Buat yang masih mencoba menutup-nutupi keberadaan “jihadis” versi Eropa, yaitu milisi neo-Nazi dengan argumen “Zelensky kan Yahudi, mana mungkin ada neo-Nazi di Ukraina??” ada artikel bagus ditulis oleh Rubenstein & Blumenthal (4 Maret 2022).

Judulnya: “Bagaimana presiden Yahudi Ukraina Zelensky berdamai dengan paramiliter neo-Nazi di garis depan perang dengan Rusia”

Ini ringkasan dari bagian awal artikel tsb. Sisanya, silakan baca sendiri.

—–

Sementara media Barat menyebarkan narasi soal leluhur Yahudi Zelensky untuk membantah tuduhan adanya pengaruh Nazi di Ukraina, sang presiden justru telah menyerahkan kendali perang pada pasukan neo-Nazi itu.

Pada Oktober 2019, ketika perang di Ukraina timur berlanjut (perang antara milisi neo-Nazi vs etnis Rusia di Donbass, 14.000 orang sudah tewas, mayoritas orang pro-Rusia), di depan kamera, Zelensky berkata, “Saya presiden negara ini. Saya berusia 41 tahun. Saya bukan pecundang. Saya datang kepada Anda dan memberi tahu Anda: singkirkan senjata itu.”

Begitu video itu menyebar di saluran media sosial Ukraina, Zelensky menjadi sasaran reaksi kemarahan. Andriy Biletsky, pemimpin Batalyon Azov yang fasis dan secara terbuka pernah berjanji untuk “memimpin ras kulit putih dunia dalam perang salib terakhir…melawan Untermenschen yang dipimpin Semit”, bersumpah untuk membawa ribuan pejuang ke Zolote (medan perang di Donbass) jika Zelensky mendesak lebih jauh. Seorang anggota parlemen bahkan secara terbuka berfantasi tentang “Zelensky yang diledakkan oleh granat militan.”

Azov Batallion telah secara resmi dimasukkan ke dalam militer Ukraina dan faksi “preman jalanan”-nya, yaitu the National Corps, ditugaskan ke berbagai penjuru Ukraina, di bawah pengawasan Kementerian Dalam Negeri Ukraina berdampingan dengan Polisi Nasional.

Ketika perang skala penuh dengan Rusia semakin mendekat, jarak antara Zelensky dan paramiliter ekstremis itu juga semakin dekat. Tanggal 24 Februari, ketika Presiden Rusia Vladimir Putin mengirim pasukan ke wilayah Ukraina dengan misi “demiliterisasi dan denazifikasi” negara itu, media AS memulai misinya sendiri: menyangkal keberadaan dan dominasi paramiliter neo-Nazi dalam militer Ukraina dan dalam ranah politik negara itu.

Misalnya, Radio Publik Nasional yang didanai pemerintah AS, menyatakan “Bahasa Putin [tentang denazifikasi] menyinggung dan secara faktual salah.”

Dengan demikian, AS dalam upayanya untuk menutupi fakta adanya Nazisme di Ukraina kontemporer, mereka menggunakan menemukan intrumen Public Relations yang paling efektif: sosok Zelensky, mantan bintang TV dan komedian keturunan Yahudi.

—-

Selengkapnya: https://thegrayzone.com/…/04/nazis-ukrainian-war-russia/

FOTO: Pada December 2021, Zelensky memberikan gelar “Pahlawan Ukraina” kepada pemimpin fasis “Sektor Kanan,” dalam sebuah acara di Parlemen Ukraina. Jangan lupa, tahun 2010, Presiden saat itu, Yushchenko, memberikan penghargaan “Pahlawan Ukraina” kepada mantan pemimpin milisi pro-Nazi di Ukraina (yang melakukan pembantaian massal kepada warga Yahudi, Rusia, Polandia, di era Perang Dunia II, membantu Hitler). Tapi gelar itu dibatalkan setahun kemudian oleh presiden Ukraina berikutnya, Yanukovych.

Nah, AS kemudian memberikan dukungan & pembiayaan kepada kelompok neo-Nazi ini dalam rangka menggulingkan Yanukovych.

Persis seperti AS juga mendanai “jihadis” di Suriah, dalam rangka menggulingkan Assad, tapi dengan memberi istilah “pemberontak moderat.”

Pesan saya: gunakan cara pandang geopolitik, zoom-out, lihat peta besarnya, supaya bisa paham semua ini.

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh