https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/506113045049226

Korban bencana gempa bumi yang mengguncang kawasan Turki selatan dan Suriah utara pada 6 Februari 2023 lalu sangatlah masif. Setelah gempa pertama sebesar 7,8 Richter, berlanjut dengan ratusan gempa susulan, banyak sekali gedung rumah susun yang runtuh sehingga jumlah orang yang tewas akibat tertimpa reruntuhan mencapai lebih dari 40.000 orang. Menurut pihak Turki, korban tewas di sana mencapai 35.418 orang; sedangkan menurut pemerintah Suriah dan PBB, korban tewas di Suriah mencapai 5800 orang [data 14/02/2023]. Menurut PBB, jumlah orang Suriah yang tak punya rumah (homeless) bertambah 5 juta orang akibat gempa ini. [1]

Tentu, kita berduka cita untuk semua korban, baik Turki dan Suriah. Fokus pembahasan tulisan ini, yaitu gempa di Suriah, sama sekali tidak bermaksud mengecilkan atau mengabaikan korban di Turki. Suriah menjadi fokus tulisan ini karena aspek geopolitiknya. Gempa Suriah telah semakin menguak kejahatan Barat terhadap bangsa Suriah. Gempa di Suriah telah menambah dalam penderitaan warganya; ini seperti luka di atas luka.

Setelah porak-poranda akibat perang melawan kelompok-kelompok teroris yang didukung Barat (termasuk ISIS) sejak 2012, ditambah lagi dengan embargo ekonomi, pemerintah Suriah sangat kesulitan dalam memberikan pertolongan pertama di saat-saat kritis. Pertolongan di beberapa jam pertama sangat penting karena masih ada kemungkinan nyawa yang bisa diselamatkan.

Berbeda dengan Turki, dimana negara-negara Barat dengan segera memberikan bantuan; Suriah seolah ditinggalkan. Negara-negara yang paling awal datang ke Suriah (hari pertama pascagempa) adalah Aljazair, Rusia, Iran, Tunisia, China, UAE. Setelah itu, baru menyusul negara-negara lain, seperti Lebanon, Jordan, Bahrain, Mesir, Pakistan, dll. Namun, hingga tulisan ini dibuat, AS dan Eropa tetap menolak membantu. Bahkan, di media massa muncul seruan-seruan agar jangan berikan bantuan pada pemerintah Suriah, dan tuduhan bahwa pemerintah Suriah menghalangi masuknya bantuan ke Idlib (wilayah yang diduduki teroris/oposisi)

Menurut Duta Besar Suriah untuk PBB, Bassam Sabbagh, pesawat-pesawat kargo menolak mendarat di Suriah karena ancaman embargo dari AS. Jadi, bilapun ada pihak-pihak di Barat yang ingin membantu, tidak ada pesawat yang bisa membawanya datang ke Suriah. Pada hari ke-7 (14/2) sebuah pesawat dari Italia akhirnya datang dengan barang-barang bantuan untuk Suriah, tetapi mendarat di Beirut, lalu barang-barang dibawa ke Suriah lewat jalan darat.

—bersambung—

VIDEO:

pengepul donasi mengatakan bahwa bantuan dari Indonesia dilarang masuk ke Suriah karena ini “ATURAN DARI PEMERINTAH INDONESIA KARENA INDONESIA BERHUBUNGAN BAIK DENGAN PRESIDEN ZOLIM BASHAR ASSAD.”

Padahal pintu perbatasan dari Turki ke Suriah (IDLIB) dikontrol oleh PBB dan diatur melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB. Dan, kita yang paham konflik Suriah juga tahu, di IDLIB ada siapa? Justru, bantuan dari pemerintah Suriah sendiri, untuk warga di Idlib, dilarang masuk oleh para teroris. [simak di video].

——-

Kalau mau baca isi tulisan selengkapnya, bisa klik ini:

[Di fanpage akan upload juga, dibagi dalam bbrp tulisan]

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh