Mungkin sudah banyak yang tahu, kalau FIFA mem-ban tim sepakbola Rusia. Padahal kata FIFA, setiap kali memberi sanksi kepada tim yang menunjukkan dukungan pada Palestina, “Jangan bawa politik ke dalam sepakbola!” Atlit Rusia dan Belarusia juga diban dari kompetisi paralympic, oleh the International Paralympic Committee (IPC). Bayangkan, para atlit penyandang disabilitas itu sudah berlatih selama 4 tahun, tapi dipaksa pulang, tak boleh bertanding.

Ada lagi yang lebih absurd:

-Kucing Rusia di-ban dari kompetisi kucing internasional.

-Pohon Rusia di-ban dari kontes Pohon Tahun Ini (Tree of the Year contest).

-Program kursus sastra yang membahas novel sastrawan Rusia, Fyodor Dostoevsky; yang rencananya akan diberikan oleh Paolo Nori, dibatalkan oleh University of Milan Bicocca (Italia)

Orang waras akan berpikir: betapa absurdnya? Ada apa ini?

Tapi sayangnya, sebagian netizen Indonesia, alih-alih mikir, malah terbawa-bawa cara berpikir absurd ini: main bully dan tanpa malu menunjukkan kebodohannya sendiri hanya demi membela orang-orang di luar sana yang terbukti rasis. [1] Sungguh “mental inlander.”

Apapun argumen dan data yang diberikan kepada mereka, mereka tak mau menyerap; hantam saja, bully saja. Apa yang diharapkan sih? Saya down lalu berhenti menulis? No way lah.

Terus terang saya memang sempat kesal membaca komen-komen mereka. Buat saya, menulis soal Rusia-Ukraina ini tidak mudah. Saya menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, supaya bisa menulis. Sejauh ini saya sudah membuat 9 tulisan, dengen referensi, dengan argumen berbasis teori (tidak berhalusinasi). Bahkan saya juga menerjemahkan beberapa video (memberi subtitle).

Lalu, dengan entengnya mereka menghina dan merendahkan, tanpa argumen, hanya mengejek. Situasi ini membuat saya serasa deja vu era perang Suriah. Cuma, kali ini sialnya, “musuh” saya berkumpul bareng: netizen pro-AS&Israel, dan netizen pro “jihadis”. Kalau soal Suriah, yang pro-AS&Israel masih pura-pura mendukung saya (karena tujuan mereka adalah menghantam orang-orang yang mereka sebut “kadrun” itu). Tapi sekarang terbongkar aslinya kan.

Konflik ini memang tes kewarasan. Netizen yang bisa tetap kritis di tengah imperialisme media, di tengah disinformasi dan budaya bully, merekalah yang bisa “melihat” apa yang sebenarnya terjadi.

Dan saya cukup senang, netizen seperti ini sepertinya lebih banyak dibanding mereka yang bermental “inlander” itu. Proud of you! ❤

===

[1] Soal rasisme dalam konflik ini: https://www.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/1086012568848637

Berita soal kucing, pohon, dan sastra:

http://www1.fifeweb.org/wp/news/

https://www.treeoftheyear.org/…/Russia-loses…

https://www.newsweek.com/college-backtracks-banning…

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh