
Ini mungkin tulisan saya terakhir pekan ini ya, mau balik ke kerjaan. Ini ‘utang’ komentar atas kejadian beberapa hari yll.
Mungkin berita ini terabaikan karena perhatian publik tersedot oleh kasus Rusia-Ukraina. Tanggal 3 Maret, Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman, diwawancarai oleh media. Saya mengutip dari Al Arabiya, bahwa dalam wawancara itu, MBS mengatakan, “For us, we hope that the conflict between the Israelis and Palestinians is solved. We don’t look at Israel as an enemy, we look to them as a potential ally, with many interests that we can pursue together. But we have to solve some issues before we get to that.” [1]
[Bagi kami, kami berharap konflik antara Israel dan Palestina dapat diselesaikan. Kami tidak melihat Israel sebagai musuh, kami melihat mereka sebagai sekutu potensial, dengan banyak kepentingan yang dapat kami kejar bersama. Tapi kita harus menyelesaikan beberapa masalah sebelum kita sampai ke sana.]
Perhatikan: MBS mengatakan bahwa “ada masalah yang harus diselesaikan dulu.” Artinya, MBS mengisyaratkan, Saudi baru akan membuka hubungan diplomatik kalau “masalah terselesaikan.”
Nah, dua hari kemudian, 5 Maret, entah kebetulan atau tidak (cuma buat saya, kok kayak “kebetulan,” ujug-ujug kok bahas normalisasi): di Kompas muncul tulisan orang Indonesia yang mendukung normalisasi hubungan diplomatik Indonesia-Israel.
Dia mengarahkan argumen ke masalah agama. Dia tulis: “…persepsi masyarakat Indonesia yang sebagian besar menganggap negara Israel sama dengan Yahudi dan Yahudi sama dengan Israel. Mereka juga mengasumsikan Palestina sama dengan Muslim/Arab.”
Lalu, bla-bla-bla menceritakan ini-itu soal Yahudi. Di Indonesia juga ada lho, orang Yahudi. Beberapa negara Arab juga sudah buka hubungan diplomatik, lho. Dll.
Lalu, paragraf akhirnya begini:
“Seperti sejumlah negara Arab Timteng, tidak ada salahnya jika Indonesia juga melakukan hubungan diplomatik dan dagang dengan Israel. Zaman sudah berubah pesat, jadi perlu terobosan pesat juga, apalagi menteri luar negeri Isarel sudah memberi sinyal positif.
Dibandingkan dengan Palestina, membangun relasi bisnis, apalagi diplomatik, dengan Israel akan sangat strategis dan menguntungkan Indonesia. Karena jika dilihat dan diukur dari aspek mana pun—ekonomi, bisnis, teknologi, pendidikan, SDM, dan sebagainya—Israel jauh lebih unggul dan lebih maju daripada Palestina.”
Penduduk Israel juga sekitar dua kali lipat dari penduduk Palestina yang cuma lima juta jiwa. Produk domestik bruto Palestina cuma sekitar 16,2 miliar dollar AS (bandingkan dengan Israel yang mencapai 394,7 miliar dollar AS). Perguruan tinggi di Israel juga banyak yang berkualitas dan berkelas dunia seperti Tel Aviv University, Hebrew University. [2]
—-
KOMENTAR SAYA:
(1) Saya akan meminjam kalimat MBS: “…kalau sejumlah masalah sudah diselesaikan”, artinya, mungkin saja hubungan diplomatik dibuka, TAPI, KALAU MASALAHNYA SELESAI. Apa masalahnya? Inilah yang tidak disentuh sedikit pun oleh si penulis. MASALAHNYA ADALAH PENJAJAHAN/PENDUDUKAN.
Bangsa Indonesia tidak membuka hubungan diplomatik dengan Israel BUKAN karena urusan agama Yahudi, tapi karena PENJAJAHAN. Sikap resmi pemerintah Indonesia sejak zaman Bung Karno sampai sekarang adalah: memandang Palestina belum merdeka dan wilayahnya masih dijajah/diduduki oleh Israel.
Kalaupun sekarang ada jabatan “Presiden Palestina” atau “Kedutaan Palestina” itu hanya bagian dari upaya diplomatik dalam mendorong terbentuknya negara Palestina yang merdeka dan berdaulat. Jadi bukan “presiden” seperti negara normal, karena sama sekali tidak berdaulat.
Banyak sekali resolusi PBB yang menyebut frasa ini “occupied Palestina” (Palestina yang diduduki). Jadi ini pun sikap resmi PBB.
(2) Saya menyerukan agar pemerintah RI tidak pernah goyah, meskipun ada saja “pakar” yang terus mendorong agar RI berubah posisi. Hitungan ekonominya pun pada akhirnya tetap saja merugikan kok, meski para pakar kasih iming-iming. Kalaupun ada yang untung, paling hanya segelintir kalangan saja.
Selain itu, memangnya Indonesia pengekor Arab? Kalaupun negara Arab buka hubungan diplomatik, apa artinya kita harus mengekor dan tidak punya pendirian? Tentu tidak. Selalu ingat pesan Bung Karno tahun 1962, “Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”
Demikian.
——
Berita dari Al Arabiya: https://english.alarabiya.net/…/Saudi-Crown-Prince-says…
Artikel Opini di Kompas yang saya kutip: https://www.kompas.id/…/2022/02/25/arab-israel-dan-yahudi
—
Foto: eks-Dubes Israel untuk PBB, Danny Danon, dalam sidang di Dewan Keamanan PBB, dia membacakan ayat di Bible dan mengatakan bahwa legitimasi negaranya adalah Bible (“This is the deed to our land”). April 29, 2019. https://www.jpost.com/…/israeli-ambassadors-bible…
Saya pernah bahas soal Bible ini dengan seorang aktivis Katolik, dalam podcast saya “Kitab Suci Kok Jadi Sertifikat Tanah?” https://www.youtube.com/watch?v=0tn9R2AQr3w
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.