
Suatu siang di Damaskus.
“Bajumu hitam-hitam, sepertinya tidak cocok di tengah cuaca sepanas ini,” kata perempuan Suriah itu kepada saya.
Saat itu kami berdua sedang naik taksi menuju suatu tempat. Wajahnya sangat cantik, rambutnya panjang dan berwarna pirang, kulitnya putih banget. Dia tidak berjilbab. Suriah memang negara yang sekuler, perempuan boleh berpakaian sesuai yang dimauinya.
Saya menjawab, “Ibu saya baru meninggal 3 hari sebelum saya berangkat ke Beirut-Damaskus. Itulah sebabnya beberapa hari ini saya pakai jilbab hitam terus.”
Tiba-tiba saja air matanya menetes.
“Maafkan aku Dina. Tapi aku bisa merasakan kesedihanmu. Suamiku meninggal dua tahun yang lalu dan aku masih belum bisa menghapus kesedihan ini. Apalagi kamu kehilangan ibumu.. pasti lebih berat.”
Saya menggenggam tangannya. Lalu kami sama-sama menangis pelan.
Sorenya, kami makan di restoran di lantai teratas sebuah mal. Dari resto itulah saya mengambil foto ini. Terlihat satu sudut kota Damaskus, dengan bendera Suriah yang berkibar di kejauhan. Setelah bicara soal politik Timur Tengah, perang melawan terorisme di Suriah, dan mengomentari soal enaknya masakan yang kami santap, tiba-tiba ia menyebut lagi almarhum suaminya.
“Sebelum Afif meninggal, berita akan dibukanya restoran ini sudah tersebar. Afif bilang, kita harus datang ke sini. Namun dia meninggal sebelum rencana kami terlaksana.” Air matanya bercucuran lagi.
Saya juga berlinang air mata.
“Dina, kamu sabar ya. Aku janji, seiring waktu.. kamu akan.. Apa ya? Aku sendiri merasa tidak bisa berhenti bersedih.. Tapi, aku janji, seperti yang aku rasakan, kesedihan akan menjadi bagian dari diri kita dan kita akan hidup dengannya,” katanya lagi.
Saya tambah menangis. Betapa baik dan kuatnya perempuan teman saya ini. Dia bersedih, tapi masih berusaha menghibur saya.
“Kesedihan akan menjadi bagian dari diri kita.”
Terngiang terus kata-kata itu, sampai saat ini. Dan ya, saya merasa demikian, Saya tak pernah bisa berhenti bersedih. Air mata saya selalu saja tiba-tiba menetes. Mungkin memang saya harus menerima bahwa kesedihan menjadi bagian dari diri saya.
Saya selama belasan tahun menulis soal kematian terkait konflik-konflik di Timur Tengah (misalnya, soal korban serangan Zionis ke Gaza). Tapi, puncaknya tahun 2013 ketika saya menulis buku Prahara di Suriah. Untuk keperluan analisis, saya mencermati sangat banyak video sadis para teroris saat membantai korban mereka. Saat itu, saya sempat agak depresi (sampai saya tidak bisa lagi menatap layar laptop, kepala pusing dan pikiran saya kosong). Setelah diterapi dengan “emotional freedom technique” versi DEPTH, saya bisa normal lagi dan melanjutkan menulis.
Setelah itu, saya “terbiasa” dengan berita-berita kematian di Timur Tengah. Saya menulis dengan menjaga jarak, sehingga tidak sedih, tidak juga senang, netral saja. Tapi kali ini situasinya berbeda.
Kini, tiba-tiba saya bisa merasakan, seperti apa keperihan para ibu di Palestina yang ditinggal mati anak-anaknya. Mereka sangat “terbiasa” menerima kematian (terjadi setiap hari, menimpa kerabat, tetangga, atau saudara sebangsa), tapi saat kematian itu terjadi pada mereka sendiri, mereka menangis histeris. Saya bisa merasakan kepedihannya.
Kesedihan, kini menjadi bagian dari diri saya.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.