
Media-media masih sibuk membahas pembatalan ini, sebagiannya dengan menampilkan pengamat-pengamat yang sangat ngawur. Misalnya, ada yang bilang “Kalau mau melawan imperialisme, konsisten dong! Kenapa tidak memboikot China yang menjajah Uighur? Indonesia juga kan dulu menjajah Timor-Timur??” Atau ada yang bilang, “Harusnya Indonesia itu rahmatan lil alamin, dong..! Jangan permasalahkan Israel!” Benar-benar oon, maaf.
Dan mengapa sih, media-media besar menampilkan pengamat-pengamat yang seperti itu..? Hm.. bisa dikira-kira sendiri…
Senang sekali, barusan saya baca pandangan keren dari seseorang yang memang berkecimpung di dunia bola. Sedemikian kerennya, sehingga saya merasa perlu copas di sini. Salah satu poin yang dia sampaikan sesuai dengan yang pernah saya tulis, bahwa PSSI abai soal kebijakan luar negeri Indonesia; saat apply jadi tuan rumah PSSI mengabaikan faktor ini.
—
“Tiga Poin Pesan Moral Pembatalan Piala Dunia U-20 di Indonesia”
Oleh: Amal Ganesha, peneliti kebijakan olahraga; Ketua Jakarta Business School’s Centre for Sport Business and Governance (JBS Corsigo)
“Pertama, jika ingin eksis dan bermain di level internasional, tidak bisa kita pakai ‘mindset’ lokal. Kita harus memetakan posisi strategis Indonesia di kancah sepakbola global sebelum bertarung. Kegagalan menjadi tuan rumah ini saya yakini karena pengambil keputusan sepakbola Indonesia tidak melakukan analisis ‘macro and micro environment’ yang dalam dan tidak pandai menilai risiko. Pengambil keputusan tersebut—dalam hal ini terdiri dari petinggi PSSI dan pemerintah—tidak mampu mengidentifikasi isu Israel-Palestina ini sebagai titik krusial. Ada banyak kerangka kerja untuk memahami posisi strategis, bisa pakai PESTEL analysis dan SWOT analysis. Kasus ini sekali lagi mengonfirmasi bahwa sepakbola Indonesia kekurangan strategists, karena bertahun-tahun hanya fokus kepada hal-hal yang terlalu teknis,” ucap Amal.
“Perlu diketahui juga, kalau sudah level internasional, tidak bisa andalkan lobi-lobi gaya lokal. FIFA tidak akan kompromi dengan risiko keamanan, apalagi mereka paham betul tentang Tragedi Kanjuruhan.
“Selain itu, pesepakbola juga harus punya mental yang lebih elite jika ingin eksis di level internasional. Kemarin beredar kalimat dari pesepak bola junior, kira-kira isinya ‘memperjuangkan kemerdekaan bangsa lain, tapi mematikan mimpi anak bangsa’. Saya katakan, mimpi bermain di Piala Dunia jalur tuan rumah adalah mimpi yang terlalu kecil. Pesepakbola harus bermimpi besar: misalnya berjuang sangat keras sampai dilirik pemandu bakat klub Liga Jepang atau Inggris, lalu membawa timnas tampil di Piala Dunia jalur kualifikasi. Jadi, pola pikirnya harus lebih elite jika ingin menembus level global.”
“Kedua, isu ini sebenarnya bukan tentang sanksi FIFA atau bercampurnya politik dan olahraga. Ini tentang inkonsistensi. Sudah dari dulu semua orang tahu, Indonesia tidak mengakui Israel. Jika tiba-tiba menerima timnas Israel berlaga di Indonesia, maka itu sama saja dengan memberi legitimasi kepada Israel. Jadi tidak konsisten. Lagi-lagi karena pengambil keputusan sepakbola kita gagal memetakan isu-isu yang lebih strategis, karena hanya mengerti hal-hal yang bersifat teknis.”
“Presiden Jokowi dalam pernyataannya berkata jangan mencampuri urusan politik dan olahraga. Tidak lama saya baru berkata, bahwa memisahkan olahraga dari politik dan sebaliknya adalah mitos. Jelas-jelas ketua PSSI sekarang adalah perpanjangan politik—jika tidak mau dibilang politisi—karena ia merupakan menteri BUMN yang dipilih oleh presiden.”
“Ketiga, ini harus menjadi titik refleksi dan instropeksi diri bagi semua pihak. Jangan jadikan ‘football taken for granted’, karena risiko dan biayanya terlalu besar. Bayangkan, dalam setahun terakhir, Indonesia menerima dua citra memalukan di kancah global melalui sepakbola: Tragedi Kanjuruhan dan dicabut status Tuan Rumah Piala Dunia U-20. Jelas, sepakbola menyangkut citra Indonesia di level dunia,” pungkasnya.
Sumber: https://www.goal.com/…/piala-dunia…/blt1ff4acfd653ef486
***
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.