Dalam pidatonya beberapa hari yll, Trump berkata, “AS tidak akan berada di Timteng kalau bukan demi melindungi Israel”.
Pengamat politik internasional sudah tahu hal ini. Para akademisi AS sendiri sudah tahu dan sebagian ada yang berani mengkritik kebijakan luar negeri AS yang boros biaya di Timur Tengah. Uang pajak rakyat dipakai untuk Israel, akibatnya banyak subsidi dan layanan publik yang terpaksa dicabut.
Misalnya, baca tulisan para akademisi HI seperti Mearsheimer& Walt, atau Robert Gilpin. Gilpin jelas menulis bahwa perang Irak [yang sebenarnya sangat merugikan rakyat AS itu dan dimulai dengan narasi bohong soal senjata pembunuh massal] didorong oleh kubu neokon dan fundamentalis Kristen, demi keamanan Israel.
Siapa itu neokon/neokonservatif?
Mantan Menhan AS, Collin Powell dalam buku biografinya, “Soldier”, menyebutkan bahwa perang Irak didukung oleh kubu neokonservatif di Kemenhan AS. Kubu neokon ini hampir semuanya orang Yahudi yang memandang bahwa perang menggulingkan Saddam adalah agar terbentuk “pemerintahan demokratis” yang akan memutuskan hubungan dengan Palestina, agar keamanan Israel terlindungi.
Dalam sebuah text-book terbitan Routledge berjudul “International Relations of the Contemporary Middle East” (ed: Ismael&Perry) disebutkan dengan detil betapa kebijakan luar negeri AS sangat dipengaruhi organisasi-organisasi lobby Yahudi yang pro-Israel. Setiap tahunnya AS memberikan dana hibah minimalnya 3 miliar Dollar untuk Israel.
Saya kutip satu paragraf:
“Pengaruh lobi Israel di AS sebagian besar disebabkan oleh rendahnya pemahaman masyarakat umum tentang peristiwa di Timur Tengah. Masyarakat Kristen Amerika telah digiring untuk memandang konflik Arab-Israel ke dalam konteks “penganiayaan orang Barat masa lalu terhadap orang Yahudi”, alih-alih sebagai bentuk kolonialisme Barat [di Timteng]. Sebagian yang lain memandang Israel saat ini sebagai “penggenapan nubuat Alkitab.” Beberapa pengkhotbah berpengaruh telah mengembangkan kekuatan politik ini dengan demonisasi Muslim [=mencitrakan Muslim sebagai kekuatan setan] dalam narasi “akhir zaman”; dimana negara Israel adalah syarat awal kembalinya Kristus.”
Note: Routlegde ini penerbit sangat bonafid di dunia akademis. Jadi, yang saya kutip ini buku teks akademik ya. Ini perlu saya beritahukan karena ZSM suka sekali memframing bahwa kubu pro-Palestina adalah kaum radikal yang membela Palestina karena “kebencian berdasarkan agama.”
Padahal dari uraian ini coba lihat, siapa sebenarnya yang pakai agama untuk menjustifikasi penjajahan? Saya yakin, umat Kristiani yang sejati akan menolak penjajahan dan kejahatan. Tapi, sebagaimana juga ada dalam Islam, di Kristen ternyata juga ada kaum fundamentalisnya. Dan agaknya, mereka inilah di Indonesia yang menjelma jadi ZSM. Kalau kita bela Palestina, mereka suka menghina, mengatai “radikal”. Tapi kalau sudah terpepet dalam debat yang pakai argumen logis dan pakai hukum internasional, mereka duluan yang bahwa Alkitab [dengan tafsir versi mereka tentu saja]. Dubes Israel untuk PBB juga bawa-bawa Alkitab saat pidato di Sidang PBB.
Di video ini, Trump mengucapkan fakta yang sebenarnya sangat gamblang itu: “AS tidak akan berada di Timteng kalau bukan demi melindungi Israel”.
Bedanya Trump dengan Presiden-Presiden AS sebelumnya: Trump blak-blakan mengungkap kejahatan AS, sementara yang lain menutupinya dengan gaya-gaya diplomatik.
Misalnya, Obama, yang kelihatan gentleman itu, dalam 1 tahun saja (2016), telah menjatuhkan 26,172 bomb di 7 negara (Irak, Suriah, Afghanistan, Libya, Yaman, Somalia, dan Pakistan) atau rata-rata 3 bom setiap jam. Bayangkan berapa banyak bom yang dijatuhkannya di Timteng selama 8 tahun masa pemerintahannya.
Apa tujuan Obama membombardir Timur Tengah? Trump sudah memberikan jawabannya: demi melindungi Israel.
Dan itu pula yang dilakukan Trump. Selama masa pemerintahan Trump, AS juga membombardir Timur Tengah dengan masif. Demi Israel.

 

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh