Oleh:
Dina Yulianti
Dosen Prodi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran

Not another nickel, not another dime, no more money for Israel’s crime

FIXINDONESIA.COM – Siapa yang menyangka, akan tiba suatu hari ketika Lincoln Memorial –tempat dimana para presiden terpilih AS membacakan pidato kemenangan mereka di hadapan ratusan ribu massa—menjadi lokasi aksi demonstrasi pro-Palestina. Teriakan ‘tidak ada sepeser uangpun lagi untuk kejahatan Israel’ tadi diserukan di podium oleh seorang perempuan berkerudung.

Seorang pria kulit hitam, Anthony Lorenzo Green, aktivis gerakan Black Lives Matters, berseru, “Saya membawa pesan dari komunitas kulit hitam di Washington DC, komunitas yang ditindas setiap hari oleh polisi yang dilatih oleh militer Israel!” 

Demonstrasi di Lincoln Memorial berlangsung 29 Mei 2021, dihadiri sekitar 20.000 massa yang berasal dari berbagai ras dan agama, termasuk kaum Yahudi. Demonstrasi serupa terjadi di berbagai kota AS. Bahkan di New York, anak-anak muda Yahudi berorasi mendukung Palestina. Seorang gadis Yahudi dengan suara bergetar berkata, “Tidak ada justifikasi (pembenaran) bagi pembunuhan anak-anak di Palestina, yang dilakukan Israel, pada hari Idul Fitri.”

Di kalangan politisi, suara-suara pro-Palestina juga sangat mengemuka. Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun 2014. Pada 8 Juli 2014, Israel memulai serangan bomnya ke Jalur Gaza. Serangan itu berhenti 50 hari kemudian, tanggal 26 Agustus 2014, menewaskan 2000 lebih warga Gaza, di antaranya 326 anak-anak. Namun saat itu dunia sedang disibukkan oleh ISIS yang berada di masa “kejayaan”-nya, mengontrol sepertiga wilayah Suriah dan 40% wilayah di Irak. Aksi-aksi teror ISIS membuat opini publik teralihkan dari Palestina. Terenggutnya 2000 nyawa di Gaza tak banyak mendapat respon.

Namun kini, di tahun 2021, massa melakukan aksi demo besar-besaran di berbagai kota AS. Para politisi AS dengan berani mengecam keras Israel. Mark Pocan, menyebut Israel sebagai “penindas” dan dengan detil mendeskripsikan kejahatan Israel, yaitu pengusiran orang-orang Palestina dari rumah-rumah mereka, menyeret anak-anak Palestina ke pengadilan militer, melakukan diskriminasi dan dehumanisasi kehidupan bangsa Palestina seperti yang dulu terjadi di Afrika Selatan. Bahkan, Pocan mengatakan, “Jika Anda netral dalam situasi ketidakadilan, Anda telah memilih pihak penindas.” 

Sikap senada ditunjukkan oleh beberapa politisi lainnya, seperti Ayanna Pressley, Ilhan Omar, Alexandria Ocasio-Cortez,  Rashida Tlaib, dan Cori Bush. Senator Bernie Sanders juga menulis di New York Times, sebuah koran yang selama ini sangat pro-Israel, sebuah artikel yang mengecam Israel dan menuntut pemerintah AS agar tidak lagi membela Israel.

Apa penyebab pergeran opini publik ini? 

Alan McLeod, seorang Ph.D di bidang sosiologi, dalam artikelnya di mintpressnews.com mengutip sebuah konsep kunci dalam sosiologi dan ilmu politik, yaitu “Jendela Overton” (Overton Window) yang bisa digunakan untuk menganalisis situasi ini. Jendela Overton adalah semacam “jendela” atau kotak yang membatasi pemikiran atau ide yang dianggap berterima atau boleh dikemukakan oleh para tokoh masyarakat. Ide-ide atau pemikiran yang berbeda, yang berada di luar “jendela” dianggap tabu untuk disampaikan oleh para tokoh karena akan mengancam karir mereka. 

Namun demikian, sesungguhnya Jendela Overton dapat bergeser dan berkembang, terutama seiring pegeseran norma dan nilai di tengah masyarakat. Fenomena terbaru di Amerika Serikat menunjukkan perubahan di Jendela Overtone terkait Israel. Sebelumnya, mengecam Israel adalah tabu besar di AS. Karir seorang politisi, akademisi, bahkan jurnalis di AS bisa tamat jika berani mengecam Israel. Mereka akan dilabeli “anti-Semit” dan rasis.  

Adanya keberanian para tokoh di AS untuk mengecam Israel sebenarnya tidak muncul tiba-tiba. Ini adalah hasil perjuangan panjang berbagai pihak selama puluhan tahun. Sudah sangat banyak akademisi dan aktivis yang menulis artikel dan buku, atau melakukan orasi yang menjelaskan bahwa yang sebenarnya terjadi di Palestina adalah pendudukan dan penindasan. Antara lain, Prof Gary Finkelstein, seorang politisi dan aktivis AS keturunan Yahudi, mengatakan bahwa “penderitaan kaum Yahudi pada Holocaust sama sekali tidak bisa dijadikan justifikasi bagi penindasan Israel terhadap Palestina.”

Namun, tahun 2021 adalah zaman yang berbeda. Pandemi telah membuat banyak orang terkoneksi lebih intens dengan media sosial. Sementara itu, di Palestina, anak-anak muda dengan gagah berani merekam setiap gerak-gerik tentara Israel lalu menguploadnya ke media sosial. Mereka menghadapi resiko besar atas aktivitas ini. Tentara Israel dengan semena-mena bisa melakukan pemukulan dan penangkapan kepada mereka. Misalnya, kemarin (1 Juni), seorang gadis muda Palestina bernama Alaa Dayeh merekam tentara Israel yang sedang memukuli seorang anak. Dengan segera tentara Israel menangkapnya lalu membawanya ke penjara. Kejadian tersebut direkam oleh warga Palestina lainnya lalu diunggah ke media sosial.

Demikianlah yang terjadi secara intens sejak beberapa bulan terakhir. Dampak serbuan Israel ke Gaza juga disaksikan dari menit ke menit melalui media sosial sehingga menggerakkan sksi-aksi demo besar-besaran di berbagai kota di dunia, termasuk di Washington, tepatnya di Lincoln Memorial.  

Lincoln Memorial, pada tahun 1963, menjadi saksi saat Marthin Luther King menyuarakan protesnya atas diskriminasi dan penindasan yang dialami pada kaum kulit hitam AS. Kini di tahun 2021, para demonstran Black Live Matters di tempat yang sama, menyuarakan dukungan pada bangsa Palestina, “Orang kulit hitam tahu rasanya ditindas. Perjuangan kita saling terhubung!” ***

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh