Presiden Jokowi hari ini (23/9) berpidato dalam Sidang Umum PBB. Tulisan berikut ini “HI banget” dan mengungkap poin-poin penting dalam pidato Pak Jokowi, terutama komitmen Indonesia pada Palestina. Karena itu, saya rasa penting di-share ulang di sini supaya lebih banyak yang membaca. Proud of you, Mr. President! DUNIA YANG KITA IMPIKAN (Khairi Fuady, Mahasiswa Pascasarjana HI Universitas Paramadina Jakarta) “Tidak ada artinya sebuah kemenangan dirayakan di tengah kehancuran.
Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar di tengah dunia yang tenggelam”.
Kalimat di atas adalah “the key point” dari keseluruhan kalam Presiden Jokowi, yang ia sampaikan secara virtual di depan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu pagi, 23 September 2020.
Kalimat yang relatif mirip dan tetap satu nafas, dengan sambutan beliau juga ketika pada tahun 2018 lalu membuka Plenary Annual Meeting IMF-World Bank di Bali, dalam sebuah pidato yang berjudul “Winter is Coming”. Mengambil ilustrasi dari sebuah film populer yang berjudul Game of Thrones, Winter adalah ancaman bagi penduduk dunia yang menemui empat musim. Sebab pada saat winter (musim dingin), segala sesuatu menjadi “unpredictable” (tidak bisa diduga).
Dalam tradisi keilmuan Hubungan Internasional, ada mazhab pemikiran klasik yang bernama Realisme. Tokohnya ada Thomas Hobbes, Thucydides, dan Niccolo Macchiavelli. Realisme memandang bahwa sifat dasar manusia adalah jahat, greedy/rakus, dan tends to conflict/cenderung berkonflik. Mereka mengenal istilah Homo Homini Lupus, bahwa manusia adalah serigala atas manusia lainnya. Saling memakan, menerkam, dan cakar-cakaran.
Jika mengacu kepada Teori Dialektika Hegel, maka Realisme adalah tesis, yang pada perkembangannya menemui antitesisnya. Lalu lahirlah, Liberalisme. Dalam disiplin Ilmu Hubungan Internasional. Liberalisme punya asumsi dasar, kebalikan dari Realisme. Liberalis menganggap bahwa manusia pada dasarnya baik, dan “tends to cooperate each other”, cenderung bekerja sama.
Teori inilah yang kemudian secara faktual, melahirkan konsep turunannya, yakni Liberalisme Institusional. Sebuah cara pandang dengan basis semangat kolektifitas dan kolaborasi, yang dihimpun dalam sebuah wadah besar kelembagaan. Lalu lahirlah PBB 75 tahun yang lalu, yang oleh Presiden Jokowi dalam pidatonya, ia menyampaikan: “PBB dibentuk agar Perang Besar, Perang Dunia ke-II, tidak terulang kembali.
PBB dibentuk agar dunia bisa lebih damai, stabil, dan sejahtera.”
Namun demikian, dalam pidato yang berdurasi kurang lebih 10 menit tersebut, Presiden Jokowi melemparkan pertanyaan: “
Apakah dunia yang kita impikan tersebut sudah tercapai? Saya kira jawaban kita sama; BELUM. Konflik masih terjadi di berbagai belahan dunia. Kemiskinan dan bahkan kelaparan masih terus dirasakan. Prinsip-prinsip Piagam PBB dan Hukum Internasional kerap tidak diindahkan, termasuk penghormatan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah.”
Winter is really coming, sebagaimana “warning” atau peringatan yang pernah Jokowi sampaikan dua tahun lalu. Sejumlah keprihatinan di atas, menjadi semakin lengkap tatkala kini dunia sedang dirundung masalah kolektif, masalah umat manusia, yakni Wabah Pandemi Covid19. Sialnya, di saat seharusnya kita semua bersatu padu melawan pandemi, yang terjadi justru perpecahan dan rivalitas yang kian meruncing.
Presiden Jokowi mengingatkan dalam sidang yang terhormat tersebut, bahwa dalam relasi Hubungan Internasional, yang harus kita upayakan adalah senantiasa melakukan pendekatan yang win-win agar saling menguntungkan dan tidak saling menegasikan. “No one, no country should be left behind.”
Sebab, dampak pandemi ini demikian luar biasa, bukan hanya dari segi kesehatan, namun juga sosial-ekonomi. Virus ini juga tidak mengenal batas atau sekat-sekat negara. “No one is safe until everyone is,” tegas Jokowi, sehingga dunia yang damai, stabil, dan sejahtera akan semakin sulit diwujudkan.
Oleh karena itu, Presiden Jokowi berpesan agar PBB juga berbenah diri dan melakukan reformasi. PBB harus dapat membuktikan bahwa “multilateralism delivers”, termasuk pada saat terjadinya krisis. Dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk memperkuat PBB.
PBB bukan sekedar sebuah gedung di kota New York, namun adalah cita cita dan komitmen bersama untuk mencapai perdamaian dunia. Presiden juga menyinggung tentang “Collective Global Leadership” agar diperkuat di tengah relasi antar negara yang tentu akan memperjuangkan “national interest” masing-masing. Sebab tanggung jawab untuk berkontribusi dalam perdamaian dunia dan kesejahteraan umat manusia adalah tanggung jawab bersama. Sebagaimana saya teringat pernyataan Presiden Obama dalam kegiatan Kongres Diaspora Indonesia pada tahun 2017, “I don’t believe of the famous figure strong man. I believe in international order to rule the world.”
Alhasil, 10 menit pidato Presiden Jokowi tersebut, adalah 10 menit yang melegakan. Presiden sudah menunjukkan kelasnya dalam paparan sambutan yang bervisi global. Lebih-lebih, ia juga tak lupa mengingatkan warga dunia, tentang sosok presiden pertama kita, yakni Soekarno, yang pada saat memimpin dulu mampu menginisiasi sebuah pertemuan bersejarah tingkat dunia, yakni Konferensi Asia Afrika di Bandung yang melahirkan Dasasila Bandung. Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Dasasila Bandung masih sangat relevan dalam konteks kekinian, termasuk dalam hal penyelesaian perselisihan secara damai.
Jokowi dengan tegas menyampaikan, bahwa Palestina adalah satu-satunya negara yang hadir di Konferensi Asia Afrika di Bandung, namun sampai sekarang belum merasakan kemerdekaannya. Sehingga Indonesia terus konsisten memberikan dukungan bagi Palestina untuk mendapatkan hak-haknya. Sebuah tamparan sekaligus pukulan keras bagi negara-negara Arab, seperti Bahrain dan Uni Emirat Arab yang beberapa waktu lalu baru saja menormalisasi hubungan mereka dengan Israel yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Terima kasih, Pak Jokowi. We are still standing with Palestine!
(dicopas atas seizin penulis, dari https://ruangide.id/dunia-yang-kita-impikan/)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.