Pada Selasa (15 Sept 2020), di Gedung Putih, Presiden Trump bersama PM Israel Netanyahu, Menlu Uni Arab Emirates (UAE), dan Menlu Bahrain menandatangani deklarasi normalisasi hubungan UAE-Israel dan Bahrain-Israel. Ini tentu saja “keberhasilan” bagi Kushner karena memang dialah pejabat senior Gedung Putih untuk urusan “perdamaian di Timteng”.
Meski baru ditandatangani resmi tanggal 15 lalu, tapi kesepakatan UAE-Israel sudah muncul sejak Agustus. Tanggal 31 Agustus, penerbangan langsung pertama UAE ke Israel (dengan melewati langit Saudi) dilakukan, dengan mengangkut Jared Kushner, serta pejabat AS, UAE, dan Israel.
Dalam wawancaranya dengan CNBC, Kushner mengatakan, “…saya pikir adalah keniscayaan bahwa Arab Saudi dan Israel akan sepenuhnya menormalisasi hubungan dan mereka akan dapat melakukan banyak hal besar bersama.”[1]
Apakah sinyal yang diberikan Kushner (bahwa Saudi juga akan membuka hubungan diplomatik dengan Israel) akan menjadi kenyataan?
Mari kembali pada buku MBS karya Hubbard (terbit Maret 2020).
Di halaman 223, Hubbard menulis, “..sangat jelas bahwa MBS memandang Israel dan konflik Israel-Palestina dengan cara yang berbeda, karena sejumlah alasan. Dia muda, pandangan politiknya lebih banyak dipengaruhi oleh Arab Spring, daripada Perang Arab-Israel dan Intifada Palestina. Ketika dia mulai berkuasa, dia melihat di sekelilingnya ada 3 ancaman, dan Israel tidak termasuk di antaranya…”
Ketiga ancaman itu, menurut Hubbard, adalah Al Qaida dan ISIS; Ikhwanul Muslimin, dan Iran.
Mungkin ada yang heran, mengapa MBS (kerajaan Saudi) menganggap Al Qaida dan ISIS sebagai ancaman, bukankah ideologi dasar negara Saudi adalah Wahhabisme dan ideologi dasar Al Qaida dan ISIS juga Wahhabisme? Pertanyaan ini pernah saya tuliskan jawabannya panjang lebar dalam artikel di jurnal ilmiah, silakan baca saja. [2]
Intinya sih: kerajaan Saudi, sebagaimana pemerintahan lain di dunia, tentu mengkhawatirkan terorisme yang berpotensi menghancurkan kerajaan. Jadi, di satu sisi, KSA memang menolak Al Qaida dan ISIS. Tapi di saat yang sama, sumber-sumber dana Saudi (tidak secara resmi dari kerajaan) tetap membiayai kelompok-kelompok radikal dan ekstrem dengan tujuan untuk melawan pengaruh Iran. Jadi, dalam hal ini, “Arab Saudi memiliki dualisme identitas untuk mencapai dua kutub kepentingan nasionalnya.”
Kembali ke buku Hubbard. Dalam kunjungannya ke AS tahun 2018, MBS juga melakukan pertemuan rahasia dengan sejulah pemimpin AS pro-Israel. Para undangan di pertemuan itu diinstruksikan untuk tutup mulut. Tapi Hubbard berhasil mengorek informasi, antara lain bahwa dalam pertemuan itu MBS mengecam para pemimpin Palestina dan seharusnya, Palestina “setuju untuk datang ke meja perundingan; bila tidak, diam dan berhenti mengeluh”. [hlm 225]
Lalu, masih di tahun yang sama, delegasi Kristen Evangelis AS datang ke istana MBS di Riyadh. Delegasi dipimpin oleh J.C. Rosenberg, seorang tokoh Yahudi berkewarganegaraan ganda (AS dan Israel), dan anaknya menjadi tentara Israel.
Rosenberg saat ditanyai Hubberd menjawab, “Dia cukup jujur, sejumlah pernyataannya cukup mengejutkan.. tapi dia minta agar pernyataannya itu tidak diungkap ke publik.”
Hubbard mengutip Rob Malley, pejabat senior Gedung Putih di masa Obama yang masih terus berhubungan dengan MBS. Malley berkata, “MBS berasal dari generasi pemimpin Saudi yang tidak punya hubungan mendalam dan emosional dengan perjuangan Palestina. …MBS memandang konflik Israel-Palestina sebagai problem yang mengganggu dan harus diselesaikan, bukan sebagai koflik yang harus diselesaikan secara adil.”
Hubberd memperkirakan, bila kepemimpinan Saudi dilanjutkan oleh MBS yang tidak memandang Israel sebagai musuh, kemungkinan “penyusunan kembali” tatanan Timur Tengah akan terjadi.
**
Demikianlah sedikit cerita dari buku MBS: The Rise to Power of Mohammed Bin Salman karya Ben Hubbard. Sekarang “emak-emak kurang kerjaan” ini akan ke “lapangan”, cari kerjaan yang ada duitnya, biar setrong menghadapi kenyataan hidup 😀 😀 😀
—–

 

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh