
Istilah “normalisasi” dengan Israel, sebenarnya agak aneh. Indonesia didorong pihak-pihak tertentu untuk “menormalisasi” hubungan dengan Israel. Indonesia kan tidak pernah menjalin hubungan diplomatik sebelumnya dengan Israel dengan alasan “penjajahan Israel pada Palestina.” Jadi apanya yang dinormalkan? Menormalkan [=menganggap normal] penjajahan?
Ada fenomena yang lebih tepat disebut “normalisasi”, misalnya kembalinya hubungan baik antara Suriah dan Yordania. Selama perang Suriah, Yordania sudah berkhianat kepada tetangganya itu, dengan menyuplai senjata kepada para “demonstran” di Daraa dan membiarkan perbatasannya ditempati “pasukan-pasukan asing yang tidak berbahasa Arab” (demikian dilaporkan sejumlah media, di tahun 2011, di awal-awal konflik Suriah).
Tindakan Yordania ini telah merugikan diri mereka sendiri. Sebelum perang 2011, Yordania memiliki ketergantungan ekonomi pada Suriah, meskipun secara resmi ekspor-impor kedua negara tidak terlalu tinggi; tetapi perdagangan informal lintas-batas sangat tinggi. Banyak kebutuhan warga Yordania yang disuplai dari Suriah dengan harga murah. Yordania juga memiliki ketergantungan air pada Suriah. Kini, setelah normalisasi, Amman akan kembali menerima suplai air sekitar dua ratus juta meter kubik dari sungai Al-Yarmook, seperti sebelum perang.
Tentu saja, langkah Raja Abdullah untuk menormalisasi hubungan dengan Suriah dilakukan seizin Washington. Dulu pun, ia membantu penggulingan Assad juga karena tekanan Washington. Juli 2021, Abdullah ke AS dan meminta pemerintahan Joe Biden untuk mendorong “perubahan perilaku rezim”, bukan lagi “perubahan rezim.” Selain Jordan, UAE, Bahrain, Oman, dan Saudi juga telah memulai upaya normalisasi. Tentu saja, karena ada hitung-hitungan geopolitik (kepanjangan kalau diceritakan).
Intinya, negara-negara Arab itu sangat terkooptasi AS. Kebijakan luar negeri mereka terpaksa sejalan dengan kehendak AS. Nah, apakah Indonesia seperti ini? Tentu tidak.
Karena itu, argumen/kalimat para supporter Israel sebenarnya salah kaprah, “Negara-negara Arab saja sudah mau berdamai dengan Israel, masa Indonesia tidak?” Apa kalian mau menyamakan negara-negara Arab (yang mau-mau saja diatur Barat) dengan Indonesia? Emangnya Indonesia sama dengan mereka?
Ada juga yang bilang, “Kalau berteman dengan Israel, kan Indonesia bisa menasehati Israel agar lebih welas asih, lebih menghormati HAM.” Halah… [isi sendiri saja lanjutan kalimatnya].
—
Foto: tahun 2009
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.