
Facebook mengingatkan kenangan 6 tahun yll, peristiwa terbitnya edisi pertama Jurnal ICMES: The Journal of Middle East Studies. (Foto dari mb Nina).
Saya jadi teringat pada perjuangan panjang soal “jurnal.” Buat yang studi S2 dan S3, pasti udah tahu ya, perjuangan menembus jurnal. Apalagi kalau yang dicari adalah jurnal terindeks Scopus. Pening kepala, habis duit banyak. Sekarang yang S1 pun sudah didorong untuk menulis artikel di jurnal.
Menulis artikel jurnal itu (dengan target tembus jurnal intl), buat saya, awalnya sulit sekali. Saya benar-benar tidak paham formatnya seperti apa, gaya bahasanya kayak apa. Sudah berusaha mencerna artikel-artikel yang published, tetap aja ga ngerti.
Saat saya mau lulus S3, kan diwajibkan nulis artikel jurnal intl juga, nah itu saya benar-benar stress. Beberapa kali ditolak, tanpa saya paham salahnya dimana. Alhamdulillah ada teman yang sangat baik hati, Evi, lulusan Sastra Inggris yang bersedia membantu. Makasih banyak ya Vi ![]()
Tapi saya tetap tidak tahu salah saya dimana dan perbaikan yang dilakukan seperti apa atau mengapa itu dilakukan. Udahlah, pokoknya selesai dan dimuat. Alhamdulillah lulus S3 dan saya benar-benar kapok sama jurnal, tidak mau berurusan lagi.
Eh.. takdir membawa saya untuk berlanjut mengurusi jurnal. Sebagai dosen juga ada beban rutin menulis artikel jurnal. Saat ini saya editor di 4 jurnal. Ada 2 jurnal yang benar-benar “anak” saya, artinya, saya dkk yang merintis dari awal. Salah satunya jurnal ICMES ini, sekarang sudah Vol 7 No 1, dan meraih akreditasi Sinta 4 dari Kemdikbud.
Awalnya, terasa berat karena emang ga ngerti [padahal, waktu itu saya sudah jadi penulis dan menulis beberapa buku lho, jadi bukan orang yang awam soal penulisan].
Tapi ada hal penting yang saya pelajari dalam proses ini: saat kamu memutuskan untuk melakukan sesuatu, semesta akan mendukung.
Ini benar-benar saya rasakan. Ketika fokus saya benar-benar ingin belajar bagaimana sih cara menulis artikel jurnal yang benar, tiba-tiba saja ada banyak pintu terbuka. Misalnya, tiba-tiba saja secara tidak sengaja saya ngobrol dengan seorang teman. Saya mengeluhkan beban saya itu. Ketemunya juga pas di luar negeri.
Nah beliau ini berjanji akan membantu saya, lalu di Bandung kami janjian bertemu di sebuah kafe. Sambil menghadap layar laptop, dia pegang print out artikel karya saya, dan di layar ada artikel karya kawan kami yang sudah dimuat di jurnal internasional.
Dengan sangat praktis dan jelas, teman saya ini menjelaskan di mana kesalahan saya; dan membandingkannya dengan apa yang ditulis kawan kami itu. Dan, AJAIB, saya langsung paham saat itu juga. Benar-benar pencerahan yang luar biasa. Makasih banget ya mba S.. jazakillah khairan.
Lalu, setelah itu ada saja kesempatan untuk belajar dari orang-orang
hebat, gratis pula.
Masih ada yang mengganjal, yaitu, nulis bahasa Inggrisnya gimana?? Saya bisa bahasa Inggris dikit-dikit, tetapi untuk artikel jurnal kan standarnya beda lagi. Awalnya, saya pakai jasa proofread (jadi kita udah tulis dalam bahasa Inggris, lalu dikirim ke proofreader untuk diedit, bayarnya jutaan rupiah, kan berat yak).
Nah, di saat pandemi, tiba-tiba saja saya bertemu dengan orang-orang
hebat yang mengadakan webinar-webinar dengan biaya sangat rendah. Dan saya dapat pencerahan, gimana caranya menulis dalam bahasa Inggris standar jurnal lalu memprofread sendiri. Sejak itu saya tidak pakai proofreader lagi. (Meski biasanya, kalau untuk dimuat di jurnal internasional bereputasi, pihak jurnalnya tetap minta di-proofread oleh editor yang asli bule; bayarnya bisa mahal sekali, tapi ini kan biayanya ditanggung dana riset).
Walhasil, setelah melewati masa-masa sulit itu, sekarang kemampuan saya bertambah. Ini pelajaran yang saya simpan dari salah satu guru saya Pak Prasetya M. Brata – Mind Provocateur: kalau ada pekerjaan yang berat di depan mata, tidak usah mengeluh (dan merasa jadi “korban”), skill kita yang perlu ditingkatkan; nanti yang berat itu akan jadi ringan.
Apa sekarang saya menulis artikel jurnal semudah menulis status facebook? Ya enggak juga. Sekarang ini saya sudah berminggu-minggu stress gara-gara ada utang DUA tulisan untuk jurnal yang sudah berbulan-bulan ga selesai ![]()
![]()
Saya berusaha mengidentifikasi penyebab-penyebabnya. Antara lain, kemungkinan karena topiknya bukan passion saya; hidup saya terlalu banyak distraksi, tim saya yang ga jalan, saya selalu menunda-nunda, dll.
Solusinya, saya banyak berdoa. Merevisi lagi niat: ini bukan untuk uang, tapi semoga ada manfaatnya untuk kemanusiaan. Dan saya banyak menyimak video-video motivasi. Salah satunya, saya mengikuti Mel Robbins. Di salah satu videonya: menunda-nunda itu disebabkan karena stress. Stress tidak bisa dihilangkan, akan selalu jadi bagian dari diri manusia. Tapi, ada solusinya: MULAI saja, hitung 5-4-3-2-1, lalu MULAI menulis. Setelah mendobrak “dinding” dan mulai menulis, di awal-awal memang sulit, tapi selanjutnya insyaAllah bisa jalan terus.
Demikian, semoga ada manfaatnya, terutama bagi para pejuang jurnal![]()
JURNAL ICMES: https://ic-mes.org/jurnal/index.php/jurnalICMES/
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.