#30DaysWriting hari ke-4 : menyelesaikan artikel untuk jurnal akademik, terkait motif AS menginvasi Irak dan terus mempertahankan militernya di sana hingga hari ini. Ada yang bilang, motif utamanya adalah minyak; tetapi ada sebagian pemikir yang berpendapat beda.

Apapun itu, hasil dari invasi itu adalah kematian, kerusakan, dan ketidakstabilan Irak hingga hari ini.

AS tidak sendirian dalam menyerang Irak, melainkan bersama 30 negara yang bergabung dalam koalisi, antara lain, Inggris ,Australia, dan Polandia. Negara-negara itu mau bergabung bersama AS karena percaya pada turuhan AS (dan Inggris) bahwa Irak memiliki senjata pembunuh massal. Di depan sidang PBB, Menteri Luar Negeri AS Colin Powell bahwa Irak memiliki “laboratorium bergerak” untuk memproduksi senjata biologis.

Namun hingga kini, tidak pernah ditemukan senjata tsb. Setahun setelah invasi, yaitu tahun 2004, Powell mengakui bahwa bukti keberadaan senjata pembunuh massal itu “appears not that solid” (kayaknya buktinya ga terlalu kuat).. padahal kehancuran sudah mereka timpakan kepada bangsa Irak. Dalam bulan pertama saja, diperkirakan sekitar 300.000 warga sipil tewas akibat perang.

AS mengklaim akan memusnakan senjata pembunuh massal yang disimpan Irak, tapi AS sendiri menggunakan senjata berbahaya, mengandung depleted uranium dan fosfor putih. Silakan google “fallujah babies” untuk melihat foto bayi-bayi yang terlahir cacat akibat ibu-ibu mereka terkena efek senjata dan bom yang dipakai tentara AS.

Tapi, dua pimpinan invasi Irak, yaitu Bush (Presiden AS) dan Blair (PM Inggris) tidak pernah diajukan ke mahkamah pidana internasional.

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh