https://web.facebook.com/DinaY.Sulaeman/videos/317998080284417

(1) Biden, presiden super power dunia, kesulitan mengingat, negara mana yang sudah/sedang dikacaukannya: “And there is no way we were ever going to unite Ukraine…I mean excuse me Iraq…Afghanistan.”

(2) Yang dia maksud adalah “tidak ada jalan bagi AS untuk mempersatukan Afghanistan.” “Kecelakaan” bicara ini sebenarnya menunjukkan beberapa hal: a) telah terlalu banyak negara yang dicampuri urusannya oleh AS, sampai si presiden di lupa, nama negara yang dimaksudnya.

(3) b) AS, negara “kampiun demokrasi”, yang menebar perang di sana-sini, menebar dana di sana-sana utk NGO, dg alasan “menegakkan demokrasi”, ternyata tidak mampu memilih presiden yang sehat di antara 330 jt rakyatnya.

(4) ini menunjukkan bahwa demokrasi di AS adalah demokrasi yang lumpuh, yang bermain adalah kekuatan uang raksasa, yang digelontorkan perusahaan senjata, minyak, dll. Dengan uang mereka bisa mengatur siapa yang terpilih sbg presiden.

(5) Kalaupun yang menang partai sebelah, kondisi tak jauh berbeda. Baik Republik maupun Demokrat keduanya sama saja, para presidennya tetap gila perang, demi mencari profit bagi perusahaan senjata dan migas.

(6) 5 perusahaan senjata terbesar mengeluarkan dana utk lobby politik thn 2020: Lockheed Martin, Boeing, Northrop Grumman, Raytheon Technologies, dan General Dynamics, total $60 juta. Menurut data dari OpenSecrets, Biden saat kampanye pilpres menerima jutaan usd dari mrk.

Follow twitter saya: @dina_sulaeman

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh