Kehadiran Dubes Palestina di acara KAMI, yang merupakan aksi politik domestik, jelas melanggar etika diplomatik. Kita tunggu saja, gimana ujungnya: apa si Dubes diusir dari Indonesia, atau sekedar dipanggil oleh Menlu lalu dia minta maaf, atau apa. Yang membuat saya miris adalah komen-komen para ZSM. Ini kesempatan emas buat mereka untuk menjelek-jelekkan Palestina: ga tau diri, padahal sudah dibantu.. stop aja bantuan untuk Palestina, dasar kadrun.. dst.
Juga, ini jadi kesempatan buat mereka untuk menyamakan kubu PPNR (Pro-Palestina tapi Non-Radikal) dengan kelompok radikal. Buat yang belum tahu, yang membela Palestina itu banyak ya, bukan cuma kelompok radikal. Selain kaum Muslim moderat, kaum Kristiani dan bahkan Yahudi-non Zionis pun banyak yang mendukung Palestina. Aksi-aksi boikot produk Israel bahkan lebih banyak dilakukan di negara Barat, dibandingkan di negara-negara Muslim (aksi BDS – Boycott, Divestation, Sanction).
Kelompok-kelompok radikal yang saya maksud: yang selama 9 tahun terakhir berisik sekali menyuarakan narasi intoleran terhadap saudara sebangsanya, sekaligus menyerukan “jihad” ke Suriah, menyumbang dana via organisasi pengepul dana yang tercepat menanggapi, atau bahkan yang paling ekstrim, bergabung dengan ISIS, Al Nusra, Jaish al Islam, dll (=kelompok turunan Al Qaida dalam berbagai nama baru).
Memang betul, mereka itu selama ini menyuarakan pembelaan pada Palestina. Tapi Perang Suriah membuktikan, mereka omong kosong belaka. Soalnya, kalau benar membela Palestina, seharusnya mereka menjaga Suriah, bukannya melakukan aksi-aksi terorisme membantai warga Suriah. Suriah itu benteng terakhir perlawanan terhadap Israel (Suriah-Israel-Palestina berbatasan darat). Logistik makanan dan senjata untuk pejuang Palestina, masuk lewat Suriah. Jutaan pengungsi Palestina diperlakukan dengan layak seperti warga asli, di Suriah.
Jadi kalian-kalian yang mengaku bukan radikal, tapi malah memanfaatkan blunder Dubes Palestina ini untuk mengejek perjuangan bangsa Palestina dan menyerukan agar Indonesia berhenti membela Palestina, kalian sebenarnya sudah membuka topeng kalian sendiri. Sebagaimana kaum radikalis juga sudah terbuka topengnya: memanfaatkan Palestina untuk kepentingan kelompok mereka sendiri.
Ingat ya, membela Palestina adalah amanah UUD 45: “penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”.
Kalau ada orang Palestina yang bloon dan blunder; kalau ada faksi Palestina yang memanfaatkan konflik untuk kepentingan pribadi, itu tidak bisa dijadikan alasan untuk berhenti mendukung perjuangan bangsa Palestina membebaskan diri dari penjajahan, aneksasi, perampasan rumah dan kebun, pemenjaraan semena-mena, bombardir dengan jet tempur tercanggih buatan AS, yang terus terjadi sampai hari ini.
Karena, itu sama saja menyatakan bahwa dulu perjuangan bangsa Indonesia mengusir penjajah juga salah. Bukankah dulu juga banyak pribumi yang jadi antek Belanda atau mengambil keuntungan dari perang?
#VivaPalestina #PanjangUmurPerjuangan
—–
Note: untuk yang belum tahu: ZSM = Zionis Sawo Matang, julukan untuk orang Indonesia yang selama ini mengaku moderat/antiradikalisme, tapi langsung keluar tanduknya kalau radikalisme dan terorisme Israel diusik. Buat mereka, Israel adalah negara suci yang harus dibela, atas dasar Alkitab versi mereka (atau, kalau si ZSM ini Muslim, biasanya, ngakunya, “atas dasar toleransi beragama”).
—
Foto: Rachel Corrie, aktivis International Solidarity Movement (asal AS), yang gugur dilindas buldozer Israel, di Gaza, tahun 2003.
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.