
Kemarin tanggal 9 Mei di Rusia diperingati “Hari Kemenangan.” Untuk mereka yang tidak terlalu consern pada kajian Eropa (seperti saya; saya kan fokusnya di Timur Tengah) mungkin belum tahu, apa sebenarnya perayaan ini. Konflik Ukraina membuat saya banyak membaca (dan nonton film dokumenter) soal Eropa dan Rusia, dan banyak hal baru yang saya temukan, antara lain ternyata masalah Nazi ini sangat krusial dan sangat ideologis buat Rusia. Bisa lihat di video yang saya share ini.
Dan ternyata, ada kaitannya juga dengan Indonesia. Ini saya copas sebagian tulisan bang Joaquim Rohi ini (mahasiswa S2 ilmu politik di Rusia):
Apa kaitannya dengan Indonesia?
Dengan Uni Soviet mengalahkan Nazi Jerman, maka PD II berakhir, lalu lahir lebih dari 100 negara baru yang sebelumnya tak pernah ada. Salah satunya Republik Indonesia. Itu kaitan pertama. Kedua, Negara Eropa yang berwatak kolonialis tak sepenuhnya rela meninggalkan tanah jajahannya, seperti Belanda terhadap Indonesia.
Ketika Belanda diduduki Jerman, pemerintahan Belanda mengungsi ke Inggris, sebab Inggris adalah Eropa kepulauan, terpisah dari Eropa daratan. Pasca Jerman dikalahkan, Inggris sebagai pemenang perang bertugas melucuti sekutu Jerman, yakni Jepang di Asia, termasuk di Indonesia. Namun, Belanda (juga Inggris) punya maksud lain, selain melucuti, mereka masih ingin menduduki Nusantara yang kaya raya.
Kamu harus paham, bahwa hanya negara kaya raya yang dijajah bangsa Eropa. Lalu, jika bangsa Asia, Afrika, Latin America kaya raya, mengapa kemudian mereka miskin? Kekayaan mereka habis dijarah, penduduknya diadu domba, dan tak dididik sebagai orang merdeka. Tapi ini bahasan lain lagi.
Karena Belanda masih ingin menduduki Indonesia, maka, terjadilah peristiwa 10 November 1945, juga agresi militer selanjutnya. Pun, ketika akhirnya Belanda kalah, mereka tetap tak mau melepaskan Papua yang kaya emasnya. Yos Sudarso gugur di Laut Aru. Uni Soviet datang membantu.
12 Kapal Selam jenis Whiskey didatangkan dari Russia ke Indonesia beserta kendaraan tempur, senjata, hingga instrukturnya. Dengan Kapal Selam itulah Indonesia berhasil mengalahkan Belanda, keluar sepenuhnya dari Papua, dari Indonesia.
Dari 12 Kapal Selam tersebut, kini salah satunya dipajang di Surabaya, dengan nama Monkasel: Monumen Kapal Selam. Sudahkah kamu melihatnya, atau masuk ke Kapal Selam itu?
Pertama, Uni Soviet yang pertama menguasai Berlin. Kedua, Uni Soviet pula yang membantu Indonesia mengusir Belanda dari Papua. Namun, Amerika Serikat yang tergiur melihat kekayaan Indonesia, tak tinggal diam. Percobaan kudeta terhadap Soekarno dilakukan sejak 1958, baru berhasil pada 1965.
Tak lama setelah itu, kontrak pertama ditandatangani, emas Papua jadi milik Amerika Serikat, PT Freeport mendapat banyak sekali kekayaan. Padahal mereka tak berperan apa-apa dalam mempertahankan kedaulatan RI di Papua.
Sejak itulah, AS bergerak mensponsori kudeta berdarah, untuk bisa menguasai kekayaan negeri lainnya. (selengkapnya, cek di fb beliau: https://www.facebook.com/joaquim.rohi)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.