Pejabat Israel blak-blakan mengatakan bahwa yang mereka inginkan adalah “keduanya” (Sunni dan Syiah) saling bantai di Suriah.

Ironisnya, ada orang-orang di Indonesia yang “menjalankan” agenda Israel itu (mungkin tanpa disadari). Mereka impor konflik sektarian ke Indonesia. Orang Indonesia yang semula ga ngerti apa-apa soal Suriah, damai-damai aja, diprovokasi untuk membenci saudara sebangsanya yang bermazhab Syiah, atau dituduh Syiah. Pokoknya, kalau melawan mereka, sebut saja Syiah.

Tahun 2013-2014 spanduk-spanduk anti-Syiah menyebar di ratusan kota. Buku anti-Syiah (mencatut logo MUI) dicetak jutaan eksemplar dibagi-bagi gratis. “Roadshow” soal Suriah diadakan di berbagai penjuru negeri (isinya tuduhan “Syiah membantai Sunni” dan diakhiri dengan: “kumpulkan infak terbaik Anda”).

[Salah satu hasil hasil “didikan” mereka ini: survei tahun 2017, lebih dari 50% pelajar di Indonesia memiliki opini radikal dan intoleran]

Semua ini butuh dana sangat besar Bikin 1 spanduk saja sekitar 100.000-an. Duit dari mana? Balik modal apa yang diharapkan? Tak lain tak bukan: donasi, dengan jumlah fantastis. Satu kampanye saja (misal “Save Ghouta”) hanya dalam beberapa hari bisa terkumpul sebelas M, itu dari satu lembaga saja. Padahal lembaga yang mengepul untuk “membantu Suriah” sangat banyak (banyak nama, kalau ideologi sama saja atau beda tipis).

Mereka juga menyebarluaskan kisah-kisah heroik seperti video capture ini. “Kisah Mujahidin Suriah yang Berhati Lembut”?? Mengebom rakyat sipil (dengan alasan mereka “kafir”) apakah berhati lembut?

Menghancurkan sebuah negara yang sangat mengayomi rakyatnya, negara yang menjadi salah satu pusat keilmuan Islam di dunia, dengan para ulama-cendekiawan besar, apa berhati lembut?

Kalau mereka bilang “ini fatwa ulama”, bukankah banyak ulama Suriah yang menolak “jihad” mereka? Mengapa malah ikut fatwa ulama yang ada di Qatar atau Saudi?

Mengapa mereka malah membunuh ulama besar Suriah yang memberi nasehat ke mereka (alm. asy-syahid Syekh Buthy), yang mengatakan bahwa tindakan mereka itu salah?

Sekarang sudah 2021. Tapi dampak perang Suriah di Indonesia (karena diimpor oleh para pendukung “mujahidin” sekaligus pengepul dana) masih berlanjut. Aksi pengepulan dana untuk Suriah pun masih lanjut. Tokoh-tokoh mereka juga masih bebas, mengata-ngatai orang yang membongkar kebusukan mereka, bahkan mendoakan kematian. Saat Taliban menang, mereka juga yang bersuka cita (terlihat di medsos). Kebetulan, jihadis di Idlib juga bersuka cita. Lha mereka juga selama ini kan kirim donasi dari Indonesia ke Idlib. Berarti apa?

Artikel yang ada di video: [catat: bahkan website ini pun masih aman sentosa]

http://www.voa-islam.com/…/kisah-mujahidin-suriah…/;…

Survei 2017 yang saya kutip: https://tirto.id/survei-uin-jakarta-intoleransi-tumbuh-di…

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh