militer ke Lebanon; bahkan pernah menduduki Lebanon selatan selama 18 tahun (1982-2000). Israel angkat kaki dari Lebanon selatan setelah kalah menghadapi perlawanan para pejuang Lebanon (dipimpin Hez).

Perseteruan Lebanon (diwakili Hez) vs Israel terus berlangsung hingga kini.

Laporan HRW : https://www.hrw.org/…/investigation-august-4-beirut-blast

(Foto diambil oleh kawan saya Dr. Tim Anderson, saat kami melewati pelabuhan tsb, Mei 2023)

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh