https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/289616323275797

Madeleine Albright, mantan Menlu AS, meninggal kemarin (23/3). Ingatan tentang 500.000 anak-anak Irak yang tewas di “tangan”-nya pun kembali.

Bisa disimak di video, Albright (saat itu menjadi Dubes AS di PBB) ditanya wartawan, apakah setimpal, atau layak, mengorbankan nyawa 500.000 nyawa anak-anak itu? Ini bahkan lebih banyak daripada anak-anak yang tewas akibat bom Hiroshima.

Albright menjawab: ya setimpal, tujuannya kan supaya Saddam Hussein tidak lagi jadi ancaman.

Ancaman bagi apa? Ancaman bagi demokrasi liberal. Inilah ideologi dasar AS yang “dijual” ke berbagai penjuru dunia, dan kalau perlu, gulingkan rezim-rezim di seluruh dunia demi agar mereka menjadi rezim yang demokrasi-liberal.

Ini yang mengatakan Prof Mearsheimer (orang AS asli, dan pakar politik internasional AS). Jadi, akademisi AS sendiri ya, yang bilang. Silakan simak videonya di sini, sudah saya kasih terjemahan [1].

Dengan alasan demokrasi, AS ingin menyingkirkan Saddam Husein. Apakah Saddam pemimpin yang baik? Tidak juga; memang betul dia melakukan pembantaian kepada rakyat yang menentangnya, misalnya, kaum Kurdi.

Tapi masalah utamanya bukan di situ. Masalahnya, AS ingin memaksakan sesuatu terhadap negara lain, kalau perlu dengan kekerasan. Kalau perlu dengan membunuh 500.000 anak-anak Irak. Anak-anak itu tewas akibat embargo AS terhadap Irak, sehingga mereka tidak bisa mendapatkan makanan dan obat-obatan.

Tujuan embargo adalah untuk menaklukkan Saddam Hussein, agar terbentuk pemerintahan yang demokratis-liberal.

Apakah benar-benar “demokrasi liberal” yang diinginkan para elit AS? Tentu tidak. Seperti kata Mearsheimer: “Strategi dasar kita adalah menggulingkan semua rezim di seluruh dunia, bukan sekedar karena kita menyukai demokrasi, tapi karena kita percaya bahwa siapapun yang dipilih secara demokrasi pasti akan pro-Barat.” [1]

Mengapa penting ada pemimpin pro-AS? Ya supaya AS (dan Barat secara umum) dengan mudah menguasai kekayaan di negara-negara. Jadi demokrasi-liberal itu hanya kedok. Tujuan utama ya kekayaan.

Masalahnya, tidak semua pemimpin yang terpilih secara demokratis pasti akan tunduk pada kemauan AS. Dan mereka yang tidak mau tunduk ini, akan segera dituduh tidak demokratis. Lalu, AS akan menggerakkan jaringan “NGO demokrasi”-nya di negara itu untuk melakukan perlawanan. Syukur kalau tunduk. Tapi kalau tidak tunduk juga, operasi militer dilakukan. Inilah yang terjadi di Venezuela, Bolivia, Suriah, Iran, dll.

Nah khusus untuk Irak, setelah diembargo bertahun-tahun, Saddam tak juga tunduk. Saddam juga dikenal sangat anti-Israel. Balasan yang dilakukannya pada AS antara lain memutus suplai minyak ke Israel (padahal Israel sangat butuh minyak dari Irak).

Akhirnya, tepat di bulan Maret juga, tahun 2003, AS menyerang Irak. Dalam beberapa pekan, Saddam terguling. Perlu diingat, serangan ke Irak tidak dilakukan AS sendirian, melainkan bersama koalisi; yang ketiga terbesar dalam koalisi adalah UKRAINA.

Alasan yang dipakai Bush adalah “Saddam memiliki senjata pembunuh massal”. Di video ini, terlihat, akhirnya Bush mengakui bahwa Saddam tidak punya senjata pembunuh massal tapi dia ngeles, “Tapi kan kita memang harus melepaskan penderitaan rakyat Irak, kita harus melaksanakan agenda pembebasan.”

Lalu, wartawan bertanya, apa Saddam ada hubungannya dengan penyerangan gedung WTC (peristiwa 911). Bush menjawab, “Tidak.” Padahal, serangan ke Irak dilakukan dalam rangka War On Terror yang dimulai pasca serangan 911, dan salah satu tuduhan ke Saddam adalah “melindungi Al Qaida.” Padahal, Saddam sama sekali tidak pro-Al Qaida.

Nah, di bagian akhir video, saya tampilkan ucapan Presiden AS saat ini, Joe Biden. Sekedar kasih tahu, bahwa para presiden dan elit AS itu memang haus darah, dan menutupi kejahatan mereka dengan “demokrasi” atau “kebebasan.”

Simak bagaimana dengan berdarah dingin Biden mengakui bahwa dia yang menyarankan agar NATO membombardir Yugoslavia.

NATO para tahun 1999 pernah membombardir Yugoslavia selama 78 hari (sekarang Yugolsvia sudah bubar, terpecah menjadi 7 negara). Kawasan pemukiman kota, rumah sakit, sekolah, rel kereta api, pabrik, lapangan terbang, dan fasilitas infrastruktur lainnya luluh lantak. Menurut HRW, 500-an warga sipil tewas (termasuk anak-anak), tapi menurut pihak Yugoslavia, ada lebih dari 1000 warga sipil yang tewas.

Apakah pemimpin Yugoslavia saat itu, baik? Tidak juga. Tapi ingat lagi yang saya tulis di atas, masalahnya bukan di situ.

Madeleine sudah meninggal. Mungkin 500.000 anak-anak Irak itu, saat ini sedang “menyambut”-nya dan memintakan pembalasan pada Tuhan.

—-

[1]https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/289616323275797

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh