Karena nanti siang ada webinar “Jejak HTI dan Klaim Khilafah di Nusantara”, saya “iseng” menulis catatan kritis atas kalimat-kalimat di beberapa menit film ini (capek atuh kalau semuanya). Tapi kalimat-kalimat awal ini penting, karena di sinilah premisnya. Saya ingin menunjukkan: kita yang bukan sejarawan pun, asal kritis, sebenarnya bisa kok menemukan keanehan dari para “sejarawan” di film ini. Jadi, biasakan berpikir kritis ya. ** NARATOR 9:35: “Hubungan diplomatik dan komersial pun terjalin dengan sejumlah kerajaan dari India sampai China. Antara lain ada dokumen di China, telah datang utusan khilafah ke China tahun 651 M, dimana tahun tersebut adalah masa Khalifah Ustman bin Affan. Hubungan khilafah dengan Dunia Timur terus berlanjut sampai khilafah beralih kepemimpinannya di bawah otoritas Bani Umayyah. Apabila hubungan khilafah dan kekaisaran China sudah terjalin sejak masa Khulafaur Rasyidin melalui jalur laut, TENTULAH utusan khilafah akan melalui wilayah Nusantara.”
KOMENTAR: Perhatikan, narator pakai kata “tentulah”, artinya: ini hanya pengambilan kesimpulan berdasarkan logika. Sebenarnya sah-sah saja (di kalimat ini ya). Tapi yang perlu dicatat: utusan khilafah itu “hanya lewat” lho ya..
Selanjutnya, di 11:02 muncul narasumber yang disebut sejarawan, Moeflich Hasbullah. Dia bercerita bahwa raja di Kerajaan Sriwijaya dua kali menulis surat ke Dinasti Umayyah. Kata Moeflich, “..yang menunjukkan surat-menyurat abad itu yang menujukkan ada hubungan kekhilafahan dengan Nusantara dan secara historis sangat logis, superpower saat itu adalah khilafah.”
KOMENTAR: Betul, sangat wajar kalau ada hubungan surat-menyurat antarpemerintahan di dunia. Yang salah adalah kalau “korespondensi” ini diklaim sebagai “Sriwijaya menjadi bagian dari Khilafah” (dan Moeflich memang tidak bilang demikian).
NARATOR 11:34 : “Surat dari Maharaja Sri Indrawarman (Sriwijaya) ke khilafah Umayyah di Damaskus, yang saat itu dipimpin Umar bin Abdul Aziz…” [Pada 12:01 suratnya itu –bahasa Arab- dibacakan, anehnya, tanpa dikasih arti. Isi surat itu bukan pernyataan baiat, tapi surat pengantar hadiah.]
Setelah pembacaan surat ini, tanpa ada premis (hanya cerita ada surat-menyurat), kalimat selanjutnya adalah muncul konklusi dari si NARATOR: “Maka di bawah kepemimpinan Sang Khalifah Umar bin Abdul Azis, khilafah menyebarkan rahmatan lil alamin ke segala penjuru dunia.”
13.00 Moeflich muncul lagi. Dia beranalogi “seperti sekarang, AS atau Eropa superpower dan berhubungan dengan semua negara di dunia karena dominasi ekononomi-politik” maka “saat itu penguasa atau super power adalah Dunia Islam dan institusi politiknya adalah khilafah Islam, maka sangat logis kalau ada relasi dengan berbagai negara.”
KOMENTAR : di sini Moeflich jelas bicara soal relasi dan komunikasi, BUKAN PENGUASAAN Khilafah atas kerajaan di Nusantara.
13:24 (setelah kalimatnya Moeflich), narator langsung pindah ke peristiwa serangan Mongol.
NARATOR: “Tahun 1258 dari arah timur datanglah segerombolan pasukan yang mengerikan..berkulit kuning… dst –inilah pasukan Mongol yang datang dari China..”
KOMENTAR: terjadi “lompatan sejarah” di sini. Kan cerita sebelumnya adalah bicara tentang Khalifah Umar Bin Abdul Azis (Umayyah), lalu ujug-ujug masuk ke serangan Mongol. Padahal, dinastinya sudah beda, yaitu Dinasti Abbasiyah, dan di sini tidak disebutkan secara eksplisit oleh narator. Juga, tidak diceritakan, bagaimana proses perpindahan Dinasti itu? Prof. Nadirsyah Hosen sudah banyak cerita soal proses suksesi di dua Dinasti ini (baik suksesi di antara sesama anggota dinasti, maupun saat perebutan kekuasaan dari Umayyah ke Abbasiyah): penuh pertumpahan darah. Penggal, bunuh, bakar, itu sudah biasa. Sounds familiar dengan kejadian akhir-akhir ini di Suriah ya? Bedanya, dulu bom belum ditemukan.
13:47 Nicko Pandawa (sutradara) muncul, mengatakan, ”Khalifah Al Musta’shim dibunuh oleh Hulagu Khan, Mongol. Pasca penaklukan Baghdad, Baghdad jadi kota kosong. Keluarga Dinasti Abbasiyah lalu mengungsi ke Hijaz, Nejed, Mesir, dan ada satu keturunannya yang mengungsi ke Aceh. Saat itu yang berkuasa di Aceh adalah Samudera Pasai.”
Adegan pindah ke Aceh. Narator menyebutkan, ada 3 keturunan Abbasiyah yang dimakamkan di Aceh, salah satunya “Sidi Abdullah”. Lalu muncul satu narsum bernama Sukarna Putra yang intinya mengatakan “Kakek buyut Abdullah ini adalah Al Mansur, Khalifah Abbasiyah.”
Lalu kembali ke Nicko mulai 16:10. Nicko: “Bapaknya Abdullah ini, yang dikubur di Aceh ini, ayahnya tenyata jadi Gubernur di India dan Ibnu Batutah mencatat, Sultan-Sultan di India begitu taat pada keturunan khalifah Abbasiyah ini.”
Nicko: “INI MENGINDIKASIKAN bahwasanya Sultan-Sultan India ini begitu memuliakan dan mereka di satu riwayat lain juga membaiat pada Khalifah Abbasiyah yang ada di Mesir. Sementara, Kesultanan di India punya hubungan erat dengan Samudera Pasai. Di sini kita bisa MENDUGA KUAT bahwa Samudera Pasai juga berbaiat pada Abbasiyah.”
KOMENTAR: catet ya..dia bilang “MENDUGA”.. lalu, “riwayat lain” itu, riwayat siapa?
17:32, pindah lagi ke Sukarna Putra. Kalimatnya begini (saya transkrip utuh): “Samudera Pasai pada saat itu berbaiat pada Dinasti sebelum Ustmaniyah berkuasa, yaitu kita menduga dan meyakini hal tersebut sesuai fakta2 yang kita temukan di lapangan bahwa Madinatus-Sumatera ataupun Jaziratu-Jawi, eee… Samudera Pasai itu berbaiat langsung kepada Dinasti Abbasiyah.”
[Supaya gampang paham, kalimat Sukarna setara dengan ini: “Bu Tejo makan apel karena fakta-fakta di lapangan ditemukan bahwa Bu Tejo makan apel”. Paham ya, anehnya dimana? Si narsum ga kasih tahu faktanya apa, cuma klaim].
Mulai 18:02-19:14, ini saya transkrip utuh kata-kata si narator. NARATOR: “Sultan Zainal Abidin bin Ahmad bin Malikus Zahir bin Malikus Saleh, penguasa Pasai di masa Sadrul Akabir Abdullah al Abasi [ini turunan Abbasiah yang mengungsi tadi] menyatakan baiatnya kepada Khalifah Al Mutawakil Alallah di Kairo di awal abad ke-15. Begitu pula sebelumnya Sultan Muhammad bin Tulnuk di Delhi, diikuti oleh Sultan Muhammad Jalaludin di Bengali, dan penguasa Dinasti Usmaniyah di Turki, Sultan Bey Yazid pertama. SELURUH SULTAN DI DUNIA ISLAM menyatakan baiatnya kepada khilafah Abbasiyah. Semenjak gelombang Badai Mongol berhasil dihentikan oleh pahlawan-pahlawan Mamluk pusat khilafah Abbasiyah kini berpindah ke Kairo Mesir dan menjadi magnet kaum muslimin global.”
NARATOR: “Dari pusat khilafah inilah dakwah Islam mulai bangkit kembali dan menggencarkan aktivitasnya dengan mengirim juru dakwah ke seluruh penjuru alam. Dengan Samudera Pasai yang mendaulatkan dirinya sebagai Daarul Islam yang berbaiat kepada Khalifah, Samudera Pasai mengemban tugasnya mengubah Asia Tenggara dari Daarul Kufri menjadi Daarul Islam.”
Untuk kalimat-kalimat akhir ini, saya harap pengunjung fanpage ini yang mendalami sejarah ikut komen ya, agar memperkaya wawasan kita semua.
KOMENTAR saya (didasarkan pada kalimat-kalimat di film ini sendiri): mengapa ujug-ujug diklaim bahwa Samudera Pasai berbaiat pada Khilafah di Kairo? Apa buktinya? Seperti saya tulis di atas, kalimat-kalimat sebelumnya di film ini tidak memaparkan buktinya, umumnya pakai kata “tentunya” dan “sudah ada komunikasi” lalu ujug-ujug diklaim “baiat”. Surat kerajaan Sriwijaya yang dibacakan di menit 12:01 juga tidak ada pernyataan baiat.
Lalu disebutkan SELURUH SULTAN DUNIA ISLAM. Apa benar SELURUH? Yang dimaksud DUNIA ISLAM itu yang mana? Apakah Nusantara saat itu bisa digolongkan pada DUNIA ISLAM? Apakah SEMUA SULTAN di Nusantara berbaiat pada rezim di Kairo? Maaf ya, kalau di naskah akademik, kalimat-kalimat klaim semacam ini akan dicoret-coret sama editor.
Intinya begini, kalau premis sudah kedodoran (seperti saya tulis di atas), konklusinya juga pasti kedodoran dan bukan kesimpulan yang valid. Semoga bisa dipahami dan ada gunanya.
#SayaIndonesiaSayaPancasila
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.