(1) Tadi malam, ada bapak-bapak fesbuker ghibahin saya, menyebut saya “emak-emak kurang kerjaan”. Saya pikir-pikir, bener juga dia bilang: kalau banyak kerja mana mungkin sempat nulis di fanpage ini, ya kan? Udahlah gratisan, dibully pulak. Benar-benar kurang kerjaan. 😀 😀 😀 Nah untuk semakin membuktikan bahwa saya “kurang kerjaan” (hahaha…), saya akan menulis beberapa catatan dari buku “MBS” karya Ben Hubbard.
Sebagai jurnalis yang lama malang-melintang di Timur Tengah, termasuk di Saudi, Hubbard punya banyak jalur untuk mengorek informasi dari “orang dalam”. Karena itulah isi bukunya banyak mengungkap hal-hal yang tidak diketahui publik sebelumnya. Yang saya catat tentu bagian yang menarik buat saya. Kalau ada yang ingin “pemahaman utuh”, silakan beli saja bukunya di Amazon.
Salah satu kisah “menarik” adalah mengenai persahabatan ganjil di antara dua pangeran: MBS (Mohammad bin Salman, anak Raja Salman) dari Saudi dan Jared Kushner, “pangeran” Yahudi asal New Jersey. Kushner adalah menantu Trump. Trump bukan Yahudi, tapi Kushner adalah anak dari pengusaha Yahudi yang sangat kaya raya.
Di bab berjudul “Sahabat Sejati di Gedung Putih” diceritakan bahwa pada masa kampanye, Trump mengucapkan sangat banyak kata-kata buruk terhadap Islam, Muslim, dan pemerintah Saudi. Tapi, Trump juga berkata, Saudi membutuhkan AS untuk melindunginya, jadi kata Trump, pertanyaannya adalah “How much will Saudi Arabia pay us to save them?” [berapa banyak Saudi mau bayar kita?]. Di medsos juga beredar video Trump mengucapkan kalimat ini.
Segera setelah Trump menang pilpres, delegasi pejabat Saudi datang ke New York untuk mencari peluang kerjasama dengan pemerintah baru. Mereka membawa proposal yang antara lain berisi penawaran: (1) pembentukan koalisi militer negara-negara Islam yang akan terdiri dari puluhan ribu tentara dan selalu siap sedia kapan saja Presiden Trump mau mengerahkannya; (2) wilayah dagang (trade zone) dan pangkalan militer di pantai Laut Merah; (3) kerjasama AS-Saudi dalam “perang melawan ekstremisme”.
Selain itu Saudi juga menjanjikan uang 50 miliar USD dalam jangka waktu 4 tahun untuk “pertahanan” [pembelian senjata, dll], Saudi berjanji akan berinvestasi bisnis di AS sebesar 200 miliar USD. Dll. Kedatangan delegasi Saudi ini ditutup dengan undangan agar Trump datang ke Saudi.
MBS dan Khusner, diceritakan oleh Hubbard, berkali-kali melakukan pertemuan informal, antara lain di kemah di padang pasir, serta saling bertukar pesan secara langsung lewat WhatsApp dan platform lain; padahal seharusnya, kontak antara dua petinggi ini dilakukan lewat sambungan khusus yang aman dengan menggunakan penerjemah resmi. Hubbard tidak kasih bocoran, apa saja isi WA di antara keduanya, kecuali bahwa mereka “bertukar emoji” di WA.
Keeratan hubungan antara kedua pangeran ini semakin terlihat saat Maret 2017 MBS datang ke Washington. Koordinasi kunjungan dilakukan langsung oleh keduanya lewat WA, bukan lewat protokol Gedung Putih. Kushner memaksa protokol Gedung Putih agar memberikan sambutan khusus untuk MBS, karena meskipun saat itu MBS bukan pemimpin negara, bukan pula putra mahkota [‘hanya’ anak raja; putra mahkota saat itu dijabat MBN – Mohammed bin Nayef, sepupu MBS].
Desakan Kushner berhasil: MBS diterima oleh Presiden Trump di Oval Office (kantor presiden) dan mengikuti jamuan makan siang kenegaraan.
Hubbard juga mendapatkan informasi dari “orang dalam” bahwa Kushner meminta pejabat intelijen agar mengatur proses suksesi di Saudi, agar MBS naik jadi putra mahkota, menggantikan MBN. [Di bab lain buku ini juga dibahas bagaimana intrik-intrik yang terjadi sampai akhirnya MBN tersingkir dan MBS naik jadi putra mahkota].
Upaya lobi Kushner-MBS akhirnya berhasil: Trump memilih Saudi sebagai negara yang pertama kali dikunjunginya sebagai presiden. Pada Mei 2017, Hubbard datang kembali ke Saudi untuk meliput kunjungan Trump. Di berbagai sudut kota dan jalanan Riyadh, bendera AS dan Saudi berkibar-kibar. Baliho foto Trump dan King Salman dengan tulisan “Bersama Kita Menang” dipasang di mana-mana. Berbagai hiburan digelar untuk menyambut delegasi AS, mulai dari pertunjukan mobil klasik, terjun payung, balap mobil. Juga ada pertunjukan musik Toby Keith yang menyanyikan lagu-lagu, seperti “Beer for My Horses”.
Ketika pesawat Air Force One mendarat di Riyadh, King Salman sudah menunggunya di karpet merah. Dalam pidato kenegaraannya, Trump memuji-muji Saudi dan Islam [kontradiksi dengan ucapannya saat kampanye]. Trump menyerukan perang melawan terorisme, dan mengecam Iran sebagai “pelindung teroris”. Tentu saja, yang dimaksud “teroris yang dilindungi Iran” oleh Trump adalah para pejuang Palestina dan Hizbullah (milisi Lebanon yang berperang melawan pendudukan dan agresi Israel di Lebanon selatan).
Dalam kunjungan itu ditandatangani kontrak pembelian senjata sbeesar 110 miliar dollar, termasuk bom tepat sasaran [precision-guided bomb] yang dipakai untuk membombardir Yaman.
Dalam pidatonya saat tanda tangan kontrak, Trump menyatakan terima kasih pada Saudi. Kata Trump, kontrak ini akan mendatangkan investasi ratusan miliar dan lapangan kerja (“hundreds of billions of dollar of investments into the United States, and jobs, jobs, jobs.”)* [bersambung] — *bisa lihat videonya di sini: https://www.facebook.com/FoxNews/videos/10155440841446336/
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.