
Raymond McGovern adalah mantan analis CIA. Tahun 1980-an ia mengepalai National Intelligence Estimates yang bertugas menyiapkan briefing harian untuk Presiden AS, dia juga memberikan briefing harian kepada Wakil Presiden, Menhan, dan Panglima, serta asisten presiden untuk keamanan nasional.
McGovern pensiun tahun 1990, dan kemudian menjadi aktivis politik yang mengkritisi kebijakan perang AS. Saat pensiun, dia menerima Intelligence Commendation Medal, tapi kemudian dikembalikannya pada tahun 2006 sebagai bentuk protes atas penyiksaan yang dilakukan CIA.
Di video ini, dia menyebutkan bahwa hasil yang sebenarnya diharapkan oleh Israel di Suriah adalah “pertumpahan darah antara Sunni dan Syiah.”
Pernyataannya itu didasarkan pada liputan NYT yang mewawancarai pejabat tinggi Israel.
Saya melakukan recheck, mencari wawancara yang dimaksud, ketemu: https://www.nytimes.com/…/israel-backs-limited-strike….
“This is a playoff situation in which you need both teams to lose, but at least you don’t want one to win — we’ll settle for a tie,” said Alon Pinkas, a former Israeli consul general in New York. “Let them both bleed, hemorrhage to death: that’s the strategic thinking here. As long as this lingers, there’s no real threat from Syria.”
[“Ini adalah situasi playoff di mana Anda membutuhkan kedua tim untuk kalah, tetapi setidaknya Anda tidak ingin satu pun menang – kami akan puas dengan hasil seri,” kata Alon Pinkas, mantan konsul jenderal Israel di New York. “Biarkan mereka berdua berdarah, berdarah sampai mati: itulah pemikiran strategis di sini. Selama ini tetap ada, tidak ada ancaman nyata dari Suriah.”]
Video lengkap ada di Youtube Richard Medhurst
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.