
Tulisan saya sebelumnya, menyinggung tentang UUD Iran yang sebenarnya memberi peluang kepada perempuan untuk jadi presiden karena kata yang dipakai adalah rijal (dimaknai ‘tokoh’), bukan ‘mard’ (laki-laki, b. Farsi). Lengkapnya: Presiden harus dipilih di antara “rijal” relijius dan politisi yang memiliki kualifikasi sbb…. dst.
Nah perjalanan saya menemukan informasi ini didahului dengan kisah lucu (menurut saya).
Awalnya, karena saya penasaran, apa perempuan Iran bisa jadi presiden? Saya tanya ke rekan sekantor saya, cowok (saat itu saya kerja di IRIB-Islamic Republic of Iran Broacasting). Dia dengan mantap menjawab, “Tidak.” Saya tanya ke rekan yang lain, dia juga jawab tidak.
Dua rekan cowok ini, sebut saja A dan B. Mereka laki-laki muda, baik hati, punya istri. Oiya, kantor IRIB itu biasa saja, campur laki-laki dan perempuan, tidak disekat-sekat.
Saya masih penasaran, saya telpon ke redaksi Tehran Times karena headline koran tersebut pada hari itu, kebetulan membahas tentang pilpres. Si redaktur memberikan penjelasan seperti yang saya tulis di paragraf awal. Saya lalu ke perpustakaan, meneliti lebih lanjut. Beberapa waktu kemudian, hasilnya saya tulis di paper yang dipresentasikan di sebuah seminar internasional. [1]
Saya ceritakan penemuan saya ke A dan B. “Perempuan di Iran boleh kok, jadi presiden!..bla..bla..” (saya jelaskan argumennya)
“Apaa?? Jangan sampai perempuan jadi presiden! Mereka engga jadi presiden aja kami udah repot banget, apalagi kalau jadi presiden!” jawab mereka berdua, sambil tertawa terbahak-bahak. Saya juga tertawa, karena paham apa yang mereka maksudkan.
Mengapa sampai ada pernyataan demikian? Karena, perempuan Iran (minimalnya yang saya temukan sehari-hari ya, baik di tempat kerja maupun tetangga-tetangga), ya begitu itu, suka “bikin repot suami,” hahaha. Mereka memang cenderung dominan di keluarga.
TV Iran juga sering menayangkan sinetron yang “feminis” banget, memperlihatkan dominasi ibu/istri di rumah. Adegan istri yang ngomelin suami tuh biasa banget. Misalnya, suami-istri berantem tentang siapa yang harus nganterin sampah ke tong sampah.
Di Iran, banyak orang tinggal di apartemen atau rumah susun, jadi buang sampah itu “masalah.” Kita musti repot turun tangga (kalau ga ada lift) mengantarkan sampah itu ke tong sampah utama, supaya bisa diangkut oleh petugas. Siapa yang harus melakukannya? Ya bapak-bapak dong (kata para istri).
Kalo belanja ke pasar, tugas siapa? Tergantung si istri, bisa nyuruh suami untuk belanja apa gak? Yang jelas, di pasar, saya biasa antri di kasir bareng para bapak-bapak (dan ibuk-ibuk). Antrian ga dipisah. Pokoknya siapa duluan, ya dia di depan
Suatu hari, saya duduk ruang tunggu dokter anak, bawa anak saya. Eh tak lama kemudian, pak dokter spesialis itu datang sambil membawa tas (mungkin berisi perlengkapan dokter) dan kresek bening berisi sayuran
Ada sebutan ledekan untuk bapak-bapak yang takut istri, yaitu “zan-zalil” dan pernah ada sinetron komedi tentang para zan-zalil ini. Salah satu tokoh mengejek rekannya yang zan-zalil, eh, ternyata dia sendiri juga zan zalil. Atau bapak-bapak menjawab telpon istrinya, “Chasm, bale khanum, dar khedmat-e shoma” (baik, siap nyonya, saya siap melayani) tapi dengan ekspresi pasrah tak berdaya.
Di kehidupan sehari-hari, kalimat ini juga biasa dipakai bapak-bapak dengan sopan kepada rekan kerja perempuan (termasuk ke saya) “Man dar khedmat-e shoma” (saya siap melayani Anda). Ini ekspresi biasa, tidak memperlihatkan kelemahan, tapi penghormatan.
Suami saya juga kadang bercanda meniru gaya Irani ini, “Chasm, bale khanum, dar khedmat-e shoma” sambil pasang wajah pasrah, seolah blio ga ada pilihan selain memenuhi permintaan saya.
Tapi apakah para perempuannya merasa punya posisi lebih? Ga juga, mereka suka ngomel tentang perilaku laki-laki yang menurut mereka “ga rela kalau perempuan maju.” Suatu hari, tetangga saya (perempuan) beli mobil baru. Saya sesekali ikut naik mobilnya. Nah mungkin karena masih baru punya mobil, dia nyetirnya agak pelan. Mobil di belakang berisik mengklakson.
Temen saya ini langsung ngomel, “Dasar laki-laki, ga rela banget kalo perempuan nyetir!” Banyak lagi omelan-omelan ibuk-ibuk tentang bapak-bapak, kalau kami sedang ngumpul.
Beberapa kisah tentang perempuan Iran saya catat di buku saya “Journey to Iran: Bukan Jalan-Jalan Biasa.” Kalau minat baca, download saja e-booknya di sini: https://ic-mes.org/e-book/journey-to-iran-pdf/
———
(di web ic-mes.org sekarang ada menu E-BOOK, beberapa buku akan saya upload di sana secara berkala).
[1] paper https://dinasulaeman.wordpress.com/…/perempuan-iran…/
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.