Selamat pagi. Senin pagi, insyaAllah kita tetap penuh semangat menjalani pekan ini. Tetap yakin pada kekuatan tubuh, positive thinking, cukup tidur, dan makan sehat-bergizi.

Meski sudah berusaha menjaga mood agar stay happy, tapi sampai pagi ini saya masih sakit hati dengan penghinaan luar biasa yang dilakukan Inggris terhadap tim bulutangkis Indonesia. Terlalu banyak kejanggalannya. Kalau mereka sedemikian yakinnya bahwa pemain tanpa gejala (padahal hasil tesnya pun negatif) adalah berbahaya, seharusnya itu turnamen dibubarkan sekalian kan? Bukankah pemain bulutangkis Indonesia sudah berinteraksi dengan banyak orang dalam turnamen itu, sebelum akhirnya dipaksa mundur?

Bagaimana ya, cara “menghukum” Inggris?

Tadi malam saya membaca berita dari BBC. Menurut dokumen WHO, Inggris adalah salah satu di antara negara maju yang memblokir proposal untuk membantu negara-negara berkembang dalam meningkatkan kemampuan membuat vaksin.

Di berita itu disebutkan bahwa Inggris mengklaim sebagai “salah satu donatur terbesar dalam upaya internasional untuk memastikan bahwa lebih dari satu miliar dosis vaksin virus corona dikirim ke negara-negara berkembang tahun ini.”[1]

Artinya: “Kalian ga usah bikin sendiri, sini kami kasih sumbangan aja sedikit.Tapi sisanya beli sendiri ya!”

Salah satu riset soal c*v*d yang sangat banyak jadi rujukan adalah dari Inggris, yaitu dari lembaga penelitian bernama London Imperial College.

LIC mendapatkan dana puluhan juta USD dari Bill & Melinda Gates Foundation, dan ditugasi mengirimkan “analisis cepat atas penyakit menular” kepada WHO. Sebelumnya Ferguson juga pernah memberikan prediksi mengerikan soal berapa banyak yang akan mati akibat sapi gila, flu burung, dan flu babi. LIC dipimpin epidemiologis bernama Prof Neil Ferguson. Ferguson membuat “model” yang memprediksi bahwa kalau tidak dilakukan isolasi, lockdown, social distancing, dan penutupan sekolah/universitas, kemungkinan 500.000 orang di Inggris akan mati. Business Insider menjuluki Ferguson sebagai “Profesor Lockdown”. [2]

Pemodelan/prediksi dan “solusi” ala Ferguson ini diikuti oleh banyak negara di dunia, dirujuk oleh banyak saintis yang cuma bisa “membeo”. Dan kita sudah tahu bagaimana “bukti”-nya setelah setahun berlalu kan. Kita rakyat sudah banyak paham. Tidak perlu saya jelaskan detil. Soalnya, FB (dan para kaki tangan lokalnya) sangat galak kalau kita bicara di luar narasi “mereka”. Seminggu yll saya diblokir (tidak bisa posting) hanya gara-gara share video dua orang dokter yang mengajarkan cara membersihkan h*dung.

[Kalau tulisan ini juga diblokir, atau mungkin saja fanpage saya dihapus “mereka”, saya sudah bikin backup FP ya].

Jadi, menurut saya, cara terbaik “menghukum” Inggris adalah menolak membeli vaksin dari mereka, lalu Indonesia membuat vaksin sendiri. Mereka jelas akan rugi besar karena pasar Indonesia ini besar sekali.

Apalagi, ada masalah efek samping juga kan? Tolong diteliti dulu secara benar, bukan sekedar diteliti halal-haramnya. Italia, Jerman, Prancis, Spanyol, Portugis, Slovenia, Latvia, sudah menstop penggunaan produksi pabrik satu itu (dan jelas pertimbangan mereka bukan “halal-haram”).[3]

Apa Indonesia bisa bikin vaksin? Bisa dong. Yang bilang ga bisa dan menghalang-halangi upaya itu, perlu dipertanyakan dan dilacak, link-nya kemana?

Saya mendukung Pak Jokowi untuk mencintai produk-produk dalam negeri. Dan kalau produknya belum ada, mari kita buat. Ada sekian banyak saintis di bidang medis/farmasi di Indonesia, masa ga bisa? Dana riset juga udah jor-joran digelontorkan negara. Wahai saintis yang punya jabatan, buktikan kalau kalian benar-benar pintar, bukan cuma pintar kasih saran impor ke produsen ini atau onoh.

——

[1] https://www.bbc.com/indonesia/dunia-56466853

[2]https://www.businessinsider.com/neil-ferguson-transformed…

[3] berita 16 Maret 2021: https://www.ndtv.com/…/coronavirus-italy-france-other…

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh