
Para ZSM (dan para buzzer Israel -mereka yang memang dapat uang untuk membela Israel di medsos) sering kali menggunakan falasi “non causa pro causa”, yaitu salah dalam mengindetifikasi sebab atau salah dalam menarik kesimpulan sebab-akibat atas apa yang terjadi.
Mereka berkata, “kekerasan Israel dilakukan karena orang Palestina melakukan a, b, c…” Falasi ini juga banyak dilakukan oleh media mainstream (saya akan tulis di postingan berikutnya, analisis teks berita CNN Indonesia soal Israel).
Ibaratnya begini: kita nonton film ketika film itu sudah berlangsung 30 menit. Di menit ke-30 itu, adegannya ada seseorang membunuh temannya. Kita langsung menghakimi: “orang itu pembunuh! penjahat!” Padahal, sangat mungkin di menit 1 sampai menit 29 ada kisah yang menjelaskan mengapa akhirnya di menit ke-30 orang itu membunuh.
Falasi para ZSM (termasuk media-media mainstream) mirip seperti ini, mereka memotong kisah semaunya, mengabaikan fakta sejarah mengenai bagaimana Israel dibentuk pada 1948, bagaimana pengusiran, perampasan tanah dan rumah, serta pembantaian massal yang dilakukan oleh Zionis, bagaimana status Jerusalem timur dalam hukum internasional.
ZSM, media mainstream, buzzer Israel memotong cerita: tentara Israel memukuli orang Palestina karena mereka melakukan aksi demo, mereka melempari polisi dengan batu, dll.
Mereka SENGAJA melupakan: STATUS ISRAEL di situ apa? Penjajah! Occupying power! Dan menurut hukum internasional, bangsa terjajah berhak untuk melawan, berhak berjuang meraih kemerdekaanya.
Anda bisa lihat di video, ini pelataran Masjid Al Aqsa, masjid adalah milik kaum Muslimin, umat Muslim seharusnya bebas untuk datang ke masjid. Ada apa polisi Israel seenaknya masuk ke dalamnya? Apa statusnya di situ? Lalu atas hak apa mereka memukuli orang semaunya, bahkan perempuan yang tak bersenjata, tak melakukan ancaman apapun kepada si polisi? (Waktu kejadian: Jumat 15 April 2022.)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.