Dear netizen. Berikut ini saya sampaikan sedikit catatan “lapangan” [yaitu lapangan medsos :)] soal perkembangan mencurigakan yang saya dapati akhir-akhir ini.
Saya flash back dulu ya, biar paham konteksnya. Begini, sejak Perang Suriah dimulai, ada satu faksi (di dalamnya ada banyak kelompok, antara lain HTI dan ormas-ormas IM) yang aktif sekali melakukan propaganda anti-Syiah. Tujuan utama adalah untuk mendukung “jihad” mereka di Suriah (baik rekrutmen petempur maupun penggalangan dana). Supaya orang mau merogoh kocek dalam-dalam, dibuatlah berbagai hoax soal kebejatan Syiah di Suriah.
Sejalan dengan itu, supaya narasi mereka semakin menggaung di Indonesia, mereka menyerang komunitas Syiah di Indonesia. Muncullah organisasi bernama ANNAS (Aliansi Anti Syi’ah). Orang-orang ANNAS ya itu lagi-itu lagi (sama dengan mereka yang mendukung “jihad” Suriah).
Padahal, MUI Pusat pun saat diwawancarai BBC menyatakan MUI tidak melarang Syiah. [1] Mufti Mesir, Syekh Ali Jum’ah, pun menyatakan Syiah adalah salah satu mazhab dalam Islam.[2] Deklarasi Amman di Jordania yang ditandatangani ratusan ulama terkenal dari berbagai negara (termasuk KH Hasyim Muzadi dan KH Din Syamsudin) juga menyatakan Syiah adalah mazhab sah dalam Islam.[3]
YANG PENTING DICATAT: faksi yang menyebarkan narasi anti-Syiah secara masif sejak perang Suriah, adalah faksi yang sama, yang menggalang aksi 212, yang menyuarakan narasi “PKI bangkit lagi”, yang suka menuduh pemerintah pro PKI dan pro China. Dalam Pilpres 2014 dan 2019, faksi ini juga yang memanfaatkan pesta demokrasi kita sebagai wahana adu domba dan penebar kebencian. Padahal setelah Pak Jokowi menang, Pak Prabowo tetap bersedia bekerja sama dan bersedia jadi menterinya Pak Jokowi.
Jika kita melihat rentetan kejadian ini dengan KACAMATA POLITIK, jelas sekali kok, segala jenis narasi mereka ini sebenarnya satu paket. Supaya tidak bingung, di tulisan ini saya kasih istilah mereka ini FAKSI RADIKAL
Nah… alhamdulillah, kebohongan FAKSI RADIKAL soal Perang Suriah semakin terbongkar. Rakyat Indonesia semakin sadar dan waspada atas bahayanya faksi ini. Upaya-upaya melawan radikalisme semakin menguat. HTI (salah satu anggota “faksi radikal”) bahkan akhirnya dibubarkan pemerintah.
Eee.. akhir-akhir ini tiba-tiba saja, di awal bulan Muharam ini, ketika umat Sunni maupun Syiah sedunia (bukan cuma di Indonesia ya) memperingati Tragedi Karbala (atau “Asyura”) beberapa influencer di medsos bikin status-status provokatif: mengejek keluarga Nabi “ngapain kalian mengikuti pecundang perang [Karbala] yang ngungsi ke Indonesia?”, atau “Asyura itu kan tawuran dua kelompok yang sama-sama mengaku membela Tuhan?” atau “Asyuro itu kan Syiah, Syiah sama aja sama HTI, sama-sama mendukung “khilafah”, dll.
Padahal Prof Nadirsyah Hosen [ulama Aswaja, NU] sudah bikin vlog, bercerita panjang lebar soal Asyura. [4] Yang beliau sampaikan jelas beda dengan para influencer koplak itu, yang ilmunya jelas jauh di bawah Gus Nadir.
Lalu, puncaknya, TV One yang selama Pilpres (dan selama Perang Suriah) terlihat jelas narasinya berpihak ke sebelah mana, tiba-tiba saja membuat liputan soal peringatan Asyuro di Indonesia, tapi yang diwawancarai adalah dua ustad FAKSI RADIKAL itu. Padahal ada sangat banyak narsum yang bukan Syiah, tapi lebih mumpuni ilmunya.
Saya tidak mau bahas soal isu teologis yang dibahas oleh para narsum di liputan itu (karena saya bukan ahli teologi). Yang jelas, sudah ada ustad muda, Ismail Amin, yang membantah pernyataan-pernyataan dua ustad FAKSI
RADIKAL ini lewat channel youtube.[5]
Kalau saya, seperti saya bilang tadi: PAKAI KACA MATA POLITIK.
Sebagai pengamat Timteng, dosen studi HI, dan sudah menulis 2 buku tentang Suriah (Prahara Suriah dan Salju di Aleppo), saya punya analisis “lapangan” seperti ini:
1. Sedang ada upaya adu domba di tengah publik dengan menggunakan isu Sunni-Syiah. Pola sama di awal Perang Suriah mau dipakai lagi.
2. Tujuannya apa? Menurut saya, tujuannya berlapis-lapis. Tujuan jangka pendek, membuat kegaduhan di masyarakat di saat bangsa ini sudah sepakat mau melawan radikalisme. Mereka ingin mengalihkan perhatian publik dari gerakan radikalisme, ke pihak lain yang mereka citrakan sebagai musuh/berbahaya (kadang yang diangkat China/komunis, kadang Syiah, kadang Jokowi). Tujuan jangka menengah adalah berusaha menjauhkan Indonesia dari China dan Iran. Tujuan jangka panjang adalah konflik semakin meluas agar terjadi balkanisasi Indonesia (Indonesia dipecah jadi beberapa negara terpisah).
3. Cara mendeteksi siapa aktor “lapangan”-nya sebenernya gampang. Kalau FAKSI RADIKAL sudah jelas yang mana ya. Tapi ada faksi lain, yang seolah tidak terlibat tapi sebenarnya aktif menyebar pengaruh (atau bekerja di balik layar, mempengaruhi influencer dari kelompok moderat). Ciri-ciri mereka biasanya: suka bicara soal Papua Merdeka, tapi juga sok-sokan “berjuang melawan radikalisme”, sekaligus pro-Israel. Mereka seolah beda dengan FAKSI RADIKAL tapi sebenarnya sama-sama instrumen “Imperium”. Nah, bawa dua jenis aktor ini ke Suriah, lihat siapa yang bermain di Suriah. Dari sisi narasi dan karakteristik aktor: sama persis. Target mereka di Suriah pun adalah Balkanisasi (pemecahan Suriah menjadi negara-negara kecil).
Demikian, semoga teman-teman semua yang moderat dan pro-NKRI memahami pemetaan “lapangan” ini. Pasang nurani dengan tajam saat baca status-status orang, “read between the lines”. JANGAN MAU DIADU DOMBA. Mari kita jaga negeri ini baik-baik.
Terakhir, kalau ada yang kenal sama Babeh Haekal dan Zaitun Rasmin, saya nitip video ini ya. Di video ini, Presiden Erdogan sedang memberikan pidato dalam acara peringatan Asyuro di Turki. Cuma orang gila yang mengatakan Presiden Erdogan sebagai Syiah.
Video bersubtitle: pinjam dari channel Sahara

 

dinasulaeman Avatar

Dipublikasikan oleh