Sambil duduk di kafe menyelesaikan beberapa pekerjaan, saya mengintip Aljazeera. Ada tulisan bagus dari analis politik senior Aljazeera, Marwan Bishara, judulnya “The End of Saudi Era”. Tulisannya panjang banget.
Intinya: petualangan politik MBS yang “kurang ajar” (Bishara menggunakan kata “brash”) bisa jadi memperkuat kekuasaannya, tetapi hal itu justru sangat melemahkan Kerajaan Saudi Arabia (KSA). Sedemikian repotnya KSA saat ini, kata Bishara, membuat MBS kemungkinan besar akan berpaling kepada Israel. Namun, bahkan kalaupun KSA membuka hubungan diplomatik dengan Israel, KSA tidak akan bisa keluar dari keterpurukannya.
Keterpurukan ekonomi KSA antara lain gara-gara Perang Yaman yang dirancang MBS. Perang itu telah berlangsung 5 tahun. KSA telah habis ratusan miliar dollar untuk membeli senjata (dari AS, Eropa, dan Israel). Proyek perbaikan ekonomi yang digagas MBS juga mentok. Defisit anggaran menjadi-jadi. Akibatnya, dominasi KSA di kawasan juga semakin melemah.
MBS (KSA) selalu melihat Iran sebagai musuh (ini juga dikatakan Ben Hubbard, baca tulisan saya “Kisah Dua Pangeran”). Tapi, kata Bishara, alih-alih menghentikan kebijakannya yang destruktif, mengakhiri perang di Yaman, berdamai dengan Qatar, dan memperkuat persatuan Teluk dan Arab untuk menetralisasi pengaruh Iran, MBS malah memperkuat aliansi rahasia dengan Israel untuk membuka jalan menuju normalisasi penuh dengan “penjajah tanah bangsa Arab” (Bishara menggunakan frasa “the occupier of Arab lands”).
Wall Street Journal melaporkan, MBS-lah yang mendorong UEA dan Bahrain untuk menormalisasi hubungan dengan Israel, sebagai “pemanasan” untuk normalisasi Saudi-Israel yang akan segera terjadi (meski, sejauh ini, King Salman masih menentangnya).
Namun, menurut Bishara, normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan mempercepat kehancuran yang sudah nyaris terjadi. Bishara menggunakan idiom “the straw that broke the camel’s back”. Ibaratnya, sang unta sudah menanggung beban yang sangat berat, sudah nyaris tidak kuat. Ditambah satu batang jerami lagi, si unta akan tumbang.
Argumen Bishara, publik di Dunia Arab sudah sedemikian muak pada Israel. Pendudukan dan penindasan selama puluhan tahun terhadap orang-orang Palestina membuat mayoritas masyarakat Arab melihatnya sebagai ancaman bagi keamanan dan stabilitas kawasan.
Berdamai dengan Israel mungkin dipilih MBS sebagai antisipasi bila Trump kalah pemilu. Israel mungkin dapat membantu rezim Saudi melalui kekuatan lobby-nya di Gedung Putih atau Kongres AS. Tapi, Saudi akan membayarnya dengan harga tinggi, termasuk ketundukan total Saudi terhadap hegemoni Amerika dan Israel.
Selengkapnya baca sendiri saja. Saya mau lanjut kerja. 🙂

 

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh