(1) Hari Selasa, Lt Gen McKenzie, komandan US Central Command datang ke Abu Dhabi. Lalu hari ini, ada ledakan. Sejam yll Reuters menulis, ini bukan serangan misil tapi ledakan silinder gas. Apapun itu, reputasi UAE sebagai pusat bisnis yang aman di Timteng sudah..

(2) terganggu. Ekonomi UAE sangat bergantung pada rasa aman pelaku bisnis. Ada semacam pepatah yang tersebar terkait UAE: kalau rumahmu terbuat dari kaca, jangan melempari rumah orang lain. Maksudnya, tahu dirilah, balasan dari pihak yang dilempar akan menghancurkan rumahmu.

(3) Tidak penting apakah ledakan di UAE ini ledakan silinder gas, atau serangan drone. Efek ketakutan sama fatalnya untuk sebuah negara yang 80% penduduknya adalah warga asing yang datang untuk bekerja/berbisnis.

(4) Pasukan Yaman sejak beberapa pekan yll melakukan serangan balasan. Ini yang perlu diketahui: Yaman membalas, setelah 7 tahun Yaman dibombardir UAE. Itupun didahului dengan peringatan: hentikan bom pada kami, kalau tidak kami akan balas. Tapi UAE tidak peduli.

(5) Karena itu, memalukan sekali bila ada negara2 yang cenderung diam atau sekedar “menyesalkan” serangan Saudi&UAE ke Yaman, tapi ketika Yaman menggunakan haknya untuk membalas, mereka terdepan memberikan “kecaman keras.”

(6) Yang jarang dibahas media/pengamat soal Yaman adalah kondisi negara tsb pasca tergulingnya Saleh. Saya kutip isi buku “Destroying Yemen” (Isa Blumi, 2018). Mansour Hadi (yang saat ini disebut sebagai “presiden yang sah” oleh “dunia”) dipilih oleh GCC sbg presiden interim.

(7) Selama 20 th sblmnya, Hadi adalah wapres Saleh, dan tokoh “Islamis” dari partai Islah yang didukung Saudi.Sejak menjabat, pemerintahan interim Hadi telah membuat kehidupan Yaman lebih buruk. Pada 2013, misalnya, jumlah pembunuhan, pengeboman masjid2 Muslim Zaydi meningkat.

(8] Hadi juga melaksanakan ‘structural adjusment program’ (resep IMF/WB), sehingga kemiskinan dan pengangguran meningkat. Tanpa pengawasan parlemen, ia mendorong liberalisasi ekonomi yang wujudnya adalah penjualan aset-aset publik Yaman. Pembeli utamanya adalah Saudi dan Qatar.

(9) Kondisi sedemikian buruknya, sehingga ketika pasukan Ansharullah mengambil alih kota (Sept 2014), sebagian besar warga justru menganggapnya pahlawan. Proses selanjutnya justru adalah rekonsiliasi politik yg melibatkan belasan faksi (ini juga diakui utusan PBB Jamal Benomar).

(10) Tapi Saudi&AS tidak menghendaki Ansharullah menjadi faksi dominan, mereka menolak sama sekali kehadiran Ansharullah. Hadi MUNDUR (artinya, sudah vacuum of power), lalu lari ke Saudi. Proses rekonsiliasi terus berjalan. Tapi AS dan Saudi memutuskan utk mngebom mulai 26/3/2015

(11) Jamal Benomar, diplomat Maroko, mantan utusan khusus PBB utk Yaman, berkata, “Saat serangan dimulai, ada satu hal yang penting yg diabaikan: Yaman hampir mencapai kesepakatan yang akan melembagakan pembagian kekuasaan dengan semua pihak, termasuk Houthi.”

Silakan mengikuti twitter saya: @dina_sulaeman (tapi saya berusaha copas juga cuitan saya di sini, kalau sempat).

***

Konflik Yaman selalu diframing dengan istilah “pemberontak Houthi yang didukung Iran” vs “pemerintahan yang didukung internasional” (atau, “didukung Saudi”). Apa benar pemerintahan Yaman saat ini (yang de facto berkuasa di Sana’a) adalah “pemberontak Houthi”? Simak selengkapnya di:

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh