https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1333026520757329

Selama beberapa bulan terakhir ini saya merasa kesulitan menulis, dengan banyak alasan. Tapi sepertinya memang ada ‘masalah’ dalam diri saya. Untuk menyelesaikan ‘masalah’ ini, saya mencoba saran orang, yaitu menantang diri sendiri menulis secara rutin selama 30 hari (setiap hari 1 tulisan, apa saja). Kalau saya ingat lagi bagaimana awalnya saya bisa jadi penulis, dulu itu saya juga menantang diri menulis secara rutin di blog.

Baiklah, saya akan coba. Bismillah. Untuk memudahkan diri saya sendiri, saya akan menulis random saja, tidak didasarkan tema tertentu, apa saja. Jadi, tulisan “Catatan Perjalanan Beirut-Damaskus” saya hentikan sampai no, 4 saja. Kisah-kisah selanjutnya akan saya ceritakan secara random, mana yang terpikir di suatu hari.

Tulisan pertama ini (tgl 30 Juli 2023) adalah soal oleh-oleh.

Saat saya ke Suriah, saya berhasil masuk ke kota Aleppo bersama rombongan beberapa keluarga diplomat KBRI. Alhamdulillah, karena dari KBRI, saat melewati posko-posko militer, semua lancar jaya. Para tentara yang menjaga sepertinya sudah sangat kenal dengan Indonesia, negara sahabat yang setia, tidak pernah menutup kantor kedutaan selama Suriah dilanda musibah besar.

Di Aleppo, selain jalan-jalan ke beberapa tempat, tentu saja yang dicari adalah oleh-oleh. Saya ngikut aja dengan ibu-ibu KBRI ke sebuah toko yang sepertinya sudah jadi langganan. Isinya penuh dengan souvenir, baju-baju, dan berbagai barang yang cocok untuk oleh-oleh.

Saya memutuskan untuk beli gamis yang dibordir, beli 3, buat saya, adik saya, dan adik ipar saya. Kembali terlintas rasa sedih, seandainya Ibu masih ada, tentu saya akan beli juga buat Ibu. Lalu? Ya udah gitu aja. Karena rombongan yang belanja cukup banyak, jadi ya selanjutnya menunggu saja sampai semua selesai belanja. Sempat tertawa melihat bapak-bapak diplomat menunggu para ibu belanja, dengan tampang bosan. Ndilalah kok posenya sama semua (bersandar ke mobil, tangan bersedekap).

Saat sudah selesai di satu toko, ada seorang bapak nyeletuk, “Di toko sebelah ada gelang murah-murah lho!”

Langsung dong, ibuk-ibuk dengan penuh semangat pindah ke toko sebelah. Si bapak tertawa, “Waduh, salah ya. Harusnya ga usah kasih tahu!” 🙂

Saya juga ikut beli gelang untuk putri saya (saya tidak beli gamis untuk dia, karena pasti ga akan dipakai). Saya lupa harganya tapi emang murah banget.

Selanjutnya, kami ke toko sabun. Aleppo terkenal sebagai produsen sabun, google aja “Aleppo soap” keluar deh infonya. Kalau cari di tokopedia, harganya mahal banget. Di Aleppo-nya tentu saja sangat murah.

Di hari lain, bersama seorang teman, saya melewati pasar Hamidiyah (Damaskus), tapi saat itu sudah malam. Suasana sangat gelap, Suriah sejak perang jadi susah BBM, dan akibatnya listrik juga sangat minim. Saya melihat sebuah toko menjual Al Quran dan buku-buku.

“Adakah Quran yang cetakan Damaskus?” tanya saya.

Si pemilik toko memperlihatkan satu mushaf, tapi tulisan identitas penerbitannya terlalu kecil, dan lampu sangat temaram. Si bapak membantu dengan mendekatkan ke lampu. Akhirnya dengan susah payah saya bisa menangkap tulisan دمشق di salah satu mushaf. Langsung bungkus.

Lalu, kami melewati sebuah toko sabun. Saya mampir bentar, beli semprotan wajah (lupa namanya, itu lho, digunakan kalau wajah kita kepanasan) Damascene rose (mawar Damaskus).

Si penjual toko memberi bonus sebatang sabun tradisional Suriah yang wangiiii banget. Dia bilang, “Ini kenang-kenangan untukmu, dari Damaskus.” MasyaAllah baiknya. Padahal saya belanja hanya satu barang, murah pula.

Di hari terakhir, beberapa jam sebelum saya berangkat ke Beirut (saya pakai Turkish Air dari Beirut menuju Indonesia, jadi dari Damaskus saya balik lagi ke Beirut), saya ke warung tak jauh dari KBRI. Beli apa aja yang ada di warung, teh, kopi, biskuit. Soalnya, ga ada waktu lagi belanja di supermarket.

Udah, segini dulu. Semoga konsisten menulis 30 hari non stop 🙂

#30dayswriting

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh