Bahasan soal konflik Ukraina bisa dari berbagai aspek. Saya kali ini akan bahas soal Israel. Mengapa? Karena buzzer Israel sudah mulai berisik. Antara lain narasi mereka: para pembela Palestina kok diam saja ketika Ukraina mau dijajah Rusia?

Tentu saja, itu narasi yang salah kaprah. Kata siapa Rusia mau menjajah Ukraina? Tapi itu nanti lagi saya tulis. Yang saya soroti saat ini, mengapa buzzer Israel berisik ya? Ada buzzer Israel (dan memang orang Israel) dengan follower 473 ribu yang menulis dengan rasis begini dalam bahasa Arab (artinya, ditujukan pada orang-orang Arab):

“Presiden Muslim Afghanistan berurusan dengan Amerika; ia mengkhianati tanah airnya dan mencuri negaranya. Dalam perang, dia melarikan diri seperti kecoa dan tikus. Presiden Yahudi tidak mengkhianati tanah airnya, dia tidak mencuri tanah airnya, dia berjuang dan berjuang dan tidak akan melarikan diri. Dia melawan mereka yang menyerang negaranya. Inilah perbedaan antara Anda [Muslim] dan kami. Pikir ulang baik-baik, jika Anda ingin menghina orang Yahudi.”

Mengapa urusannya dibawa-bawa ke Muslim vs Yahudi? Lagipula, kaum Muslim dalam urusan Palestina, bukan menghina Yahudi, tapi melawan penjajahan yang dilakukan Zionis kepada bangsa Palestina. Orang-orang non-Muslim di negara-negara Barat juga sangat banyak yang membela Palestina. Bahkan Amnesty Internasional dan Human Rights Watch sudah menyatakan bahwa Israel adalah negara yang melakukan kejahatan apartheid kepada bangsa Palestina.

Yang jelas, terlihat bahwa Israel sangat berkepentingan dengan perang ini. Menlu Israel juga sudah blak-blakan mengutuk apa yang disebutnya “invasi Rusia ke Ukraina” ini. [Kata “invasi” ini tidak tepat, kapan-kapan saya bahas.]

Mungkin banyak yang belum tahu, Presiden Ukraina, Zelensky, adalah Yahudi yang pro-Israel. Tidak semua Yahudi pro-Israel, ya, saya sudah berkali-kali menulis soal ini.

Dalam sebuah pidatonya bulan Desember 2021, dalam Kyiv Jewish Forum, ia menyamakan bangsanya dan orang-orang Yahudi Israel. “Kami tahu bagaimana rasanya tidak memiliki negara sendiri. Kami tahu apa artinya membela negara dan tanah sendiri dengan senjata di tangan, dengan mengorbankan nyawa kami sendiri” (sumber: Jerusalem Post).

Time of Israel tanggal 21 February 2022 memberitakan bahwa menyusul ketegangan yang terjadi di perbatasan antara Ukraina-Rusia, ratusan Yahudi-Ukraina “dipulangkan” ke Israel. Sungguh ironis, orang Palestina diusir sejak 75 tahun yang lalu dari tanah dan rumah mereka, dan tidak diperbolehkan pulang; tapi orang Yahudi-Ukraina diterima dan disebut “pulang.”

Menteri Aliyah (“pulang kampung”) dan Penyerapan Imigran Israel mengatakan, “Pesan kami kepada orang-orang Yahudi di Ukraina sangat jelas — Israel akan selalu menjadi rumah mereka; gerbang kami terbuka untuk mereka selama waktu normal maupun dalam keadaan darurat.”

Ia juga mengatakan, “Kami dengan senang hati menyambut puluhan imigran dari Ukraina, dan kami siap menyerap ribuan orang yang ingin pindah ke Israel… kami menunggu dengan tangan terbuka,” tambahnya.

Nah, sepertinya sudah jelas posisi salah satu puzzle: Israel. Di Suriah, Rusia selama ini “berbaik-baik” Israel. Rusia seolah diam saja ketika Israel hampir setiap hari membombardir Suriah. Sikap Rusia ini memunculkan pertanyaan banyak pihak. Presiden Suriah, Bashar Assad sudah menyatakan dukungan ke Putin. Mungkin, dengan perkembangan baru ini, Putin akan berubah sikap, berani tegas melawan Israel. Kita lihat perkembangannya.

—-

Btw, silakan baca tulisan lama saya, untuk melihat bahwa Ukraina dan Suriah ternyata ada kaitannya. Judulnya (sok-sok’an) bahasa Prancis “L’Ukraine est une autre Syrie” [Ukraina adalah Suriah yang lain] tapi isinya bahasa Indonesia. https://dinasulaeman.wordpress.com/…/lukraine-est-une…/

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh